PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pemkab Pamekasan menggelontorkan anggaran jumbo untuk program makan dan minum (mamin) lansia. Program yang dianggarkan sebesar Rp 6,1 miliar lebih itu memantik sorotan. Pasalnya, realisasi program dinilai tidak transparan.
Dana miliaran itu dikelola Dinas Sosial (Dinsos) Pamekasan. Terdapat 421 penerima yang menjadi sasaran program. Setiap lansia dijatah makan dua kali sehari. Satu porsi nilainya Rp 20 ribu. Dengan demikian, setiap hari anggaran untuk lansia sebesar Rp 40 ribu.
Ketua DPD Lumbung Informasi Rakyat (Lira) Pamekasan Slamet Riyadi menilai, anggaran miliaran itu rawan jadi bancakan. Dia menyoroti lemahnya kontrol publik atas program tersebut. Menurutnya, data penerima terkesan amburadul dan tidak transparan.
Slamet juga meragukan kualitas bantuan yang diberikan kepada penerima. Dia mengaku menerima keluhan dari dua wilayah bahwa makanan sering terlambat datang sehingga sering basi ketika hendak disantap.
Dia juga mengkritik soal teknis pendistribusian. ”Pemerintah terkesan tidak serius mengelola program ini,” ucapnya.
Menurut Slamet, program bernilai miliaran itu seharusnya menjadi bukti keberpihakan pemerintah kepada kaum lansia. ”Tapi yang terjadi, justru dipertontonkan manajemen yang buruk,” kritiknya.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinsos Pamekasan Herman Hidayat membenarkan jika anggaran miliaran itu memang dialokasikan untuk 421 penerima. Dia memastikan setiap penerima memperoleh dua porsi makanan dalam sehari dengan nilai masing-masing Rp 20 ribu.
Herman membantah tudingan adanya keterlambatan distribusi hingga makanan basi. Dia mengeklaim sudah menunjuk pihak ketiga yakni ormas Islam di Pamekasan yang bertugas untuk mendistribusikan makanan ke penerima.
”Distribusi berjalan baik. Tidak benar kalau dikatakan sering terlambat,” bantahnya. (afg/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti