PAMEKASAN – Ketua Komisi II DPRD Pamekasan Apik menuding pembangunan videotron merupakan produk gagal. Hal itu karena, reklame digital itu hanya ditarget menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 25 juta. Padahal dana yang dihabiskan untuk membangun videotron mencapai Rp 2,3 miliar.
Di Pamekasan, ada dua videotron yang sudah dibangun. Pertama, videotron di sisi selatan Monumen Arek Lancor senilai Rp 693.000.000. Proyek ini tuntas dibangun pada 2014 lalu. Tapi sayang, pembangunan videotron ini tidak sesuai rencana awal.
Pemkab tidak bisa mengomersialkan reklame digital tersebut. Alasannya, videotron ini dibangun di area Arek Lancor yang merupakan zona merah bagi pemasangan iklan. Karena gagal dikomersialkan, pemkab pun membangun videotron lain senilai Rp 1.684.190.000.
Rencana awal akan dibangun di eks stasiun PJKA Jalan Trunojoyo. Area tersebut dinilai strategis dan diperkirakan akan menyedot minat pengusaha untuk pasang iklan. Tetapi karena alasan-alasan nonteknis, pemkab gagal membangun di area tersebut.
Akhirnya pembangunan dipindah lokasi ke Jalan Jokotole, tepatnya di depan kantor Bappeda Pamekasan. Videotron inilah yang tahun ini ditarget menyumbang PAD sebesar Rp 25 juta.
”Sebenarnya, waktu pengajuan untuk pembangunan videotron kedua saya tidak setuju. Tapi pemkab ngotot untuk membangun lagi,” ujar Apik. ”Saya khawatir minat pengusaha untuk memasang iklan di videotron kecil,” tambahnya.
Kekhawatiran Apik terbukti. Saat ini peminat reklame digital itu rendah. Pemkab pun mematok PAD yang sangat kecil dari videotron, yakni Rp 25 juta per tahun. Dengan demikian, butuh puluhan tahun agar proyek tersebut balik modal.
Politikus Partai Nasdem itu menganalogikan, jika setiap tahun PAD videotron dipatok Rp 25 juta, dalam sepuluh tahun hanya menghasilkan Rp 250 juta. Dengan demikian, untuk mencapai Rp 2,3 miliar butuh waktu sekitar 92 tahun baru bisa balik modal.
”Kalaupun target PAD videotron sebesar Rp 100 juta setahun, artinya kan masih butuh waktu 23 tahun agar bisa mencapai Rp 2,3 miliar,” urainya. ”Kalau videotron dipakai lebih dari 20 tahun, saya yakin sudah rusak dan harus diganti yang baru. Dalam hitungan bisnis, videotron ini produk gagal,” tukasnya.
Kepala Diskominfo Pamekasan Bahrun mengungkapkan, target PAD Rp 25 juta itu hanya untuk videotron di Bappeda. Target itu kecil karena baru tahun ini dikomersialkan. Dia yakin ke depan capaian PAD bisa terus meningkat seiring bergulirnya waktu.
Menurut Bahrun, potensi PAD videotron sebenarnya sangat tinggi. Bahkan seandainya 24 jam videotron itu menayangkan iklan swasta, Rp 2,3 miliar akan mudah dicapai. Tapi saat ini masih minim yang tertarik pasang iklan.
”Kalau semua sudah bisa pasang, Rp 2 miliar bisa tercapai. Cuma sekarang tergantung masyarakat dan pengusahanya,” tukas Bahrun.
Editor : Abdul Basri