Harga Tikar Terkatrol Daun Emas, Meroket kala Puncak Masa Panen

Ina Herdiyana • Dipublikasikan Minggu, 6 Oktober 2024 | 13:25 WIB
ALAMI: Yunsanah menganyam tikar di Desa Kertagena Laok, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Sabtu (22/9). (AYU LATIFAH/JPRM)
ALAMI: Yunsanah menganyam tikar di Desa Kertagena Laok, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Sabtu (22/9). (AYU LATIFAH/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Musim tembakau menjadi pesta petani menjemput rupiah. Para perajin tikar anyaman silawan (rakara) juga ketiban berkah. Satu lembar tikar bisa laku hingga Rp 80 ribu.

Salah seorang perajin Yunsanah telah 30 tahun lebih menekuni pekerjaannya sebagai penganyam tikar. Keterampilan itu turun-menurun dari keluarga dan lingkungannya.

Sebab, mayoritas warga di Desa Kartagenah Laok, Kecamatan Kadur, Pamekasan, merupakan perajin tikar.

”Sudah tidak ingat pastinya tahun berapa. Tapi, puluhan tahun lalu dan di sini hampir setiap rumah membuat tikar,” tuturnya Sabtu (21/9).

Tikar yang dianyam perempuan yang akrab disapa Buk Yun itu tidak jauh beda dengan tikar daun pada umumnya.

Hanya, tikar ini terbuat dari daun siwalan. Cirinya hanya daun cukup tua dan mekar yang layak dijadikan tikar. ”Kalau yang masih kuncup tidak layak. Kami ambil yang sudah mekar daunnya,” jelasnya.

Para perajin biasanya menganyam saat memasuki musim tembakau. Tikar ini digunakan oleh petani atau pengusaha untuk membungkus tembakau yang sudah kering.

Kebutuhan tikar selalu meningkat saat musim panen. ”Kadang awal musim tanam sudah banyak yang cari karena mereka menstok,” ucapnya.

Harga tikar ini mengikuti harga tembakau. Tahun ini harganya meroket dibandingkan tahun lalu. Dari Rp 45 ribu per lembar menjadi Rp 80 ribu.

”Tahun ini naik karena musimnya lebih panjang daripada tahun lalu dan sekarang pergudangan banyak yang cari,” paparnya.

Sebelum dianyam, daun siwalan tersebut dipisah dari tangkai. Biasanya, tangkainya dijual berbeda kepada pengusaha atau petani bawang merah dengan harga Rp 10 ribu per ikat.

”Kami pilah untuk dikirim ke Probolinggo yang digunakan untuk mengikat bawang merah,” ungkap Yun.

Harga tikar yang mahal sebanding dengan pembuatan yang juga memakan waktu yang tidak sebentar.

Sebelum dianyam, daun siwalan dijemur. Setelah disortir dan dipisahkan dengan tangkainya, daun tersebut kembali dipotong untuk menentukan ukuran.

Biasanya, panjangnya 275 sentimeter dengan lebar 156 sentimeter. ”Kalau saya sehari dapat satu. Kalau yang rajin sehari semalam bisa tiga lembar,” paparnya.

Perempuan 60 tahun itu telah memproduksi dari awal musim. Setidaknya sudah ada lima gulungan tikar yang terjual kepada pengepul. Satu gulungan berisi 10 lembar.

Dengan demikian, kurang lebih pendapatannya sudah Rp 4 juta atau sekali produksi tiap pekan bisa tembus Rp 500 ribu atau Rp 600 ribu.

”Tapi kalau kadung murah bisa Rp 25 ribu per lembar jika tembakau murah. Alhamdulillah, meski demikian cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya. (ay/luq)

Editor : Ina Herdiyana
tembakau Tikar Masa panen daun emas puncak