PAMEKASAN – Jarum jam menunjuk angka 09.30. Langit cerah. Angin menerpa pepohonan di area taman bermain Arek Lancor. Satu per satu dedaunan berjatuhan, Jumat (26/1).
Puluhan mahasiswa duduk santai tepat di depan bangunan kuno menghadap arah timur itu. Beberapa di antara mereka mengabadikan momen dengan cara swafoto. Sesekali, terdengar teriakan kecil dari mahasiswa asal Pamekasan itu.
Bangunan bercat kuning tua itu berdiri kokoh. Bangunan tersebut merupakan warisan nenek moyang yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Bangunan yang berdiri sejak 1927 yang berbentuk memanjang itu berisi koleksi benda bersejarah.
Jawa Pos Radar Madura (JPRM) kali pertama berkunjung ke tempat itu pada 2017. Suasananya tidak jauh berbeda. Hanya ada patung berukuran cukup besar di tempat resepsionis.
Selebihnya, tidak ada perubahan pada museum tersebut. Benda-benda bersejarah juga tidak ada penambahan. Bahkan, ruang sempit itu dibiarkan. Padahal, kondisinya semakin sesak dengan benda mengandung edukasi.
Sejumlah barang bersejarah, seperti lesung padi dan alat pertanian lainnya dibiarkan tergeletak di lantai. Bahkan, batu fosil berupa kerang juga tidak terakomodasi dalam almari besar memanjang tempat benda bersejarah dipajang.
Di beberapa sisi, terlihat berantakan. Kursi kayu yang tepat berada di belakang lencak garbung tidak tertata rapi. Bahkan, kereta kencana yang bersebelahan dengan lencak tersebut dijadikan tempat menaruk helm.
Penjaga Museum Mandhilaras Maulidi mengatakan, pada 2016 lalu sempat ada wisman yang berkunjung. Mereka merupakan rombongan pelancong yang menikmati keindahan wisata Madura.
Namun, pada 2017, tidak ada lagi wisman yang berkunjung. Bahkan, wisatawan lokal juga sedikit. Pada awal dibuka, dalam sehari bisa mencapai 20 pengunjung. Tetapi, beberapa tahun terakhir, jumlah pengunjung sangat merosot.
Sehari, hanya 3–4 orang yang datang. Pada waktu tertentu, sama sekali tidak ada pengunjung. ”Jumlah pengunjung setiap hari tidak menentu,” katanya.
Maulidi mengatakan, benda bersejarah di Museum Mandhilaras bukan peninggalan raja. Tetapi, benda-benda milik sesepuh Pamekasan. ”Kalau benda peninggalan raja, kami tidak punya,” katanya.
Pengelola museum juga tidak bisa mengubah bentuk bangunan. Sebab, tempat penyimpanan benda bersejarah itu ditetapkan menjadi cagar budaya. Apalagi, tempat tersebut bukan milik Pemkab Pamekasan.
Pihaknya hanya bisa melakukan perawatan. Maulidi berharap, ke depan lebih banyak wisatawan yang berkunjung. Utamanya, masyarakat Pamekasan agar bisa lebih mengenal sejarah.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pamekasan Achmad Sjaifudin mengatakan, pengembangan museum akan dilakukan. Tahun ini ada penambahan bangunan. Tetapi, penambahan itu dipastikan tidak akan mengubah bentuk.
Selain penambahan bangunan, pemerintah juga akan menambah koleksi benda bersejarah. ”Kami akan memperbaiki pengelolaan museum,” janjinya.
Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Mohammad Sahur berharap, pengelolaan museum lebih dimaksimalkan. Disparbud selaku organisasi perangkat daerah (OPD) yang bertanggung jawab mengelola tempat penyimpanan benda bersejarah itu harus berinovasi.
Kontribusi museum terhadap upaya edukasi juga harus lebih diintensifkan. Disparbud bisa bekerja sama dengan Disdik Pamekasan agar ada waktu khusus bagi siswa belajar tentang sejarah dan budaya. ”Kami dorong pengembangan museum agar lebih baik,” tandasnya.
Editor : Abdul Basri