PAMEKASAN, RadarMadura.id – Satu lahan banyak jenis tanaman. Sistem tumpang sari itulah yang diterapkan Nolo Garjito yang menanam cabai rawit dan pohon jeruk.
Laki-laki dengan kaus dan celana pendek itu duduk santai di gardu di tengah lahan seluas 1,5 hektare.
Tiga orang pekerja membantu pria bernama Nolo Garjito itu membersihkan rumput-rumput liar yang mengganggu tanaman di lahan tersebut.
Nolo mengaku, baru kali pertama menanam cabai rawit dengan sistem tumpang sari pada pohon jeruk.
Hal itu dia gunakan untuk memanfaatkan lahan kosong di bawahnya untuk hasil berkali lipat dari dua tanaman itu.
”Ini juga masih baru nanam, ada yang dua minggu, seminggu,” ujar warga Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan, itu, Sabtu (3/8).
Dia mengatakan, penanaman hanya menyemai benih selama dua hari. Lalu dipindah di lahan yang sebelumnya dicampur dengan pupuk kandang.
Kemudian, ditanam dengan jarak satu meter antar tanaman dan 80 sentimeter dengan bedeng lain. Penyiraman harus rutin agar kebutuhan air tercukupi.
Nolo biasa memberi pupuk NPK yang dinilai lengkap untuk kebutuhan tanaman. Pupuk itu ditaruh di tanah tanpa tersentuh tanaman cabai.
”Dikira-kira saja, yang intinya harus banyak agar pohon jeruknya itu mendapatkan asupan nutrisi,” jelas Nolo.
Ketika sudah usia satu minggu, penyiraman cukup dilakukan apabila tanaman terlihat layu.
Baca Juga: 10 Tanaman Untuk Obat Luka Selain Daun Binahong
Sehingga, bisa segar kembali dan juga diimbangi dengan perawatan.
Daun keriting bisa diberi insektisida dan apabila terkena serangga menggunakan fungisida. Dua bulan sejak tanam, cabai rawit tersebut sudah bisa berbuah.
Nolo meyakini cabai rawit bisa mencegah penyakit jantung. Karena mengandung vitamin B6, asam folat, potassium, dan betakaroten dengan menjaga tekanan darah dan menangkal kolesterol jahat.
”Katanya bagus juga untuk kesehatan jantung, mengurangi risiko kanker, mencegah penyakit beri-beri, dan masih banyak lagi,” kata Nolo.
Nolo baru pertama menanam cabai rawit ini. Seharusnya bersamaan dengan musim tanam tembakau karena hasilnya bisa mahal karena bisa tembus Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu per kilogram.
Nolo berharap, buah cabai rawitnya bisa mendapatkan hasil yang sepadan dengan pengeluaran keuangan atau tenaga.
”Insyaallah hasilnya lumayan nantinya. Suka menanam cabai rawit karena memang selain banyak peminatnya, perawatannya juga mudah,” ujar pria yang menjabat Plt Kepala DKPP Pamekasan itu. (ail/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti