PAMEKASAN, RadarMadura.id – Video Rusmiati, warga Desa/Kecamatan Galis, Pamekasan, viral di media sosial.
Pasalnya, dia diduga ditipu oleh oknum travel haji dengan iming-iming haji plus tanpa antre. Sementara dokumen yang dibawa Rusmiati diduga bukan visa haji, melainkan visa kerja.
Dalam video yang beredar, Rusmiati mengaku berangkat dengan membayar Rp 130 juta. Dia yang mengenakan pakaian serbahitam itu terlihat seperti kebingungan.
Radarsurabaya.id melaporkan, perempuan 55 tahun itu duduk di musala sebelum akhirnya ditemukan petugas Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah Andi Pratama, pada Kamis (15/5) sore waktu setempat.
Kepada petugas, Rusmiati mengaku membayar ratusan juta untuk paket haji plus. Namun, rombongan itu ternyata menggunakan visa kerja.
Akibatnya mereka diamankan oleh otoritas bandara. Sementara Rusmiati lolos, namun akhirnya telantar. Dia sementara ditampung di hotel.
Beberapa hari kemudian, beredar video Rusmiati yang berisi klarifikasi. Dalam video itu dia menegaskan bukan jemaah haji ilegal.
Dia mengaku hanya terpisah dari rombongan dan tidak membawa HP. Dia juga mengabarkan bahwa dirinya sudah ada di hotel bersama rombongan.
Bus, putra Rusmiati, membenarkan peristiwa yang dialami orang tuanya itu. Bus mengeklaim Rusmiati berangkat secara mandiri tanpa melalui travel. ”Untuk berangkatnya ini mandiri tidak berhubungan dengan travel,” tambahnya.
Bus memastikan bahwa Rusmiati dalam kondisi aman, yakni berada di hotel.
”Alhamdulillah, ibu sudah ada yang melindungi. Saat ini kami sedang berembuk dengan keluarga (terkait) penyelesaiannya. Cuma saya minta maaf sedang labil untuk berkomentar banyak,” ungkapnya.
Informasi lain menyebutkan Rusmiati berangkat dengan suami melalui salah satu travel. Travel tersebut sudah biasa membawa jemaah non visa haji memasuki Madinah dan Makkah.
”Tahun lalu lolos, tapi tahun ini gagal karena sekarang lebih ketat,” menurut sumber Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Minggu (18/5).
JPRM juga menghubungi ketua kelompok terbang (kloter) asal Pamekasan. Yakni kloter 27, 28, dan 29 yang telah tiba lebih dulu di Madinah.
”Bukan bagian jemaah Pamekasan (Rusmiati), karena jika rombongan akan dicari oleh ketua rombongan resmi, oleh ketua regu, dan ketua kloter,” terang Ketua Kloter 27 Mohammad Zaini Masbuchin.
Keterangan yang sama disampaikan Ketua Kloter 28 Nurul Yaqin. Dia memastikan Rusmiati tidak ada di data rombongannya. ”Saya cek di data, tidak ada nama Rusmiati,” ungkapnya.
Ketua Kloter 29 Abdul Wachid Zaini juga memaparkan, rombongannya terdiri atas jemaah asal Bangkalan dan Pamekasan.
Dari data jemaah juga tidak ditemukan nama Rusmiati. ”Tidak ada nama itu (Rusmiati),” ucapnya.
Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Pamekasan Mawardi tidak menanggapi ketika dihubungi JPRM. Panggilan telepon dan pesan singkat yang dikirim tidak direspons hingga pukul 16.37.
Jemaah Geser ke Makkah
Sementara itu, 666 jemaah asal Bangkalan bersiap untuk bergeser dari Madinah menuju Makkah, Senin (19/5).
Mereka telah menyelesaikan serangkaian ibadah dan kunjungan ke berbagai tempat bersejarah.
Ketua Kloter 30 Sub Bangkalan Adnan mengungkapkan, semua jemaah dalam keadaan sehat.
Ratusan jemaah tersebut siap pindah ke Makkah. Dia berharap semua jemaah bisa menunaikan ibadah haji dengan sempurna.
Selama di Madinah memang ada beberapa jemaah yang mengalami gangguan kesehatan ringan.
Selain itu, terdapat jemaah lansia yang kesasar. Namun, mereka sudah mendapatkan bantuan dari petugas.
”Alhamdulillah, kami semua bisa melaksanakan salat Arbain selama delapan hari penuh,” kata Adnan kemarin.
Selama berada di Madinah, jemaah melakukan city tour ke beberapa tempat bersejarah. Seperti ke Masjid Quba, Masjid Ghamamah, Jabal Uhud, Qiblatain, Khandaq, dan Kebun Kurma.
”Petugas terus memantau kesehatan dan kondisi jemaah. Untuk memastikan mereka benar-benar siap menjalani perjalanan berikutnya ke Makkah,” sebutnya.
Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Bangkalan Arif Rochman mengeklaim terus memperbarui informasi jemaah melalui ketua kloter.
Sub Bangkalan terbagi ke dalam kloter 29 yang diketuai Abdul Wahid dan ketua kloter 30 Adnan.
Arif memastikan seluruh jemaah akan ditempatkan dalam satu hotel. Sehingga, lebih mudah dalam melakukan pendampingan.
”Waktu untuk ke puncak haji masih lama, jadi kami berpesan supaya jemaah haji pandai-pandai mengontrol diri. Setelah sampai di Makkah tenaganya jangan terforsir, misalnya tiap hari umrah,” pesannya. (ay/lil/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti