PAMEKASAN, RadarMadura.id – Setiap bonsai memiliki bentuk yang berbeda. Namun, harus mengikuti prosedur. Tidak asal membuat tanaman kerdil di atas pot. Tapi, 75 persen alam dan 25 persen seni.
”Jangan dibalik, bisa amburadul itu,” kata Firdaus Andriansyah, pencinta bonsai asal warga Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan.
Dia mengatakan, cara tanam masih sama dengan tanaman lain. Hanya, untuk media tanam bergantung pada jenis pohon.
Seperti, media tanam bonsai pohon beringin diperbolehkan menggunakan tanah. Namun, apabila ingin subur dan tumbuh dengan baik, disarankan menggunakan pasir Gunung Bromo.
Sebab, ketika disiram, bisa langsung menyerap. Apabila air itu mengendap, akan terjadi pembusukan pada akar.
Beda lagi dengan jenis serut yang memang lebih dominan terhadap tanah gunung karena apabila terlalu banyak pasir, daunnya akan menguning. Hal itu kembali lagi pada habitat alamnya yang hidupnya di gunung.
”Lalu untuk santeki ini, karena ada di bibir pantai yang sama dengan mangrove, maka media tidak boleh pakai tanah liat. Harus pasir. Kalau bukan pasir laut, bisa pakai pasir Gunung Bromo yang dicampur dengan sekam bakar dan kotoran kambing yang sudah kering, kemudian diaduk jadi satu. Makanya, yang paling mahal itu santeki karena medianya saja sudah banyak,” jelas Firdaus.
Menurutnya, semua tanaman tidak bisa dijadikan bonsai. Hanya tanaman dengan jenis kayu keras yang bisa.
Semua jenis tanaman bonsai sudah ada kamusnya, dari huruf A sampai Z. Seperti A asam, B bodi, W pohon waru, dan Z ada Zelkova.
Cara memotongnya pun berbeda. Ada teknik khusus dengan melihat kondisi daun. Apabila sehat, boleh dipotong.
Namun, jika tidak segar atau sakit dan dipaksa dipotong, bisa mati. Faktor yang mengakibatkan tidak sehat itu karena media tanam sudah penuh. Sehingga, dibutuhkan peremajaan setiap lima tahun sekali dengan memotong akar.
Baca Juga: Banyak Dibuang dan Tumbuh Liar, Ini Manfaat Besar Tanaman Hias Lily Paris Bagi Kesehatan
Pencinta bonsai juga harus bisa mengatasi penyakit atau hama. Seperti cacing yang bisa dihindari dengan menggunakan sekam bakar.
Kemudian, penyakit kutu putih bisa disemprot dengan insektisida. Pada musim hujan juga kadang muncul jamur.
”Membentuknya juga ada teknik, menggunakan kawat khusus bonsai. Kalau tidak ada kawat, sulit untuk mengatur modelnya,” kata Firdaus. (ail/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti