Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pemkab Pamekasan Siagakan Sarpras dan Relawan, Hadapi Ancaman Bencana dan Gangguan Trantibum

Hera Marylia Damayanti • Rabu, 12 November 2025 | 15:30 WIB

SAMBUTAN: Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman memberikan arahan dalam apel siaga bencana di monumen Arek Lancor, Pamekasan, Selasa (11/11). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
SAMBUTAN: Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman memberikan arahan dalam apel siaga bencana di monumen Arek Lancor, Pamekasan, Selasa (11/11). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
 

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Berbagai bencana sering melanda Kabupaten Pamekasan. Yakni bencana banjir, longsor, kekeringan, angin kencang, hingga kebakaran hutan dan lahan. Badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) mencatat, sepanjang 2024 terjadi 446 bencana di Kota Gerbang Salam.

Tahun ini hingga akhir Oktober terdata ada 348 kejadian dengan 186 ribu jiwa terdampak. Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak agar memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi di lapangan.

Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman menyatakan, bencana terjadi tidak hanya disebabkan faktor alam. Perbuatan manusia juga bisa memicu terjadinya bencana, misalnya mengeksploitasi lingkungan tanpa kendali.

Dia tidak memungkiri bahwa sebagian kerusakan alam berasal dari perbuatan pihak yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, Kiai Kholil meminta agar kesiapsiagaan dilakukan secara menyeluruh. Mulai pemahaman petugas di lapangan, kesiapan sarana dan prasarana, hingga penyiapan dapur umum dan tempat pengungsian.

”Perahu karet, kendaraan evakuasi, dan alat komunikasi semua harus dalam kondisi prima agar siap digunakan kapan pun,” katanya.

Selain kesiapan teknis, bupati juga menekankan pentingnya edukasi publik. Dia mengajak media, relawan, dan masyarakat untuk bersama-sama menumbuhkan kesadaran menjaga lingkungan serta tanggap terhadap potensi risiko bencana. Dia percaya bahwa persiapan yang dibutuhkan bukan hanya sekadar alat, melainkan juga kesadaran bersama.

Tokoh yang juga menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Matsaratul Huda Panempan itu menyinggung soal ketertiban dan keamanan daerah. Dua kasus pembunuhan yang baru terjadi disebut sebagai bentuk bencana sosial yang mencoreng nilai kemanusiaan.

”Kasus seperti itu seharusnya tidak terjadi,” tukasnya. (afg/bil)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#mengeksploitasi lingkungan #mitigasi #penanggulangan bencana #bpbd #bencana sosial