Oleh Dr Heni Listiana, M.Pd. & Dr H Achmad Muhlis, M.A.
SECARA filosofis, manusia dianggap sebagai makhluk yang unik karena memiliki kemampuan untuk berpikir dan menyadari dirinya. Seperti yang dikatakan oleh René Descartes dengan Cogito, ergo sum. Dalam Islam, manusia dikenal dengan istilah hayawanun nathiq yang berarti makhluk yang berbicara atau makhluk yang berpikir, menunjukkan bahwa manusia memiliki akal dan kemampuan untuk merenung, yang membedakannya dari makhluk lainnya. Hal ini menggambarkan bahwa manusia tidak hanya hidup berdasarkan naluri, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memahami, mengerti, dan memilih jalan hidupnya melalui proses berpikir yang mendalam.
Santri, sebagai bagian dari masyarakat dunia yang hidup di era teknologi digital, kini memiliki kesempatan untuk mengakses berbagai informasi dan ilmu melalui platform digital. Perkembangan teknologi ini memungkinkan santri untuk belajar lebih luas, tidak hanya dari kitab kuno, tetapi juga dari sumber-sumber digital. Tantangan utama santri adalah menunjukkan bahwa mereka tidak hanya pandai dalam menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu berkembang dan beradaptasi di berbagai bidang, baik secara horizontal maupun vertikal, agar dapat berkontribusi lebih luas dalam masyarakat.
Santri di Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) berhasil meruntuhkan stigma tradisional yang sering melekat pada santri. Di IBS PKMKK, santri digembleng dengan berbagai ilmu agama, pengalaman akhlak, dan penguasaan teknologi. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak hanya terbiasa mempelajari kitab-kitab turats, tetapi juga telah mampu menyampaikan dakwah melalui media digital. Dengan menyajikan konten agama yang mengajak kepada perbuatan baik, mereka berusaha menjaga umat manusia agar tetap menjadi hamba yang saleh.
Sejumlah prestasi telah diraih santri IBS PKMKK sebagai perwujudan 7 pilarnya mulai dari tingkat lokal sampai tingkat internasional. Prestasi tersebut meliputi penguasaan dan keterampilan bidang akademik seperti mengikuti olimpiade matematika di Thailand dan Malaysia, bahasa asing (Arab-Inggris), dan IPS. Sedangkan capaian prestasi bidang nonakademik dapat dibuktikan melalui prestasi bidang pencak silat, debat bahasa Inggris, produk pembelajaran, dan pidato bahasa asing. Di samping itu, dalam kurung waktu 3 tahun, santri IBS PKMKK juga telah menerbitkan 113 judul buku yang ber-ISBN, 20 cerita bergambar (sedang proses pengurusan hak cipta di percetakan), dan menghasilkan ratusan produk visualisasi literasi digital dengan konten-koten pemahaman fiqh, hadis, Al-Qur’an.
Pilar-pilar tersebut yaitu: one student one laptop, one day one ayat, one hadith one presentation, one activity one paragraph, one week three languages, and one week three themes. Karena setiap santri memperoleh fasilitas satu laptop, maka pesantren ini ingin menegaskan diri sebagai pesantren berbasis digital yang akan membekali penguasaan ilmu dan keterampilan di bidang teknologi. Berbagai konten yang dihasilkan santri dapat kunjungi pada akun media sosial pesantren, baik YouTube, TikTok, dan Instagram @padepokankyaimudrikah. Konten ini bukan hanya menampilkan informasi tentang IBS PKMKK, tapi juga menampilkan konten positif yang bernilai dakwah dan pengembangan pembelajaran.
Di tengah derasnya arus informasi di dunia digital, kehadiran santri sebagai tiktoker, blogger, vlogger, youtuber, dan influencer menjadi bukti nyata jihad santri dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Melalui platform-platform tersebut, santri memberikan pemahaman yang lebih sejuk kepada masyarakat yang rindu akan kedekatan dengan Pencipta, dengan cara yang sesuai dan benar.
Peran santri di IBS PKMKK tidak hanya terbatas pada menjaga akidah umat, tetapi juga meluas hingga membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis masyarakat. Berbagai inisiatif ekonomi yang dijalankan oleh pesantren telah memberikan dampak positif pada perekonomian masyarakat sekitar. Usaha seperti laundry, catering, jajanan sehat dan bergizi, serta budi daya ikan air tawar dan ternak, terbukti mampu memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan perekonomian lokal dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar pesantren.
IBS PKMKK menjadi bukti nyata dalam meng-counter paradigma lama yang memusatkan kekayaan pada figur kiai, dengan menghadirkan model pesantren yang mandiri secara ekonomi. Melalui berbagai program kemandirian, IBS PKMKK menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga mampu membangun sistem ekonomi yang berdaya dan berkelanjutan, berbasis pada partisipasi santri dan masyarakat sekitar. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya kemandirian, seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 261, yang menggambarkan perumpamaan sedekah yang tumbuh dan berkembang menjadi sumber keberkahan bagi umat. Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya berdagang dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, serta membantu sesama. Dengan demikian, model pesantren mandiri ini mencerminkan penerapan nilai-nilai Islam dalam membangun masyarakat yang produktif dan mandiri.
Saat pesantren telah mandiri secara ekonomi, pesantren akan menjadi institusi yang independen dalam aspek sosial maupun politik. Kemandirian ini memungkinkan pesantren untuk lebih fokus pada peranannya sebagai penjaga harmoni masyarakat, serta pemersatu bangsa. Marwah pesantren sebagai pusat pengembangan nilai-nilai agama dan kebangsaan akan semakin terwujud memberikan kontribusi positif dalam menciptakan persatuan dan kesatuan. Dengan demikian, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan, mampu memberdayakan umat dalam berbagai aspek kehidupan, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya.
Menurut data EMIS Kementerian Agama, jumlah pondok pesantren dan pendidikan diniyah di Indonesia pada 2024 mencapai 351.079 lembaga, dengan jumlah santri 4.090.917 orang per 8 November 2024. Betapa besar peluang yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi pesantren, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, maupun sosial. Dengan jumlah santri yang begitu besar, pesantren memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat. Potensi ini dapat dimaksimalkan melalui pengembangan program-program pemberdayaan ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan, serta peran aktif dalam membangun masyarakat yang lebih mandiri dan sejahtera.
Sebagai penutup, jihad santri dalam pemberdayaan masyarakat melalui media digital dan kemandirian ekonomi pesantren menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama, tetapi juga berperan sebagai motor penggerak perubahan sosial dan ekonomi. Dengan memanfaatkan teknologi digital, santri mampu menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan dakwah yang lebih luas, serta menciptakan dampak positif dalam masyarakat. Keberhasilan pesantren seperti IBS PKMKK dalam mengembangkan ekonomi berbasis masyarakat, membuka peluang bagi pesantren lain untuk mengikuti jejak kemandirian ini. Dengan potensi yang begitu besar, santri dan pesantren memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang mandiri, produktif, dan sejahtera, selaras dengan ajaran Islam yang mengutamakan kebaikan bersama dan kesejahteraan umat. (*)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti