Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Ponpes Puncak Darussalam Nisbatkan Nama Pesantren pada Nama Surga

Ina Herdiyana • Minggu, 6 April 2025 | 12:30 WIB

 

Ponpes Puncak Darussalam.  (SIGIT AP/JPRM)
Ponpes Puncak Darussalam. (SIGIT AP/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Balutan keasrian alam terpancar saat memasuki kawasan Pondok Pesantren (Ponpes) Puncak Darussalam. Pepohonan yang rindang semakin menambah hijaunya alam di lokasi tersebut.

Hiruk pikuk perkotaan hampir tak terlihat di Ponpes Puncak Darussalam. Pesantren yang didirikan oleh RKH Abdul Hannan Tibyan itu terletak di dataran tinggi. Tepatnya di Desa Potoan Daja, Kecamatan Palengaan, Pamekasan.

Kiai Hannan mengatakan, nama puncak merujuk pada lokasi pesantren yang berada di ketinggian. Sementara darussalam dinisbatkan pada salah satu nama surga. Nama tersebut diharapkan bisa membawa kebaikan pesantren.

PERINTIS: Pengasuh Ponpes Puncak Darussalam RKH Abdul Hannan Tibyan saat ditemui di ruangannya, Selasa (18/3). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
PERINTIS: Pengasuh Ponpes Puncak Darussalam RKH Abdul Hannan Tibyan saat ditemui di ruangannya, Selasa (18/3). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

”Yakni menjadi a’lal jinan atau puncaknya surga. Puncak itu memiliki arti yang bagus, tapi konotasinya itu terkadang jelek. Makanya, ada tambahan darussalam di belakangnya agar maknanya menjadi bagus,” tutur Kiai Hannan.

Santri mulai mengaji pada kiai yang juga alumnus Ponpes Al-Is’af Kalabaan, Guluk-Guluk, Sumenep, itu sejak 2005. Yakni, saat Kiai Hannan bersama istrinya, Nyai Hj. Ruqoyyah, pindah ke lokasi yang kini menjadi Ponpes Puncak Darussalam.

Kiai Hannan sempat menolak santri. Sebab, lokasi yang ia tempati jauh dari mata air. Dia khawatir santri tidak mendapatkan fasilitas memadai. Namun, dorongan untuk mendirikan pesantren justru semakin kuat.

”Pada 2006, ada Kiai Muntaha dari Desa Pordapor, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep, yang mau meletakkan empat santri di sini, yang salah satunya adalah putranya sendiri. Jadi, dia memaksa walaupun saya tidak mau,” ungkapnya.

SANTAI: Santri membaca kitab di dekat monumen Ponpes Puncak Darussalam, Selasa (18/3). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
SANTAI: Santri membaca kitab di dekat monumen Ponpes Puncak Darussalam, Selasa (18/3). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

Saat itu, Kiai Hannan hanya menjamin ketersediaan air wudu dan air minum kepada keempat santrinya tersebut. Sementara untuk kebutuhan lain seperti mandi dan mencuci, santri menumpang ke rumah-rumah warga.

Ponpes Puncak Darussalam yang awalnya hanya berdiri di atas semak belukar itu, kini telah bertranformasi menjadi pesantren yang memiliki nilai estetika tinggi. Mulai dari aspek bangunan hingga arsitektur lainnya.

Jumlah santri Ponpes Puncak Darussalam semakin bertambah dari tahun ke tahun. Pada 2010, jumlah santri berkisar 50 orang. Di masa itu juga, akta pendirian yayasan dan sekolah menengah pertama (SMP) resmi didirikan.

”Sekitar empat tahun usai mendirikan SMP Puncak Darussalam, barulah terbit izin untuk sekolah menengah atas (SMA). Sebab, jumlah santri di pesantren juga semakin bertambah dari tahun ke tahun,” tutur Kiai Hannan. (afg/luq)

Editor : Ina Herdiyana
#pamekasan #kecamatan palengaan #pesantren #surga #Ponpes Puncak Darussalam