Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Saatnya Madura Tak Memproklamasikan Monumen Sajam

Hera Marylia Damayanti • Kamis, 18 Januari 2024 | 14:34 WIB
BERPIKIR KRITIS: Pemerhati budaya Januar Herwanto. (DOKUMEN JPRM)
BERPIKIR KRITIS: Pemerhati budaya Januar Herwanto. (DOKUMEN JPRM)

Oleh JANUAR HERWANTO

MUNGKIN kita perlu berkontemplasi mengenai tragedi di Tanjungbumi yang menggegerkan pelosok negeri.

Perang celurit suara berdesing seperti di film silat Drunken Master dipertontonkan di media sosial (medsos).

Saya jadi berpikir sudah waktunya empat kabupaten di Madura tak memproklamasikan monumen-monumen senjata tajam (sajam).

Monumen Arek Lancor di Pamekasan, misalnya, seolah membuat simbol berbau kekerasan.

Sebab, secara visual Arek Lancor yang dimonumenkan itu betul-betul bikin tidak nyaman secara psikologis. Sebuah sajam yang sengaja di-blow up.

Begitu juga Sumenep yang menamakan Kota Keris. Lagi-lagi sajam yang digaungkan. Padahal secara kultur, jauh lebih berabad umur keraton.

Monumen sajam akan berpengaruh secara berjemaah dalam alam bawah sadar masyarakat.

Sajam kekinian adalah ketajaman berpikir dan menumbuhkembangkan perekonomian untuk kesejahteraan bersama.

Sudah waktunya kita tak menganakemaskan sajam sebagai jargon monumen. Kita tebarkan konsep-konsep kesejukan dari falsafah nenek moyang Madura.

Kita berharap pemkab mau me-refresh hal-hal yang tak meneduhkan. Seperti membangun Monumen Ajala Sottra di ruang publik Sumenep. Arek Lancor diperbarui menjadi Monumen Gai’ Bintang.

Kenapa budaya menghargai proses tak pernah dimonumenkan? Seperti se atane atana, se adagang adaging, dll.

Bertani dulu, baru menanak; berdagang dulu, baru bisa makan daging. Kan keren, menggaungkan budaya proses dan etos kerja.

Bila keris disebut benda pusaka, celurit juga bisa dibaptis jadi pusaka. Mengapa kita kok memilih hal-hal yang sangat fisik?

Sumenep sebagai kabupaten kepulauan yang mempunyai keraton begitu saja dilewati.

Ajala Sottra ini kan berjejak pelaut dan keraton. Dan, makna filosofis ajala sottra sangat dalam.

Kebudayaan itu juga menembus ruang dan waktu. Akan lebih menggairahkan jika kita berpikir maju. Misal, kenapa nelayan kita menamakan Bintang Nanggala?

Sebagai petunjuk arah ketika melaut. Nelayan menamakan bintang dengan nama Nanggala yang berbasis petani.

Ini kan menarik. Bintang Tujuh mengacu ke Bintang Biduk atau rasi Ursa Mayor yang penggambarannya ada di relief Candi Borobudur.

Walau dinamakan Seven Sisters atau Bintang Tujuh Bidadari, bintang terang atau bintang yang termasuk dalam gugus ini dalam kacamata astronomi modern jumlahnya jauh lebih banyak dari itu. Nah, nelayan kita menamakan Nanggala.

Jika nenek moyang nelayan sudah astronomy minded, kenapa kita masih jadi penikmat sajam?

Atau kita belajar pada petani garam yang memanfaatkan energi angin untuk proses pembuatan garam. Di sepanjang jalan sangat mudah kita menemukan kincir angin.

Perhatikan lagu Seset Maloko’, isinya berpesan musim. Pertanda akan hadir kemarau. Pesan musin ini juga dituangkan dalam lagu jazz oleh Michael Frank sang prosefor sastra. Dimuat dalam album Dragon Fly Summer.

Saya sangat kecewa, pernah membuat Sundial (jam matahari) dengan konsep Taneyan Elmo, tak sekalipun pernah digunakan sebagai pembelajaran siswa.

Padahal Madura yang berpesta dengan matahari seharusnya memanfaatkan energi yang luar biasa itu untuk menaikkan peradaban dengan open minded.

Bisa dibayangkan jika di Madura banyak pembuat arsitektur publik berbasis sains dan teknologi.

Di situlah kita merasa bangga menjadi bagian yang bisa memasukkan rasa bahagia pada hati generasi mendatang. Move with knowledge. Semoga. (*)

*)Pemerhati budaya

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#memproklamasikan #nenek moyang #monumen #tragedi di Tanjungbumi #sajam #senjata tajam #media sosial #Move with knowledge #medsos