PAMEKASAN, RadarMadura.id – Suasana di pintu masuk Jalan Pintu Gerbang, Gang VII, begitu sunyi Rabu (20/9). Kendaraan yang berlalu-lalang malam itu tidak terlalu ramai. Menuju arah barat di gerbang tersebut terdapat sebuah permukiman.
Lukisan berbentuk topeng ghetta’ tertata rapi menghiasi dinding bangunan itu. Di situlah markas Sanggar Seni Makan Ati (Madura Kandang Aktivitas dan Kreativitas). Saat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) sampai di sanggar, pria berambut panjang itu mempersilakan masuk.
Dialah Marsiono, pendiri dan pelestari topeng ghetta’. Dia menjelaskan, topeng ghetta’ sudah ada sejak dirinya belum lahir. ”Karena saat saya kecil tari topeng ghetta’ sudah ada,” kata pria kelahiran 1977 itu.
Para penari topeng ghetta’ mulai berdatangan satu per satu memasuki pintu sanggar di sebelah utara. Topeng ghetta’ dan atribut penari yang tersimpan di lemari sebelah barat mulai diambil satu per satu. Para penari mulai memasang atribut dan topeng untuk memainkan dan berlatih topeng ghetta’.
Sembari menunjukkan topeng ghetta’, Marsiono menjelaskan bahwa topeng itu melambangkan sikap gagah seorang pria. Kegagahan seorang pria yang digambarkan dalam topeng ghetta’ memiliki karakter tersendiri. ”Yakni, pantang menyerah dan pantang mundur,” ucapnya sambil menyuguhkan secangkir kopi.
Suami Rukmi Ningsih itu memaparkan, tari topeng ghetta’ di zaman dulu biasa dipakai pada acara hajatan. Seperti mantenan dan pembuka sandur sebagai hiburan masyarakat.
Tari topeng ghetta’ berasal dari nama gagah (gaga’, bahasa Madura) dan bunyi ta’ berasal dari musik pengiring tarian tersebut. Dengan begitu, tari topeng ghetta’ dapat dianalogikan dari pria gagah yang menunjukkan kegagahannya dengan menari lewat iringan musik. ”Pengiring musik terdiri dari gendang, saronen, kenong 3, gong, dan car-car,” ujar bapak dari dua anak itu.
Menurutnya, tari topeng ghetta’ boleh dimainkan oleh siapa saja. Baik perempuan maupun laki-laki. Di sanggar yang didirikan 1999 itu dia mengajarkan tari topeng ghetta’ pada anak muda. Sebab, merekalah yang akan menjadi pewaris selanjutnya.
”Jika bukan mereka, siapa lagi yang akan melestarikan warisan nenek moyang ini,” ujarnya.
Dia menambahkan, setiap anak muda yang menjadi anak didiknya di sanggar diwajibkan untuk belajar tari topeng ghetta’. Sebab, tari tersebut tetap lestari dengan baik saat ditanamkan pada anak muda. ”Sehingga, tidak mudah punah dan musnah tergilas zaman,” ujarnya.
Pria asal Desa Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan, itu mengungkapkan, untuk melestarikan tari topeng ghetta’ terhadap anak muda tidaklah mudah. Mesti memutar otak untuk memancing anak didik agar mencintai warisan leluhur tersebut.
”Mesti dipancing dengan kesenangan dan karakter mereka secara sedikit demi sedikit. Dengan demikian dapat tertanam kecintaan mereka terhadap kesenian Madura,” pungkasnya. (bai/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia