PAMEKASAN, RadarMadura.id – Peredaran narkotika di balik jeruji besi masih menjadi ancaman serius.
Lapas Kelas II-A Pamekasan yang dihuni ratusan warga binaan tak luput dari kerawanan tersebut. Untuk menutup celah itu, tes urine digelar secara mendadak.
Langkah tersebut dilakukan usai jajaran lapas mengikuti Zoom Meeting dengan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Rabu (7/1).
Arahan tes urine disampaikan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Perintah itu diminta untuk segera dijalankan.
Kepala Lapas Kelas II-A Pamekasan Syukron Hamdani menyampaikan, seluruh pegawai yang bertugas wajib mengikuti tes.
Tidak ada pengecualian, termasuk petugas pengamanan. Tes dilakukan untuk memastikan petugas steril dari narkoba.
Sebanyak 57 pegawai lapas yang masuk dinas hari itu menjalani pemeriksaan.
Selain itu, 30 petugas magang dari Kementerian Ketenagakerjaan juga ikut dites. Pemeriksaan dilakukan di waktu yang sama.
”Tes urine juga menyasar warga binaan. Dari total 857 penghuni lapas, sebanyak 30 narapidana dipilih secara acak. Pemilihan acak dilakukan karena keterbatasan waktu dan jumlah penghuni,” ungkapnya.
Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh peserta tes dinyatakan negatif narkotika.
Meski demikian, kondisi di dalam lapas tetap dianggap rawan. Kepadatan penghuni menjadi salah satu faktor risiko.
”Kami selalu mengingatkan petugas lapas untuk menjauhi narkoba. Tidak sebatas pada napi saja.
Komitmen bersama diperlukan agar tidak ada celah peredaran barang terlarang di dalam lapas,” tegasnya.
Menurut Syukron, upaya antisipasi tidak hanya melalui tes urine. Penggeledahan juga dilakukan secara dadakan.
Langkah ini untuk mencegah masuknya narkotika dan barang terlarang ke dalam sel.
”Tes urine dan penggeledahan secara dadakan itu menjadi bagian dari pengawasan internal di dalam lapas. Tujuannya, untuk mempersempit ruang gerak peredaran narkotika di balik jeruji,” tukasnya. (afg/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti