PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pesantren kini tidak hanya menjadi tempat belajar kitab kuning. IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) membuktikan diri dengan menjalin kolaborasi bersama Universitas Negeri Malang (UM).
Kerja sama itu diwujudkan melalui program riset eksperimen integratif yang menggabungkan ilmu agama dan sains. Agenda ini digagas saat kunjungan Ketua Departemen Fisika UM Malang, Prof. Dr. Ahmad Taufiq, S.Pd., M.Si., pada Selasa (9/9).
Prof. Taufiq menegaskan komitmennya untuk mendampingi IBS PKMKK dalam riset eksperimen dan publikasi ilmiah. Silaturahim tersebut berlangsung di Lobi Gedung Utama IBS PKMKK dan disambut hangat oleh para pengurus.
Sebagai akademisi sekaligus penulis produktif, Prof. Taufiq memberikan apresiasi kepada IBS PKMKK. Menurutnya, pesantren ini mampu tampil sebagai pelopor literasi dan integrasi keilmuan di kalangan lembaga pendidikan Islam.
“Santri pesantren juga bisa bersaing di panggung akademik global, asal diberi kesempatan dan dibimbing dengan serius,” tegas Prof. Taufiq. Ia menilai, IBS PKMKK memiliki modal besar untuk mengembangkan tradisi riset dan publikasi.
Baca Juga: Penutur Asli Asal Australia Motivasi Santri IBS PKMKK
Dalam kesempatan itu, Prof. Taufiq memperkenalkan dua program unggulan. Pertama, One Term One Research One Publication, yang mendorong setiap santri menghasilkan riset dan publikasi ilmiah per semester.
Kedua, One Experiment One Chapter, yaitu setiap eksperimen sains dituangkan ke dalam bab tulisan ilmiah. Program ini diharapkan melatih santri terbiasa meneliti dan mendokumentasikan hasil karyanya secara sistematis.
Tak hanya berhenti di situ, Prof. Taufiq juga meminta Dr. Agus Budiono, M.Pd., untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) integrasi sains dan agama. Langkah itu dinilai penting agar pembelajaran semakin kontekstual, relevan, dan berbasis riset.
Direktur Utama IBS PKMKK, Dr. KH. Achmad Muhlis, M.A., menyambut baik inisiatif kolaborasi ini. Ia menegaskan, program tersebut akan menjadi pintu masuk lahirnya tradisi baru di pesantren.
Baca Juga: BRI Dukung Warga Binaan Lewat Pembangunan BLK Nusakambangan dan Program Ketahanan Pangan
“Gelombang pertama santri akan segera kami seleksi. Targetnya, mereka tidak hanya rajin mengaji, tapi juga produktif menulis dan meneliti,” ungkap KH. Muhlis.
Menurutnya, langkah ini merupakan strategi nyata pesantren untuk mencetak generasi yang alim sekaligus ilmuwan. Tradisi riset di pesantren diharapkan menjadi identitas baru yang melengkapi tradisi keagamaan.
IBS PKMKK optimistis kerja sama dengan UM Malang dapat membuka cakrawala santri. Pesantren tak hanya berfokus pada pembelajaran agama, tapi juga aktif dalam pengembangan sains dan literasi.
Kolaborasi ini sekaligus menunjukkan kemampuan pesantren berdialog dengan dunia akademik modern. Tanpa meninggalkan jati diri keagamaan, pesantren mampu merangkul perkembangan ilmu pengetahuan.
Baca Juga: Kasubdit Ketenagakerjaan KemenagRI Kunjungi IBS PKMKK Pamekasan, Minta ASN Jaga Integritas
Integrasi agama dan sains yang selama ini menjadi wacana, kini diwujudkan secara konkret di IBS PKMKK. Santri tidak hanya mengaji kitab, tetapi juga terlibat dalam riset dan eksperimen laboratorium.
Dengan demikian, IBS PKMKK membuka jalan baru bagi pesantren lain untuk ikut melahirkan tradisi riset. Pesantren tidak lagi dipandang tradisional semata, tetapi juga sebagai pusat inovasi keilmuan. (*/dry)
Editor : Hendriyanto