PAMEKASAN, RadarMadura.id – Konsumsi beras di Kabupaten Pamekasan sangat tinggi.
Buktinya, serapan beras Bulog selama periode Januari hingga Agustus sudah tembus di angka 700 ton.
Penyebab tingginya serapan beras di Bumi Ronggosukowati karena harga beras di bawah harga pasar.
Sebab, saat awal tahun stok beras di masyarakat Pamekasan tidak mencukupi, sehingga permintaan cukup tinggi.
”Masa panen hanya satu kali di Pamekasan. Sehingga, penyerapannya cukup tinggi,” kata Pimpinan Cabang Perum Bulog Kantor Cabang Madura Kuswadi, Kamis (12/9).
Serapan beras di Pamekasan adalah tertinggi se-Madura (lihat grafis).
Karena tiga kabupaten lain, yaitu Sumenep, Sampang, dan Bangkalan, ladang pertaniannya bisa panen hingga dua kali dalam satu tahun.
”Jadi, di tiga kabupaten itu masyarakatnya ada yang menyimpan stok di masing-masing rumah. Sehingga, serapannya tidak sebanyak Pamekasan,” ujarnya.
Kuswadi menilai, serapan 700 ton di Pamekasan masih tergolong wajar. Meskipun di tahun ini ada peningkatan dari tahun sebelumnya.
Sebab, jumlah penduduk di Kota Gerbang Salam sebanyak 869.711 jiwa berdasar data BPS 2023.
”Pada periode yang sama, serapan tahun lalu 500 ton. Berarti ada peningkatan sebesar 200 ton,” ungkapnya.
Kuswadi mengeklaim stok beras sampai saat ini masih aman, karena ada sekitar 400 ton untuk semua wilayah Madura.
Namun, pihaknya tetap melakukan pengajuan penambahan dan dalam waktu dekat akan melakukan pengiriman.
”Saat ini sedang kami ajukan lagi tambahan stok sekitar 400 ton. Tujuannya, antisipasi hingga akhir tahun. Karena ketika terjadi kenaikan harga, inflasi naik juga. Ini akan menjadi rapor merah, jadi stok harus selalu siap” tegasnya.
Sementara itu, warga Desa Ambander, Kecamatan Pegantenan, Siti Aminah mengaku terbantu dengan beras Bulog.
Baginya, harga beras Bulog sangat bersahabat dengan kondisi keuangan keluarganya.
”Terutama kalau ada pasar murah. Itu sangat membantu sekali bagi kami sebagai orang desa yang pendapatan setiap harinya tidak menentu,” pungkasnya. (lil/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta