PAMEKASAN, RadarMadura.id – Luas lahan garam rakyat di Kabupaten Pamekasan saat ini mencapai 973,6 hektare.
Namun, tidak semua petani memanfaatkan teknologi geomembran saat memproduksi garam di lahan seluas ratusan hektare tersebut.
Kabid Perikanan Budi Daya Dinas Perikanan (Diskan) Pamekasan Luthfie Asy’ari mengatakan, ada beberapa alasan petambak tidak menerapkan sistem produksi modern. Salah satunya, tidak memiliki biaya.
”Baru 80 persen petambak yang menggunakan geomembran,” katanya.
Pria berbadan tegap itu menuturkan, penerapan geomembran sangat efektif dalam menunjang produksi garam.
Baik terhadap kualitas maupun kuantitas jumlah produksi.
”Sebagian petani garam tidak mau meninggalkan pola lama. Karena itu, mereka memproduksi garam secara konvensional,” sebutnya.
Luthfie mengeklaim, intitusinya terus mendorong para petani di Bumi Ronggosukowati untuk menggunakan teknologi geomembran.
Salah satu cara yang dilakukan diskan adalah mengusulkan bantuan program lahan integrasi ke pemerintah pusat.
”Program tersebut biasanya satu paket dengan bantuan geomembran. Namun, kami tidak tahu apakah (jumlah penerimanya) sama dengan tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Busri, salah seorang petani garam Desa Lembung, Kecamatan Galis, menyatakan petani di daerahnya kebanyakan menggunakan geomembran.
Namun, juga ada yang masih menggunakan cara tradisional.
”Lebih cepat menggunakan geomembran. Kalau cuaca mendukung, satu bulan bisa panen tiga sampai empat kali,” ujarnya. (lil/yan)
Editor : Fatmasari Margaretta