PAMEKASAN, RadarMadura.id – Setiap orang berhak memiliki mimpi. Namun, Tuhan selalu punya cara untuk mewujudkan mimpi hamba-Nya.
Sama seperti Khariratun Horisah yang berhasil menuntaskan penelitian di Jepang dengan jalur beasiswa.
Kesempatan hidup di Negeri Matahari Terbit membuat Khariratun Horisah bersyukur. Mahasiswa magister Universitas Gadjah Mada (UGM) itu tidak menyangka dirinya mampu menghirup aroma bunga sakura langsung di tempatnya. Apalagi, dirinya mendapatkan kesempatan itu secara gratis.
Khariratun Horisah merupakan anak bungsu dari tiga saudara asal Desa Lemper, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, yang berjuang meraih cita-cita.
Meskipun sempat terkendala ekonomi, akhirnya bisa melanjutkan strata dua (S-2) di kampus impian.
”Sebelum masuk di UGM, saya sempat nganggur satu tahun dan bekerja. Alhamdulillah, pada 2023 saya bisa lanjut kuliah,” katanya pada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Senin (10/2).
Sembari duduk di sofa cokelat, perempuan yang akrab disapa Ira tersebut memaparkan bahwa tujuan utama kuliah bukanlah di UGM.
Dulu dia ingin melanjutkan pendidikan ke Jepang. Sebab, dia tertarik akan kehidupan di negara tersebut.
”Karena secara persiapan lebih panjang dan belum tahu pendidikan apa di Jepang, jadi saya memilih di Indonesia saja,” kenang putri pasangan Muslimin (alm) dan Busiyah itu.
Di UGM, Ira menempuh pendidikan magister ilmu dan teknologi pangan dengan jalur lembaga pengelola dana pendidikan (LPDP).
Namun, siapa sangka jurusan yang dipilih mewujudkan keinginannya untuk menempuh studi ke Jepang.
Dia punya kesempatan mengikuti program Six University Initiative Japan-Indonesia Joint Program for Masters (SUIJI JP-Ms).
”Saat masuk UGM, saya tidak tahu akan ada program ini ke Jepang, karena program ini selama Covid-19 tidak ada. Alhamdulillah, setelah saya masuk, program ini ada kembali,” paparnya.
Setelah bersaing dengan mahasiswa lain, Ira dinyatakan lolos dalam program kolaborasi riset tersebut. Dia berhasil menjadi mahasiswa yang lolos ke Jepang untuk menuntaskan penelitian.
Judul penelitian yang diambil Anti-Allergy Effect of Probiotic Goat Milk Yogurt with Indonesian Indigenous Bacteria Streptococcus Thermophilus Dad-11 And Lactiplantibacillus Plantarum Subsp. Plantarum Dad-13 (Efek Anti Alergi Yogurt Susu Kambing Probiotik dengan Bakteri Asli Indonesia Streptococcus Thermophilus Dad-11 dan Lactiplantibacillus Plantarum Subsp. Plantarum Ayah-13).
”Di penelitian ini kami menguji pengaruh fermentasi susu kambing dengan bakteri lokal Indonesia yang manfaatnya untuk menurunkan sifat alergi,” terangnya.
Selama pelaksanaan penelitian itu, Ira dibimbing oleh Prof Takuya Sugahara di Tarumi Campus, Ehime University Jepang.
Latar belakang penelitian ini didasari karena masih banyak masyarakat alergi susu yang mengandung alergen. Padahal, susu sangat penting untuk kebutuhan asupan manusia.
”Untuk mengurangi alergen itu kami jadikan fermentasi pada yogurt melalui bakteri lokal dan ini di Indonesia belum ada sepertinya,” ucapnya.
Hasilnya, susu kambing yang difermentasi pada yougurt melalui bakteri streptococcus thermophilus dad-11 and Lactiplantibacillus Plantarum Subsp. Plantarum Dad-13 berhasil menurunkan alergi pada susu. Sebab, kerja bakteri tersebut bisa mencegah terjadinya alergi jika dikonsumsi.
”Pernah ada penelitian ini, cuma pada susu sapi dan bakteri yang berbeda. Untuk susu kambing baru saya sepertinya,” jelas perempuan kelahiran Pamekasan, 16 Agustus 1999, itu.
Perempuan 25 tahun tersebut tidak menyangka akhirnya berhasil menuntaskan studi di Jepang. Apalagi, dirinya menjalankan studi tersebut melalui jalur beasiswa. Biaya hidup satu bulan 80.000 yen atau setara dengan Rp 8 juta.
”Tentu saya sangat bersyukur. Apalagi, saya mampu menuntaskan penelitian ini di Laboratory of Animal Cell Technology, Agriculture Faculty, Ehime University,” paparnya.
Pahit manis selama di Jepang memberi pelajaran hidup baginya. Sembari memperjuangkan penelitian tesis, dia berjuang untuk beradaptasi. Sebab, kehidupan di sana tidak sama degan Indonesia.
”Selain kehidupannya yang disiplin, juga tidak membuang sampah sembarangan, mencari makanan yang halal, termasuk sulitnya kami mencari tempat untuk salat,” jelasnya.
Selama sepuluh bulan menempuh studi di Jepang dia butuh waktu untuk beradaptasi dengan masyarakat yang mayoritas nonmuslim. Merayakan Lebaran merupakan momen penting yang tidak bisa diabadikan.
”Waktu Lebaran di sana kami salat Id saja tidak boleh di-publish. Untuk perkumpulan, kami menyewa rumah untuk dijadikan masjid,” paparnya.
Di sisi lain, dia mendapat banyak pelajaran positif. Seperti keramahan orang Jepang terhadap pengendara sepeda dan pejalan kaki, kedisiplinan, dan keramahan setiap pelayan. Selain itu, tingkat kejujuran orang Jepang yang sangat tinggi.
”Kalau kami yang salah, mereka yang minta maaf. Mereka juga tidak mengambil apa yang bukan hak mereka, rasa kepeduliannya juga tinggi,” terangnya. (ay/luq)
Editor : Achmad Andrian F