PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pasar Keppo, salah satu pasar terbesar di Kabupaten Pamekasan, kini telah berubah lebih representatif.
Dengan penambahan 27 kios baru dan 224 hamparan, pasar ini menjadi pusat perbelanjaan yang lebih nyaman bagi masyarakat. Pasar yang terletak di Desa Polagan, Kecamatan Galis, ini mulai ditempati pedagang pada Sabtu (1/2).
Namun, ketersediaan los dan kios belum banyak yang ditempati. Ada 18 kios yang belum ditempati. Banyaknya kios yang masih tutup menimbulkan pertanyaan publik. Sebab, sebelum dibangun, kios lama telah penuh dengan pedagang.
Menurut salah satu informan Jawa Pos Radar Madura (JPRM), kios tersebut diduga diperjualbelikan. Setiap pedagang yang ingin menempati harus membayar sekitar Rp 50 juta.
”Karena harus bayar Rp 50 juta kalau tidak salah. Jadi banyak pedagang yang mempertimbangkan,” katanya kemarin (20/5).
Selain itu, pertimbangan lain adalah ukuran kios lebih sempit dari sebelumnya. Bangunan yang didanai dana tugas pembantuan (DTP) senilai Rp 2,8 miliar itu memang memiliki ukuran yang lebih sempit dari sebelumnya. Sehingga, banyak peralatan pedagang yang tidak muat.
”Dulu ini satu tempat setelah dibangun menjadi dua tempat,” tambahnya.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Pamekasan Ahmad Basri Yulianto membantah informasi tersebut. Dia mengeklaim bahwa kios tersebut bersifat hak pakai, sehingga hanya dikenakan tarif retribusi.
”Tidak ada, mereka menempati gratis. Hal seperti itu (isu praktik jual beli kios) bagi kami sudah basi,” katanya.
Basri menyampaikan, setiap kios sudah ada pedagangnya dan merupakan pedagang lama. Namun, mereka buka kios di saat waktu tertentu. Yakni Selasa, Rabu, atau hari pasaran.
”Itu sudah ada pedagangnya semua. Cuma ada yang buka hari pasaran,” ungkapnya.
Menurut dia, ukuran pada kios baru memang berbeda dari sebelumnya. Hal itu berdasarkan aturan permendag yang mengatur ukuran kios. Sistem penarikan retribusi sesuai meteran bangunan.
”Sistemnya hak pemanfaatan, yang menempati dikenakan retribusi. Ada juga yang sewa tanah harganya beda, tapi terjangkau tidak sampai Rp 1 juta seperti kios yang bayar tiap bulan,” terangnya. (ay/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti