Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Pondok Pesantren Darul Amin Pamekasan Terapkan Sistem Pendidikan Sayyid Muhammad Al-Maliki

Achmad Andrian F • Kamis, 6 Maret 2025 | 16:45 WIB
RUTINITAS: Santri putra mengaji kepada Pengasuh Ponpes Darul Amin KH Abd. Razak Syafiuddin, Selasa (4/3). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
RUTINITAS: Santri putra mengaji kepada Pengasuh Ponpes Darul Amin KH Abd. Razak Syafiuddin, Selasa (4/3). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Amin baru berusia 32 tahun.

Yayasan yang terletak di Desa Waru Barat, Kecamatan Waru, Pamekasan, itu didirikan oleh KH Abd. Razak Syafiuddin pada 1993 Masehi.

Sebagai pesantren yang mentransmisikan manhaj dari Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, pendekatan keilmuan, adab, hingga dakwah yang diadopsi tak jauh berbeda dengan yang diajarkan oleh ulama besar dari Makkah, Arab Saudi itu.

Kiai Razak pernah menimba ilmu kepada Sayyid Muhammad Al-Maliki.

Grafis oleh Ardy/JPRM
Grafis oleh Ardy/JPRM

Tepatnya, saat Kiai Razak menempuh pendidikan sarjana di Ummul Qura University, Makkah, pada 1981.

Saat itu dia merupakan seorang kharijy atau santri luar.

”Saya beruntung bisa mendapatkan kenikmatan yang luar biasa dengan bisa mengaji kepada Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki, Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani serta ulama-ulama sepuh lainnya di Kota Makkah,” tutur Kiai Razak.

Pada awal mendirikan pesantren, Kiai Razak hanya memiliki enam hingga sepuluh santri. Mayoritas santrinya adalah anak yatim

. Mereka berasal dari beberapa daerah seperti Sampang hingga Probolinggo. Para santri itu belajar tanpa dibebankan biaya.

KARISMATIK: Pengasuh Ponpes Darul Amin KH Abd. Razak Syafiuddin saat ditemui di kediamannya, Desa Waru Barat, Kecamatan Waru, Pamekasan, Selasa (4/3). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
KARISMATIK: Pengasuh Ponpes Darul Amin KH Abd. Razak Syafiuddin saat ditemui di kediamannya, Desa Waru Barat, Kecamatan Waru, Pamekasan, Selasa (4/3). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

”Pesantren memang memberanikan diri untuk menampung anak yatim meski dengan biaya pas-pasan. Termasuk, para anak yatim dari Kabupaten Sambas, Pontianak, yang jadi korban dalam tragedi Sambas pada 1999,” tuturnya.

Kiai kelahiran Bangkalan, 12 Maret 1954 itu menanggung biaya hidup para santri. Termasuk, kebutuhan dalam menimba pendidikan. Saat awal berdiri, pendidikan formal santri Ponpes Darul Amin menumpang di lembaga lain.

Lembaga di pesantren berkembang. Pengembangan pendidikan formal dimulai pada 2000 dengan mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Darul Amin.

Lalu, bertambah madrasah ibtidaiyah tahfiz (MIT), madrasah aliyah (MA), hingga sekolah menengah kejuruan (SMK). Tentu, tradisi keilmuan pesantren tetap dipertahankan.

Menurutnya, upaya yang dilakukan sejalan dengan pemikiran Sayyid Muhammad Al-Maliki. Yakni, mengenai pentingnya ilmu agama dan adab menuntut ilmu.

Penguasaan ilmu agama secara komprehensif mendorong pesantren menyesuaikan sistem pendidikan.

”Saya tidak terlalu fanatik. Akan tetapi, sistem dari Sayyid Muhammad Al-Maliki ini akan dipertahankan. Ini juga akan diteruskan oleh anak-anak saya,” tutur alumnus Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukerojo, Situbondo, itu. (afg/bil)

Editor : Achmad Andrian F
#pondok pesantren #pamekasan #pendidikan #Sayyid Muhammad Al Maliki #darul amin