PAMEKASAN, RadarMadura.id – Program desa tangguh bencana (destana) bertujuan menyiapkan desa agar memiliki kemampuan mengenali dan menangani bila terjadi bencana.
Namun, destana hanya terbentuk di 16 desa/kelurahan. Padahal. Pemekasan terdiri atas 178 desa dan 11 kelurahan di 13 kecamatan.
Pengamat kebijakan publik Ahmad Faidi Haris menilai, program gagasan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu sangat penting diseriusi oleh pemerintah. Khususnya, wilayah yang masuk potensi bencana.
”Sehingga masyarakat di wilayah tersebut mampu mengenali ancaman di wilayahnya dan meminimalkan risiko saat terjadi bencana,” kata Faidi.
Baca Juga: DPRD Pamekasan Minta Prioritaskan Infrastruktur Jalan, Terungkap dalam Paripurna tentang RAPBD 2025
Dosen IAIN Madura itu juga menyebut, dengan program destana tersebut, tiap desa bisa melakukan penanggulangan bencana sejak dini. Sehingga, dampaknya tidak terlalu signifikan.
”Sudah sewajarnya pemerintah terus meningkatkan destana. Mengingat, di Pamekasan terdapat beberapa titik yang sering terjadi banjir, longsor, dan bencana lainnya,” pesannya.
Sementara itu, Plt Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan Akhmad Dhofir Rosidi belum bisa dimintai keterangan.
Baca Juga: Cari Tempat Tenang? Coba Glamping di Gunung Salak, Dijamin Betah!
Dia beralasan sedang dalam kegiatan. Jawa Pos Radar Madura (JPRM) juga berupaya menghubungi Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pamekasan Zainal Mistuki. Namun, Mistuki mengaku sedang dinas di luar.
”Bisa langsung ke Kalaksa,” katanya. (lil/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta