PAMEKASAN, RadarMadura.id – Perusahaan Rokok (PR) Cahaya Pro menjadi bukti bahwa industri rumahan bisa berkembang. Buktinya, perusahaan yang beralamat di Desa Akkor, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, awalnya hanya mempekerjakan lima orang. Kini, jumlah tenaga kerja mencapai lebih lima ratus orang.
Kehadiran PR Cahaya Pro menjadi sumber kehidupan bagi keluarga pekerja. Hal itu dirasakan Ayu. Dia mengaku terbantu dengan fasilitas perusahaan, terutama koperasi karyawan. Di koperasi itu, pekerja bisa meminjam uang tanpa bunga.
”Selain itu, perusahaan menyediakan belanja gratis tiga kali seminggu, masing-masing senilai Rp 20 ribu,” tuturnya.
Pekerja sekaligus warga sekitar Abdurrahman menyebut bahwa perusahaan juga turut membantu pembangunan desa. Ada banyak jalan dan rumah warga yang diperbaiki berkat kehadiran PR Cahaya Pro. Hal ini menunjukan bahwa perusahaan rokok ini berkontribusi nyata bagi pekerja maupun masyarakat sekitar.
Owner PR Cahaya Pro Fathor Rosi menceritakan, usahanya itu hanya bermodal nekat pada 2004. Awalnya, hanya dorongan kebutuhan. Waktu itu ayahnya tidak punya uang untuk beli rokok dan berniat melinting sendiri.
Dorongan itu menjadi titik awal perjalanan PR Cahaya Pro. Dia mulai produksi dan menjual dari desa ke desa, hingga sejumlah kabupaten di Madura. Nama perusahaan juga beberapa kali mengalami perubahan. Awalnya bernama Cahaya berubah menjadi Cahayaku. Lalu ditetapkan menjadi Cahaya Pro.
”Tahun 2004 kondisi keuangan kami sulit. Saat mencoba ngelinting, kok enak. Banyak tamu juga bilang enak rokoknya. Lalu, mereka menyarankan agar dipasarkan,” kenangnya.
Awalnya, Rosi hanya mempekerjakan keluarga. Namun karena permintaan terus naik, membuat perusahaan merekrut tenaga kerja. ”Dari lima orang, yang awalnya hanya keluarga, bertambah menjadi 30 karyawan hanya dalam delapan bulan. Setahun kemudian sudah ratusan,” tuturnya.
Seiring perkembangannya, perusahaan mulai menata legalitas. Pada 2006, PR Cahaya Pro mendaftar untuk mendapatkan NPPBKC sebagai izin penebusan pita cukai. Pada 2015, mereka mulai menggunakan pita cukai secara penuh dan berani mengirim produk ke luar pulau.
Pertumbuhan itu berdampak besar. Dari semula menebus pita cukai sekitar Rp 10 miliar, angka itu meroket menjadi ratusan miliar pada 2023. Meski pasar mulai lesu pada 2024, kontribusi Cahaya Pro tetap signifikan. Sebab, penebusan pita cukai masih bisa dianggap stabil.
Perusahaan ini dinilai mampu menyerap tenaga kerja terbesar di sektor rokok di Pamekasan. Sebanyak 418 karyawan memenuhi syarat sebagai penerima BLT dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) pada 2025. Rosi menyebut, total pekerja kini mencapai lebih dari 500 orang.
”Alhamdulillah, kami bisa ikut membantu. Mereka bisa menyekolahkan anak, memperbaiki rumah, membeli kendaraan. Kami punya layanan kredit motor tanpa bunga, dipotong gaji sesuai kemampuan. Kalau terdesak dan butuh bantuan di luar itu, bisa tanpa potong gaji, asal pamit,” tukas Rosi. (afg/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti