PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pondok Pesantren (Ponpes) Cendana Mubarok berdiri sekitar tahun 1800-an.
Pesantren yang berlokasi di Desa Kadur, Kecamatan Kadur, ini didirikan oleh KH Ihya’ Ulumiddin. Sejak berdiri, lembaga pendidikan ini menjadi corong penyebaran syariat Islam kepada masyarakat.
Saat ini, pesantren yang konsisten mengajarkan ahlusunah wal jamaah tersebut dipimpin pengasuh kesembilan.
Yakni, KH Abdul Hakam Masduqi. Dia memimpin sejak 2012 meneruskan perjuangan para pengasuh sebelumnya.
Kepala Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ulya Darul Jihad Ahnan mewakili KH Abdul Hakam Masduqi menyampaikan, pesantren berdiri tidak lain untuk menyiarkan ajaran agama Islam. Khususnya di daerah Pamekasan dan sekitarnya.
”Waktu itu santrinya tidak hanya dari Kadur. Tapi, ada yang dari Prancak, Sumenep,” katanya Minggu (9/3).
Ahnan mengutarakan, jika melihat nasab KH Ihya’ Ulumiddin, berasal dari Madura bagian barat, yakni Bangkalan. Nasab pendiri pesantren ditengarai nyambung dengan Sunan Giri.
Sebab, sang ibunda, Nyai Dul Isman merupakan keturunan dari Buju’ Cendana, Kwanyar, Bangkalan.
”Secara sanat dimungkinkan masih berkaitan dengan Sunan Giri. Makanya, nama pesantren ini dinamakan cendana,” tuturnya.
Awal pesantren berdiri, KH Ihya’ Ulumiddin gencar mensyiarkan ajaran agama Islam kepada masyarakat.
Yakni, mengajarkan Al-Qur’an dan kitab kuning dengan menerapkan sistem salaf. Sistem tersebut masih diterapkan hingga sekarang.
Ahnan mengungkapkan, Ponpes Cendana Mubarok pernah dituding mengajarkan ajaran radikal. Tuduhan itu berasal dari pemerintah yang tidak paham sejarah pesantren. ”Padahal di sini merupakan markas pejuang sabilillah,” ungkapnya.
Menurutnya, banyak pejuang sabilillah yang gugur saat melawan penjajah. Kaum hawa kehilangan suami dan anak-anak banyak yang yatim.
Pada 1949, pengasuh berinisiatif mendirikan madrasah diniyah dengan nama Darul Jihad yang berarti rumah perjuangan. ”Karena di sini memang markas para pejuang,” paparnya.
Pesantren berupaya mempertahankan sejarah. Bukti sejarah seperti manuskrip masih tersimpan rapi di Ponpes Cendana Mubarok. Selain itu, sisa bangunan seperti langgar dan ruang tamu kiai masih dirawat hingga sekarang.
”Banyak manuskrip yang tidak tertolong karena dimakan rayap. Kita tidak boleh melupakan sejarah. Itu sebagai bentuk refleksi kepada para santri,” pungkasnya. (ay/bil)
Editor : Achmad Andrian F