PAMEKASAN, RadarMadura.id - Transformasi besar yang dialami Universitas Islam Negeri (UIN) Madura sepanjang 2025 bukan sekadar rangkaian seremoni dan pencapaian.
Lebih dari itu, perubahan tersebut menjadi titik tolak arah baru pengembangan kampus menuju perguruan tinggi Islam yang unggul, berakar pada budaya lokal, dan mampu menjawab tantangan global.
Alih bentuk dari IAIN menjadi UIN memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi kampus.
Tidak hanya dalam pengembangan program studi, tetapi juga dalam penguatan riset, sumber daya manusia (SDM), dan peran strategis kampus bagi masyarakat.
Rektor UIN Madura Dr Saiful Hadi, M.Pd menegaskan bahwa transformasi kelembagaan harus diiringi dengan visi jangka panjang.
Menurut dia, alih bentuk menjadi UIN bukan garis akhir. Hal itu justru titik awal untuk membangun kampus yang unggul dan berdaya saing.
Menurut Saiful, fokus utama ke depan adalah penguatan mutu akademik dan sumber daya manusia.
Penambahan guru besar akan terus didorong, seiring percepatan karier dosen dan penguatan budaya riset di lingkungan kampus.
Madura Islamic University (MIU) juga berkomitmen mengembangkan integrasi keilmuan Islam, budaya, dan sains.
Nilai tersebut ditegaskan melalui Madura Charter yang lahir dari Iconis ke-9. Kampus ingin memastikan pengembangan ilmu pengetahuan tidak tercerabut dari akar budaya lokal.
Kami ingin Islam dikembangkan secara ilmiah, moderat, dan tetap berpijak pada budaya Madura, tutur alumnus program doktoral Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu.
Di tingkat pascasarjana, pembukaan program doktor (S-3) akan terus diperkuat.
Targetnya, menghasilkan riset yang tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Selain itu, penguatan LSP UIN Madura akan diarahkan pada perluasan skema sertifikasi.
Langkah ini ditempuh agar lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap bersaing di dunia kerja.
Cita-cita kami adalah ingin menjadikan UIN Madura sebagai pusat keilmuan Islam yang unggul, berakar pada kearifan lokal, dan relevan di tingkat nasional maupun global untuk pembangunan sumber daya manusia berkelanjutan, pungkasnya. (afg/han)
Editor : Amin Basiri