PAMEKASAN, RadarMadura.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Pamekasan mencatat angka kemiskinan di Kota Gerbang Salam mengalami penurunan yang signifikan.
Dari yang sebelumnya 13,44 persen di 2024 turun menjadi 12,77 persen pada 2025.
Data tersebut menunjukkan penurunan sebesar 0,64 persen atau berkurang 4,94 ribu orang miskin dalam setahun.
Jumlah penduduk miskin di Pamekasan yang semula 123,46 ribu jiwa, kini hanya tinggal 118,52 ribu jiwa.
Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman menyebut, capaian tersebut melampaui prediksi BPS yang sebelumnya memperkirakan penurunan baru akan terjadi pada 2027.
Keberhasilan ini berkat sinergi kuat antara pemerintah daerah dengan masyarakat.
”Penurunan angka kemiskinan ini menunjukkan apa yang sudah pemerintah lakukan mulai membuahkan hasil. Ini patut disyukuri,” kata Bupati Kholil.
Dengan turunnya angka kemiskinan itu, Pamekasan menempati posisi sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan terendah di wilayah Madura.
Hal ini mencerminkan efektivitas program pembangunan dan pemberdayaan yang dicanangkan berjalan dengan baik.
”Jadi tidak harus menunggu 2027. Kami meyakini Pamekasan dari tahun ke tahun, bulan ke bulan semakin baik,” tegasnya.
Mantan anggota DPR RI itu menyebut, masifnya pabrik rokok lokal menjadi pendorong utama penurunan kemiskinan di Pamekasan.
Sebab, dapat membuka dan menyerap banyak tenaga kerja dan secara otomatis meningkatkan ekonomi masyarakat.
”Beberapa tahun belakangan, harga tembakau di petani juga relatif stabil dan itu berdampak positif terhadap ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Atas dasar itulah, orang nomor satu di Pemkab Pamekasan itu berkomitmen untuk terus mendorong dan menggenjot peningkatan investasi ke depan. Salah satunya dengan menjaga kondusivitas daerah supaya investor merasa aman dan nyaman menanamkan modal.
”Kalau pada saat ini hanya ada tiga kelas untuk cukai, mungkin perlu ditambah dan diusulkan cukai kelas empat. Sehingga, perusahaan rokok lokal, skala kecil, bisa diberi perlindungan yang maksimal,” pungkasnya.
Pengamat kebijakan publik, Wilda Rasaili, mengingatkan pemerintah agar tidak cepat berpuas diri atas keberhasilan yang telah dicapai.
Dosen Politik dan Kebijakan Universitas Wiraraja Madura itu menekankan pentingnya evaluasi berkala serta inovasi terus dikembangkan.
”Sehingga, capaian positif tersebut dapat berkelanjutan dan dirasakan secara nyata oleh seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya. (lil/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti