Persoalan sampah seringkali menimbulkan masalah krusial, bahkan bencana alam. Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur Harisandi Savari mencoba mengurai persoalan pengelolaan sampah saat podcast di Radar Madura TV.
AYU LATIFAH, Pamekasan
Empat kabupaten di Madura menyumbang 39 hingga 100 ton sampah perhari. Mayoritas dihasilkan dari sampah rumah tangga yang secara pengelolaan belum maksimal. Segudang persoalan tentang sampah belum menemukan titik penyelesaian, termasuk di Madura.
Persoalan sampah dinilai sangat krusial karena dampak serius jika tidak diatasi dengan benar. Misalnya bisa memicu bencana banjir, pencemaran linkungan, kerusakan ekosistem, mikroplastik ke tubuh manusia dan banyak persoalan serius lainnya.
Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur Harisandi Savari menyampaikan, pertumbuhan penduduk, urbanisasi dan konsumsi yang melimpah menyumbang sampah yang signifikan setiap tahun. Sejauh ini, belum ada penyelesaian yang bisa memecahkan persoalan ini dengan baik.
”Sekarang Pemprov Jatim dengan DPRD Jatim dan masyarakat sedang mengupayakan mengurai masalah sampah dengan program lestari,” katanya saat mengisi podcast di Radar Madura TV.
Baca Juga: Empat Formasi PPPK II di Pamekasan Kosong
Pria kelahiran Sumenep itu menuturkan, persoalan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Tapi juga tanggung jawab moral individu pribadi masyarakat. Sebab, kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan dengan kesadaran bersama.
”Pemerintah memang memiliki peran strategis dalam merancang kebijakan pengelolaan sampah. Tapi tanpa partisipasi masyarakat dan stakeholder, program itu hanya menjadi wacana,” tuturnya.
Penanganan sampah secara sederhana bisa dilakukan dengan membiasakan memilah sampah, membuang sampah di tempatnya, mendaur ulang dan mendukung program ramah lingkungan. Langkah ini termasuk kebiasaan kecil yang berdampak besar untuk perubahan lingkungan.
Apalagi penanganannya dapat didorong dengan inovasi teknologi pengolahan limbah berbasis ekonomis.
”Sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menanggulangi sampah. Sampah bagaikan bom waktu, jika tidak dikelola serius berdampak pada semua aspek,” ujar Haris.
Haris mengungkapkan, di Indonesia setiap tahun menghabiskan 19 juta ton sampah. Tapi, hanya 12 persen yang didaur ulang. Angka tersebut menunjukkan minimnya penanganan sampah.
Baca Juga: Gelar Penjamasan dan Penyerahan Pusaka Keraton Tiap Muharram, Bupati Fauzi Ajak Jaga Budaya Leluhur
”Apalagi di Madura. Yang masih menjadi masalah utama, minimnya kesadaran masyarakat dan infrastruktur. TPA yang ada tidak memenuhi standar sanitasi sehingga perlu kajian khusus,” ungkapnya.
Karena itu, keterlibatan pemerintah dalam menyediakan sarana prasarana hingga pengelolaan sampah juga harus didukung regulasi. Misalnya, ada sanksi tegas bagi yang membuang sampah sembarangan dan insentif bagi pelaku usaha zero waste.
”Memang harus ada program pemerintah provinsi yang melibatkan masyarakat mewakili pemdes untuk penanganan masalah ini,” terang politikus PKS itu.
Haris memaparkan, kunci terbesar pengelolaan sampah ada pada kesadaran masyarakat dan sinergitas pemerintah. Untuk itu dirinya berharap, pengelolaan sampah jangka panjang.
Misalnya, pembangunan TPA regional berbasis teknologi ramah lingkungan. Selain itu, pendidikan lingkungan sejak dini, infrastruktur, serta ada regulasi tegas.
”Saya menginginkan kesadaran masyarakat. Dari hati yang bersih akan memulai gerakan yang bersih. Jika sudah sadar pemerintah juga akan turun untuk mengelola dengan baik,” pungkasnya. (*/bil)
Editor : Hendriyanto