Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Guru Besar IAIN Madura Prof Siswanto: Filsafat Itu Tidak Bisa Dijustifikasi Sesat dan Berbahaya

Ina Herdiyana • Rabu, 15 November 2023 | 14:54 WIB
BERPRESTASI: Prof. Dr. Siswanto, M.Pd.I. membaca buku saat ditemui di ruang kerjanya Senin (13/11). (MOH. JUNAIDI/JPRM)
BERPRESTASI: Prof. Dr. Siswanto, M.Pd.I. membaca buku saat ditemui di ruang kerjanya Senin (13/11). (MOH. JUNAIDI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura memiliki tujuh guru besar. Salah satunya Prof Siswanto. Dia meraih gelar profesor melalui bidang filsafat pendidikan Islam pada Sabtu (5/8).

Bukan perkara mudah untuk meraih gelar guru besar. Ada persyaratan yang harus terpenuhi. Baik administrasi maupun persyaratan akademis. Namun, Prof Siswanto mampu mencapainya.

Gelar profesor identik dengan dunia akademik. Sebab, dia punya tanggung jawab besar dalam bidang keilmuan dan akademik. Seseorang yang mendapat gelar tersebut secara etik telah dipandang menguasai bidang keilmuan tertentu.

Perjalanan akademik Siawanto berliku. Dia mengaku sempat frustasi karena peluang untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi setelah lulus dari madrasah aliyah (MA) hampir tidak tercapai. Penyebabnya, dia kehilangan orang tua yang selama ini membiayai pendidikannya.

”Dulu waktu ayah saya meninggal, saya sudah berpikir tidak bisa kuliah karena tidak ada yang akan menanggung biaya saya,” tutur Siswanto kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Senin (13/11).

Nasib baik kadang datang tak terduga. Seperti dialami Siswanto saat itu, guru di pesantrennya, yakni KH Fariduddin Tamim, mendorong dan memberinya motivasi. Pascalulus, dia melanjutkan ke Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, untuk kuliah.

Gelar sarjananya diraih pada Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam IAI Nurul Jadid Paiton. Kemudian, program pascasarjana dan doktoral diselesaikan di IAIN Sunan Ampel Surabaya (sekarang UIN) pada konsentrasi pendidikan Islam.

”Jadi, ada beda. Kalau di Nurul Jadid memilih jurusan pendidikan bahasa Arab, sedangkan di IAIN saya memilih konsentrasi pendidikan Islam,” tuturnya.

Siswanto menceritakan hampir tidak pernah bermimpi dan menargetkan gelar profesor menempel pada namanya seperti saat ini. Hal itu merupakan hasil dari konsistensi dan ketekunannya dalam dunia pendidikan.

”Saya mengajar di IAIN itu empat bulan setelah lulus S-2. Kebetulan, jurusan saya ada korelasi dengan formasi CPNS yang waktu itu dibutuhkan,” ucapnya.

Siswanto meraih gelar profesor dalam proses yang relatif singkat. Yakni, enam bulan pasca pengajuan. Padahal, sejak jauh-jauh hari persyaratannya terpenuhi semua seperti karya akademik yang terbit di jurnal internasional.

”Kalau persyaratan saya terpenuhi lama. Tapi, pengajuan itu baru. Termasuk cepat proses yang saya jalani,” jelasnya.

Pria yang tinggal di Dusun Bulu, Desa Larangan Luar, Kecamatan Larangan, Pamekasan, itu menuturkan, titel yang diraihnya akan dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa. Salah satunya melalui pengabdian dalam bidang pendidikan, terutama yang berbasis keislaman.

Sebagai akademisi, Siswanto memiliki pemikiran dan pandangan sendiri terhadap dunia sekitarnya, yakni pendidikan itu sendiri. ”Filsafat pendidikan itu ya topik utamanya tentang semua yang berkaitan dengan pendidikan. Di kampus kami mencoba menelaah pemikiran para filsuf muslim, tapi yang berkaitan dengan pendidikan,” terangnya.

Suami Hosnawiyah itu memandang, setiap mendengar kata filsafat, telinga masyarakat cenderung anti. Hal itu tidak lepas dari munculnya doktrin sesat bagi orang-orang yang belajar filsafat. Padahal tidak demikian. ”Itu pandangan yang tidak berdasar sama sekali,” tegasnya.

Filsafat sebagai ilmu memiliki batasan tertentu yang harus dipenuhi. Artinya, proses belajar tetap mengacu pada kaidah-kaidah tertentu di dalam filsafat. ”Makanya, ada istilah epistemologi. Itu maksudnya kan batasan. Jadi, tidak bisa dijustifikasi filsafat itu sesat dan berbahaya untuk dipelajari,” bebernya.

Sebagai pakar dunia pendidikan, ayah M. Naufal Al Qurthuby Fuady ini menuturkan, pendidikan di Indonesia masih jauh dari ideal. Selama ini selalu dibebani politik melalui kebijakan. Dia mencontohkan pergantian kurikulum pada setiap pergantian menteri.

Dengan demikian, dosen maupun tenaga pendidik lainnya tidak bisa fokus. ”Itu problem besar yang harus diselesaikan,” katanya.

Keberhasilan dunia pendidikan itu tidak hanya dilihat dari satu perspektif. Yakni, pintar dan cerdas. Tetapi, harus dilihat juga implikasinya.

Karena bagaimanapun, adanya pendidikan itu untuk mengarahkan pada kehidupan manusia yang lebih baik. ”Ada nilai etik di dalamnya,” kata Siswanto.

Pria kelahiran Pamekasan, 15 Februari 1978, itu mengatakan ada pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan. Termasuk selama ini pendidikan kerap diposisikan sebagai jembatan untuk meraih sesuatu yang nilainya tidak jauh lebih besar daripada pendidikan itu sendiri.

Dia berharap, pola pikir seperti ini mulai diperhatikan pemerintah. Terutama jika di Madura adalah pesantren. Sebab, peran pesantren dalam memajukan sumber daya manusia (SDM) sangat luar biasa.

”Intinya, jangan sampai ada tujuan lain selain untuk mendapat ilmu pengetahuan. Sebab, pengetahuan itu nantinya juga mengarah pada aspek berikunya, yakni kognitif, psikomotorik, dan afektif. Yang paling dominan adalah kognitif dan efektif karena itu tujuan yang ingin dicapai dengan adanya pendidikan,” tandasnya. (*/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Ina Herdiyana
#profesor #Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura #pamekasan #motivasi #pendidikan #kota gerbang salam #guru besar #Fakultas Tarbiyah #radar madura #Prof Siswanto