PAMEKASAN, Jawa Pos Radar Madura – Kuota penerima bantuan langsung tunai (BLT) dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tahun ini sebanyak 23.064 keluarga penerima manfaat (KPM). Perinciannya, kuota 4.458 untuk buruh pabrik rokok dan 18.606 untuk buruh tani.
Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinsos Pamekasan Agus Wijaya menyampaikan, calon KPM BLT buruh pabrik rokok diusulkan oleh perusahaan. Sedangkan buruh tani diusulkan pemerintah desa.
Hasil verifikasi dan validasi (verval) calon penerima dari unsur buruh pabrik rokok sudah keluar. ”Usulan buruh rokok itu 4.785 orang. Tapi, yang diterima hanya 4.458 orang dari hasil verval BPJS Ketenagakerjaan,” katanya.
Terdapat ratusan calon penerima yang dicoret. Alasannya, mereka dianggap tidak layak menerima BLT DBHCHT karena tak memenuhi syarat. Karena itu, pihaknya menetapkan sebanyak 4.458 buruh pabrik rokok sebagai sasaran. Dengan begitu, sisa kuota 18.608 akan dialokasikan untuk buruh tani.
”Tapi, calon penerima BLT DBHCHT dari buruh tani kami verifikasi lagi ke lapangan,” tuturnya.
Agus mengungkapkan, verifikasi ulang dilakukan untuk memastikan usulan pemdes tepat sasaran. Di antaranya, memastikan jika buruh tani yang diusulkan berdomisili di Kabupaten Pamekasan. Sebab, usulan yang diajukan mencapai 23.516 orang.
”Makanya, kami beri waktu tiga hari kepada pemdes untuk menverifikasi ulang. Senin (8/9), tim verval kabupaten turun untuk memastikan data itu,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, dalam proses verifikasi akan melibatkan pendamping PKH dan tim internal. Hal itu untuk memastikan bantuan sebesar Rp 600 ribu tidak salah sasaran. ”Setiap bulan mereka mendapat Rp 300 ribu selama dua bulan,” terangnya.
Agus menambahkan, pencairan bantuan dilakukan secara bertahap yang dimulai dengan penerima buruh pabrik rokok. Sebab, vervalnya tuntas lebih awal. ”Selesai verval, langsung kami buatkan SK,” imbuhnya.
Nipuh, buruh tani asal Desa Campor, Kecamatan Proppo, mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan. Termasuk BLT DBHCHT dan bantuan sosial lainnya. Dia berharap ada perhatian dari pemerintah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
”Belum pernah dapat (bantuan). Untuk menyambung hidup, saya bekerja serabutan, termasuk jadi buruh tani,” tukasnya. (ay/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti