PAMEKASAN, RadarMadura.kid – Petani masih kesulitan mendapat pupuk subsidi. Selain itu, harga jual masih di atas harga eceran tertinggi (HET).
Hal itu dirasakan Lutfiyanto, petani asal Desa Seddur, Kecamatan Pakong, Pamekasan.
Dia mengaku kesulitan untuk mendapat pupuk subsidi. Meski sudah bergabung di kelompok tani, jatah pupuk subsidi tidak cukup. Sebab, dibatasi setiap dua kepala keluarga (KK) hanya mendapatkan satu sak pupuk.
Menurutnya, jatah tersebut sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan tanaman. ”Saya juga pernah beli ke poktan di desa lain,” ujarnya.
Selain itu, biaya tebus pupuk subsidi di atas HET. Dia harus menyiapkan uang Rp 150 ribu per sak berisi 50 kilogram. Terkadang dia membayar terlebih dahulu.
”Kalau tidak masuk poktan harus beli ke kios dengan harga lebih mahal yakni Rp 250 ribu,” bebernya.
Karena itu, Lutfi berharap, pemerintah segera menangani karut-marut pupuk subsidi tersebut. Dengan begitu, tidak terjadi lagi kelangkaan pupuk subsidi.
”Penyaluran juga harus sesuai dengan aturan yang ada,” harapnya.
Terpisah, Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pamekasan Nolo Garjito mengaku, pihaknya belum menemukan penjualan pupuk subsidi di atas HET.
Kemungkinan, kata dia, biaya yang dikeluarkan petani dihitung dengan biaya transpor. ”Jadi kalau di atas HET, mungkin karena ada uang transportasi,” terangnya.
Nolo mengatakan, pihaknya sudah melakukan rapat dengan tim KP3 untuk mengantisipasi permasalahan pupuk subsidi di lapangan.
Baca Juga: Masuk KLB, Puskesmas di Sampang Sisir 31 Ribu Anak, Kejar Target Sub PIN Penanggulangan Polio
Pihaknya akan turun langsung saat pendistribusian pupuk. Dijadwalkan bulan ini pupuk subsidi akan distribusikan.
”Kami buat surat berisi 10 kesepakatan ke kios. Salah satunya catatan pendistribusian pupuk secara rinci, baik dari distributor, kios, hingga poktan,” pungkasnya. (ail/bil)
Editor : Fatmasari Margaretta