Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Produksi Garam Rakyat di Pamekasan Capai Belasan Ribu Ton

Fatmasari Margaretta • Sabtu, 14 September 2024 | 09:13 WIB

 

KRISTAL ASIN: Petani garam Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, membersihkan geomembran sehabis panen, Selasa (3/9). (M. KHOLIL RAMLI/JPRM)
KRISTAL ASIN: Petani garam Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, membersihkan geomembran sehabis panen, Selasa (3/9). (M. KHOLIL RAMLI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Kemarau menjadi musim bagi petani garam untuk memproduksi kristal putih. Cuaca mendukung tingginya hasil produksi.

Sejak Januari hingga Juli, jumlah produksi garam rakyat mencapai 12.566,20 ton.

Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Pamekasan Abdul Fata melalui Kabid Perikanan Budi Daya Luthfie Asy’ari menyebut, mayoritas petani mulai melakukan produksi sejak awal kemarau. Sehingga, tingkat produksinya cukup tinggi.

”Didukung dengan, hampir 80 persen lahan tambak garam telah memakai sistem produksi modern, yaitu dengan menggunakan geomembran,” kata Luthfie, Kamis (12/9).

Dia mengeklaim, pada musim 2023, produksi garam rakyat mencapai 124 ribu ton lebih. Sementara produksi 2022 hanya 89 ribu ton.

Luthfie optimistis tahun ini produksi garam rakyat akan mengalami peningkatan yang signifikan.

”Serapan pembelian gudang juga bagus, angkanya mencapai sekitar 9.768,20 ton,” tuturnya.

Sementara itu, harga garam di Bumi Ronggosukowati juga mengalami pergerakan yang positif.

Dari yang sebelumnya Rp 700 ribu hingga Rp 800 ribu per ton, naik menjadi Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta per ton.

Luthfie mengakui bahwa pemerintah tidak bisa memengaruhi dan mengatur naik turunnya harga garam. Semua keputusan menjadi wewenang pabrikan.

”Semoga harganya terus naik. Pesan saya, petani tetap menjaga kualitas garamnya,” ujarnya.

Sementara itu, petani garam Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, Sari menuturkan bahwa dengan menggunakan geomembran, tingkat produksinya lebih cepat. Dalam satu bulan bisa panen hingga tiga kali.

”Kalau harga, kemarin saya menjual masih Rp 800 ribu per ton. Jauh lebih mahal tahun kemarin. Mudah-mudahan ke depan tambah naik harganya,” tuturnya. (lil/luq)

Editor : Fatmasari Margaretta
#kemarau #garam #produksi #kristal putih #Geomembran #cuaca #Petani