Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Budayawan Kadarisman: Citra Madura Harus Ditata Ulang

Ina Herdiyana • Rabu, 17 Januari 2024 | 14:00 WIB
DIALOG: Dari kiri, Wildona Zuman, Syaiful Anam, Prof Erie Hariyanto, dan budayawan Madura Kadarisman Sastrodiwirjo dalam bedah buku Demadurologi di Mandhapa Agung Ronggosukowati Pamekasan.
DIALOG: Dari kiri, Wildona Zuman, Syaiful Anam, Prof Erie Hariyanto, dan budayawan Madura Kadarisman Sastrodiwirjo dalam bedah buku Demadurologi di Mandhapa Agung Ronggosukowati Pamekasan.

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Perbincangan tentang Madura tidak akan pernah selesai. Apalagi menyangkut sejarah dan budaya. Stigma itu harus diluruskan. Termasuk masalah kekerasan.

Budayawan Kadarisman Sastrodiwirjo didapuk sebagai pengulas buku Demadurologi: Manusia Madura, Kemewaktuan, dan Memori karya Syaiful Anam di Mandhapa Agung Ronggosukowati Pamekasan Selasa (16/1). Ulasan buku itu juga melibatkan Guru Besar IAIN Madura Erie Hariyanto.

Secara garis besar, Kadarisman mengatakan bahwa konsekuensi dari citra yang dibangun oleh kolonialisme Belanda masih mengakar hingga saat ini.

Karena itu, perlu ditata ulang (dekolonisasi) agar citra itu tidak terus-menerus direproduksi. Menurut dia, sejarah Madura yang dikenalkan oleh kolonialisme Belanda memang tidak sesuai dengan realitas.

Sebab, lintasan sejarah itu hanya bertopang pada Madura era kolonialisme. ”Termasuk dari soal pakaian dan terutama adalah bahasa,” tuturnya.

Pria yang pernah menjabat sebagai wakil bupati Pamekasan periode 2003–2008 dan 2008–2013 itu bercerita, selama ini jawanisasi yang dilakukan Belanda itu luar biasa. Dari aspek bahasa, akar bahasa Madura bukanlah Jawa.

”Padahal, bahasa Madura adalah Melayu. Yang masuk di dalamnya banyak kosakata melayu, bukan Jawa,” ucapnya.

Tidak hanya itu, Kadarisman juga menyinggung soal tradisi merantau orang Madura yang digambarkan melalui istilah ongga dan toron.

Istilah tersebut bagi dia sangat problematik karena menempatkan posisi masyarakat Madura ke dalam ruang inferior.

Istilah ongga berkonotasi naik ke tempat yang lebih atas. Sedangkan toron berkonotasi pada sesuatu yang lebih rendah.

Istilah itu muncul karena bersamaan dengan stigma bahwa tanah Madura tandus dan kurang subur. Karena itu, orang-orang Madura lebih suka merantau.

Padahal, tidak demikian menurut Kadarisman. Pemerintah kolonial ketika datang ke Madura yang dilakukan adalah penggundulan hutan untuk membangun transportasi demi kepentingan mereka.

”Tanah kita subur. Cuma, memang lebih banyak hamparan batu kapurnya. Makanya, ada istilah batungampar,” ucapnya.

Kadarisman mengapresiasi penulis Syaiful Anam yang melahirkan buku Demadurologi. Sebab, dia telah berupaya mengubah cara pandang terhadap Madura dari dalam.

Dia berharap, upaya-upaya tersebut juga didukung oleh kebijakan pemerintah melalui pelestarian budaya dan sektor pendidikan.

”Kita memang harus pelan-pelan mengubah stigma yang dimunculkan itu. Ketika sejarah kita ditulis orang lain, maka identitas yang terbentuk dalam diri kita adalah definisi orang lain," terangnya.

Kita jangan mau dibilang keras karena memang kita itu sangat menjunjung tinggi budaya andhap asor,” tandasnya.

Sementara itu, penyair M. Faizi yang turut hadir mengapresiasi buku Demadurologi. Bagi dia, Syaiful Anam melakukan sesuatu yang hampir tidak dilakukan penulis lain.

Yakni, mengkritik dan berhadap-hadapan secara langsung dengan karya besar yang ditulis Kuntowijoyo tentang Madura.

”Ini buku luar biasa karena hampir tidak ada yang mengkritik buku Kuntowijoyo,” kata kiai dari Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, itu. (di/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

 

Editor : Ina Herdiyana
#bedah buku #Mandhapa Agung Ronggosukowati #pamekasan #budayawan #sejarah #Kadarisman Sastrodiwirjo #andhap asor #demadurologi