MAKKAH – Di Kota Makkah terdapat banyak tempat bersejarah. Khususnya berkenaan dengan perjuangan Nabi Muhammad dan umat Islam saat itu. Di antaranya, Jabal Tsur. Calon jamaah haji (CJH) asal Pamekasan yang tergabung dalam KBIH Al-Khairat mengunjungi tempat bersejarah itu kemarin (22/7).
”Alhamdulillah kami mengunjungi Jabal Tsur. Kami ziarah ke Gua Tsur dan dipimpin langung oleh KH Hannan sebagai pengasuh Ponpes Puncak Darus Salam,” terang Kiai Khairul Umam Hisyam selaku pembimbing KBIH Al-Khairat.
Umam menjelaskan, Jabal Tsur menjadi saksi sejarah keajaiban yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Di gua yang berada di Jabal Tsur itulah Rasulullah SAW diselamatkan dari orang Quraisy yang mengejarnya. Ketika itu Rasulullah dan para sahabatnya akan hijrah dari Kota Makkah menuju Madinah.
Hijrah ini dilakukan karena Rasululah mendapatkan banyak ancaman dari kaum kafir. Saat itu merupakan masa yang sangat sulit untuk menegakkan agama Allah. ”Para pemuka Quraisy memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Mereka mengirimkan para pemuda perkasa yang berasal dari tiap-tiap kabilah Quraisy untuk menjadi algojo,” terangnya.
Namun atas kekuasaan Allah, tak seorang pun di antara mereka melihat kepergian Nabi Muhammad SAW. Beliau lalu menuju rumah sahabatnya, yaitu Abu Bakar, untuk melarikan diri ke arah Jabal Tsur. ”Ketika dikejar oleh kaum Quraisy di sekitar Jabal Tsur, Rasulullah pun menemukan Gua Tsur. Selama tiga hari tiga malam Rasulullah bersembunyi di sana,” terangnya.
Saat kaum Quraisy tiba di depan gua, secara ajaib terdapat sarang laba-laba yang menutupi mulut gua, juga sarang burung merpati. Dalam waktu yang sangat singkat, makhluk-makhluk Allah ini melindungi Rasulullah dengan membuat sarang besar yang biasanya harus dibuat dalam waktu lama.
”Gua ini menjadi saksi bisu pengorbanan kaum muslim dan wujud nyata pertolongan Allah,” tuturnya.
Dengan tadabur alam ini, lanjut Umam, CJH diharapkan mengetahui sejarah yang berkenaan langsung dengan Gua Tsur. Kemudian, mereka termotivasi mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW. ”Yaitu, memiliki semangat dalam berdakwah,” tukasnya.
Editor : Abdul Basri