PAMEKASAN, RadarMadura.id – Persoalan pembagian rapor di SDN Gladak Anyar 2, Pamekasan, berbuntut panjang.
Hingga kini, sebanyak 60 siswa kelas IV-A dan IV-B belum menerima rapor semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Kondisi tersebut memicu keluhan para orang tua murid.
Masalah ini mendapat sorotan DPRD Kabupaten Pamekasan. Anggota Komisi IV DPRD Pamekasan Abd. Rasyid Fansori berjanji akan menindaklanjuti persoalan tersebut dengan meminta klarifikasi dari pihak sekolah.
”Minggu kedua harus sudah diberikan kepada siswa,” tegasnya.
Kepala SDN Gladak Anyar 2 Hosnol Rachman mengaku telah berkoordinasi dengan para wali kelas.
Dia menyebut keterlambatan rapor disebabkan kendala teknis penyempurnaan nilai dari guru mata pelajaran.
”Secepatnya nanti kalau sudah selesai akan kami berikan,” ujarnya.
Sementara itu, wali kelas IV-A, Putri Dwi Febrianti, menjelaskan bahwa rapor sebenarnya sudah dicetak saat jadwal pembagian.
Namun, siswa menolak menerimanya karena masih terdapat nilai yang kosong atau tidak sesuai.
”Sudah dicetak sebelum pembagian rapor. Kami berikan ke murid di hari itu, tapi murid menyampaikan nilainya tidak sesuai. Bahkan, ada yang kosong,” ungkapnya.
Dia menyebut nilai dari guru mata pelajaran telah diberikan, tetapi belum dilengkapi deskripsi. Saat diminta perbaikan, deskripsi yang dikirim justru tidak sesuai.
”Tujuan pembelajaran seharusnya sepuluh, tapi ada yang memberi 15. Ada juga deskripsi yang muncul tapi tidak sesuai kondisi anak. Murid sendiri yang protes,” terangnya.
Hal serupa dialami wali kelas IV-B, Andika Faris. Dia menilai pengisian nilai oleh guru mata pelajaran terkesan tidak cermat.
”Di kelas saya, ada dua mata pelajaran yang belum selesai dan nilainya tidak sesuai. Cukup anomali kalau semua murid nilainya bagus. Sekarang murid sudah kritis, jadi saya minta pembaruan dan sampai sekarang belum disetor,” katanya.
Menurut Andika, persoalan tersebut tidak sepenuhnya kesalahan guru mata pelajaran.
Dia menilai manajemen sekolah juga berperan, terutama terkait minimnya pembinaan dan fasilitas pendukung.
”Harusnya ada pelatihan secara konsisten dan belajar bersama. Peningkatan kualitas SDM yang dulu dibangun sekarang tidak ada,” pungkasnya. (lil/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti