PAMEKASAN, RadarMadura.id - Pendapatan asli daerah (PAD) sektor pengelolan pasar di Kabupaten Pamekasan terancam tak capai target.
Indikasinya, hingga triwulan ketiga capaiannya baru 46 persen atau Rp 1,6 miliar dari target Rp 3,4 miliar.
Koran ini mencatat, realisasi PAD Pasar di Bumi Gerbang Salam tahun lalu juga tidak mencapai target.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan hanya mampu mengumpulkan PAD Rp 2,9 miliar atau 85 persen dari target Rp 3,4 miliar.
Sekretaris Komisi II DPRD Pamekasan Moh. Faridi menyayangkan rendahnya capaian PAD dari sektor pasar tersebut.
Dia menilai dinas teknis tidak maksimal mengelola PAD. Pihaknya berencana akan memanggil disperindag untuk membahas persoalan tersebut.
Kami akan mendorong agar (PAD) sesuai target yang sudah diproyeksikan sejak awal.
Kendalanya akan kami kroscek, di mana letak persoalan yang terjadi.
Dalam minggu ini akan kami lakukan pemanggilan, kata Faridi kemarin (13/11).
Sejak awal, Komisi II DPRD Pamekasan sudah berupaya melakukan langkah-langkah intensifikasi dan ekstensifikasi untuk mendorong peningkatan PAD. Sebab, kondisi fiskal Kota Gerbang Salam semakin sempit.
Berkaitan dengan pendapatan daerah, kami mengusulkan harus digitalisasi. Itu rekomendasi kami, usulnya.
Legislator PKB itu menilai, penarikan retribusi secara manual rentan terjadi keterlambatan dalam proses input pendapatan.
Selain itu, potensi kebocoran PAD cukup tinggi. Karenanya, penarikan retribusi perlu dialihkan ke digital.
Kalau digitalisasi, maka pelaporan, akuntabilitasnya lebih terukur dan lebih update.
Kami tidak yakin kalau masyarakat tidak bayar retribusi ataupun pajak, tuturnya.
Koran ini berupaya mengonfirmasi terkait rendahnya capaian PAD pasar kepada Kabid Pasar Disperindag Pamekasan Handiko Bayuadi.
Namun, dia belum memberikan keterangan secara detail. Alasannya, sedang tidak di kantor. Nanti saya lihat berapa capaiannya, balasnya singkat.
JPRM juga mendatangi ruangan Kepala Disperindag Pamekasan Akhmad Basri Yulianto. Namun, dia tidak ada di kantornya. Nomor telepon yang biasa digunakan juga tidak aktif saat dihubungi. (lil/bil)
Editor : Amin Basiri