PAMEKASAN, RadarMadura.id – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digitalisasi, permainan tradisional mulai terlupakan.
Bahkan, banyak yang tidak mengetahui permainan tersebut.
Sejumlah komunitas berinisiatif menghidupkan permainan tersebut melalui festival permainan tradisional yang dikemas dengan tema Hom Pim Pha Ayo Main di Taneyan.
”Kami ingin permainan tradisional melalui festival ini hidup kembali. Seperti mengingat memori,” kata founder Tanean Mosaic Organizer Achmad Maghfur Sabtu (22/2).
Dalam festival yang dilaksanakan di Kafe Manifesco itu ada sekitar 11 permainan tradisional yang dimainkan.
Di antaranya, permainan kaleles, bola bekel, gobak sodor, engrang, lompat karet, kelereng, dan sebagainya.
Permainan kaleles menjadi maskot dalam festival tersebut.
”Permainan tradisional asli Madura salah satunya kaleles. Makanya ingin kami lestarikan sebagaimana pelestarian karapan sapi hingga menjadi event besar,” tuturnya.
Pria yang akrab disapa Mapung itu menjelaskan banyak faktor mengapa permainan tradisional banyak terlupakan.
Selain karena gadget, lahan untuk anak-anak bermain seperti taneyan hampir tidak ada.
”Saya tidak ingin permainan tradisional ini hilang. Jika tidak kami fasilitasi, akan terus hilang,” terangnya.
Pelestarian permainan tersebut diharapkan bisa menjadi festival ikonik Madura.
Targetnya generasi muda supaya bisa melestarikan kekayaan budaya. Membangun komunitas yang kuat, interaksi belajar, dan bermain bersama pada anak hidup kembali.
”Harapan kami, festival ini terus berjalan, sehingga bisa menjadi wisata alternatif yang berkelanjutan,” harapnya.
Dalam kegiatan tersebut ada sejumlah komunitas yang terlibat dalam festival.
Di antaranya, komunitas Compo’ Literasi, Sivitas Kotheka, dan The Notes. Mereka berasal dari sejumlah komunitas kebudayaan, sastra, pendidikan, dan literasi.
Founder Compo’ Literasi M. Arinal Haqil Ghihari membagi permainan tradisional dalam sejumlah kategori.
Yakni, permainan santai, kompetisi tradisional, dan permainan interaksi sosial. Tujuannya, memperkenalkan permainan tersebut kepada pengunjung.
”Kami sediakan khusus edukasi permainan tradisional karena banyak yang tahu tapi lupa cara bermain,” ungkapnya.
Setiap permainan tradisional yang dikenalkan dalam festival tersebut akan diarsipkan dalam digital book.
Tujuannya, agar bisa diakses langsung oleh masyarakat.
”Dari festival ini, kami sediakan medium edukasinya untuk dilestarikan,” pungkasnya. (ay/bil)
Editor : Fatmasari Margaretta