PAMEKASAN, RadarMadura.id – Kabupaten Pamekasan sudah berusia 493 tahun. Artinya, tujuh tahun lagi akan menapaki usia abad kelima sejak berdiri pada 1530 Masehi.
Akan tetapi, sejarah panjang Kabupaten Pamekasan bisa dilacak sejak masa kerajaan Majapahit. Wilayah ini terkenal dengan sebutan Pamellengan atau Pamelingan. Rajanya adalah Ki Wonorono keturunan Wikramawardhana (1389–1429).
Ketika pemerintahan Majapahit mulai kacau balau, Pamelingan memisahkan diri dari Majapahit sekitar tahun 1478. Nyi Banu atau yang dikenal sebagai Ratu Pamelingan melanjutkan tampuk pemerintahan ayahnya, yakni Ki Wonorono.
”Setelah itu, bergiliran putra-putra Nyi Banu memegang kursi kepemimpinan. Mulai dari Pangeran Bonorogo, hingga Raden Aryo Seno atau yang dikenal Pangeran Ronggosukowati,” tutur budayawan dan sejarawan Pamekasan Kadarisman Sastrodiwirjo melalui sambungan telepon, Minggu (5/11).
Dia menceritakan, Pangeran Ronggosukowati naik takhta pada 12 Rabiulawal 937 Hijriah atau bertepatan dengan 3 November 1530. Dia merupakan raja pertama yang beragama Islam di Pamekasan.
Semboyan yang terkenal pada masa itu adalah Mekkas Jatna Paksa Jenneng Dibi’ yang berarti memimpin dengan kemampuan sendiri. Menurut Kadarisman, Islam sendiri masuk ke Bumi Ratu Pamelingan ketika zaman Wali Sanga.
Tokoh pendakwahnya, yakni Aryo Menak Senoyo di kawasan Proppo (dulu Parupuh). Salah satu buktinya, berdiri Pesantren Sumber Anyar di Kecamatan Tlanakan pada 1515 Masehi.
Pengajarnya Kiai Syuber, yang diketahui juga menjadi pengajar khusus keluarga raja, karena itu juga dikenal dengan sebutan Keyae Rato.
”Hari jadi Pamekasan itu ditetapkan sesuai dengan proses naik takhtanya Pangeran Ronggosukowati,” terang dia.
Pangeran Ronggosukowati itu memerintah lebih kurang selama 86 tahun. Yakni, dari 1530 Masehi sampai dengan 1616 Masehi. Kemudian digantikan putranya, yakni Pangeran Jimat dan Pangeran Purbaya sebagai wali raja.
Ronggosukowati wafat pada Agustus 1624 bersama hampir seluruh keluarga kerajaan. Tepatnya, ketika melakukan perlawanan kepada Sultan Agung dari Kerajaan Mataram yang hendak menginvasi Pulau Madura.
Diceritakan, dalam pertempuran melawan Kerajaan Mataram, yang selamat saat itu hanya Raden Dhaksena atau Pangeran Gatot Kaca, putra Pangeran Purbaya.
Kelak, dia menjadi Adipati Pamekasan pada1685–1708 dengan gelar Raden Tumenggung Ario Adikoro I. Makam Pangeran Ronggosukowati ada di kawasan Kolpajung.
”Begitu sekilas tentang sejarah hari jadi. Kalau sejarah Pamekasan sangat panjang, butuh berlembar-lembar untuk dituliskan,” jelasnya.
Sementara itu, Pj Bupati Pamekasan Masrukin mengatakan, usia panjang itu merupakan berkah yang harus disyukuri. Terutama sebagai bagian dari masyarakat, dan lebih-lebih oleh jajaran pemerintah sendiri.
”Tentu, kita semua patut bersyukur, ini merupakan nikmat besar yang dianugerahkan untuk kita semua sebagai bagian dari Kabupaten Pamekasan,” kata Masrukin kepada JPRM.
Masrukin berharap, masyarakat Kabupaten Pamekasan hadir bersama-sama dengan pemerintah mengawal pembangunan.
Dengan demikian, nilai harmoni bisa dicapai untuk memajukan Bumi Gerbang Salam. Terutama bagi kalangan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) sendiri.
Menurutnya, tanpa kerja sama yang baik, pembangunan Kabupaten Pamekasan sulit tercapai. Untuk itu, dibutuhkan komitmen yang kuat dari semua pihak. ”Spirit kebersamaan melalui Pamekasan Harmoni harus benar-benar terwujud,” katanya.
Dia menegaskan, Pamekasan merupakan daerah dengan beragam potensi. Untuk itu, potensi-potensi tersebut harus dikelola secara bersama-sama untuk kepentingan masyarakat yang makmur dan sejahtera.
”Wujud syukur kita itu harus nyata, termasuk tindakan dalam mengembangkan potensi-potensi Pamekasan di berbagai sektor. Itu semua harus bertumpu dengan spirit harmoni untuk masyarakat yang makmur dan sejahtera,” tandasnya. (di/pen)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia