PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pembangunan sentra pedagang kaki lima (PKL) Food Colony menelan anggaran Rp 3,5 miliar.
Namun, aset yang berada di Jalan Kesehatan, Kelurahan Barurambat Kota, tersebut kurang diminati pedagang.
Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) dan Tenaga Kerja Pamekasan Muttaqin menyatakan, Food Colony dibangun untuk mengakomodasi pedagang yang berjualan di area terlarang. Nyatanya, lokasi bekas rumah sakit itu kurang diminati.
”PKL kurang minat karena mereka menganggap lebih banyak pembeli di tempat semula dibanding di sentra PKL,” ucapnya.
Muttaqin mengeklaim, saat awal difungsikan, banyak pedagang yang berebut untuk berjualan di Food Colony. Namun, rata-rata saat ini meninggalkan tempat berjualannya.
Buktinya, dari 240 kios, kini hanya ada 50 yang ditempati.
Namun, pihaknya tidak dapat berbuat banyak untuk meminta PKL menempati fasilitas yang telah menelan anggaran miliaran tersebut.
Saat ini pihaknya hanya bisa mengarahkan para PKL yang terkena penertiban oleh satpol PP untuk dipindah ke sentra PKL Food Colony.
”Karena kalau penertiban bukan ranah kami,” sambungnya.
Anggota Komisi II DPRD Pamekasan Ismail menyatakan dinas terkait harus memiliki langkah taktis agar fasilitas yang menelan anggaran jumbo tersebut tidak mubazir.
Misalnya, dengan melakukan sosialisasi menyeluruh terhadap para PKL.
”Jadi pelan-pelan untuk sosialisasinya, perkenalkan juga kelebihan sentra PKL Food Colony itu,” sarannya. (ail/jup)
Editor : Abdul Basri