Geely Monjaro EM-i Mulai Ekspansi Global, Siap Tantang SUV PHEV di Eropa

Fadila An Naila • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:08 WIB
Geely Monjaro EM-i (global.geely)
Geely Monjaro EM-i (global.geely)

RadarMadura.id - Geely mulai membuka babak baru untuk Monjaro EM-i dengan menjadikan Mesir sebagai pasar pertama dalam ekspansi globalnya.

Setelah itu, SUV plug-in hybrid (PHEV) berukuran besar tersebut akan diperluas secara bertahap ke pasar global, termasuk Eropa dan Inggris.

Langkah tersebut membuat Monjaro EM-i menarik diperhatikan karena Geely tidak sekadar membawa SUV bermesin bensin ke pasar baru.

Model ini dikembangkan sebagai SUV D-segment dengan sistem elektrifikasi, sehingga berhadapan langsung dengan semakin banyak SUV PHEV asal China yang mulai masuk ke pasar Eropa.

Baca Juga: ALVA N3 Vs Polytron Fox 350, Harga Berdekatan dan Karakter Berbeda, Mana Lebih Masuk Akal?

Geely sendiri belum mengumumkan harga resmi Monjaro EM-i untuk Inggris. Namun, laporan media otomotif Inggris memperkirakan harga awalnya berada di kisaran £40.000-an atau sekitar 40.000 euro, tergantung pasar dan spesifikasi yang nantinya ditawarkan.

Jika angka tersebut terealisasi, posisi Monjaro akan berada cukup jauh di atas Starray EM-i. Di Inggris, Starray EM-i saat ini ditawarkan mulai £29.990, dengan varian tertinggi mencapai £34.990.

Baca Juga: H Mukmin Tak Ambil Poster Tembakau

Perbedaan harga itu masuk akal karena Monjaro memiliki dimensi yang lebih besar dan membawa konfigurasi penggerak yang berbeda. Autocar menyebut Monjaro memiliki panjang sekitar 4.770 mm dan menggunakan sistem hybrid yang menggerakkan kedua as roda, berbeda dari Starray EM-i yang menggunakan penggerak roda depan.

Di atas kertas, konfigurasi tersebut membuat Monjaro lebih menarik bagi konsumen yang membutuhkan SUV keluarga berukuran besar sekaligus menginginkan fleksibilitas PHEV. Mesin pembakaran internal tetap dapat digunakan untuk perjalanan jauh, sementara motor listrik memberikan peluang berkendara lebih senyap dan hemat ketika baterai mencukupi.

Namun, ada satu catatan penting. Geely sejauh ini belum membeberkan seluruh spesifikasi teknis Monjaro EM-i untuk pasar global, termasuk detail kapasitas baterai, output sistem secara keseluruhan, serta jarak tempuh listrik yang akan digunakan untuk versi ekspor. Karena itu, angka performa Starray EM-i belum bisa begitu saja dianggap sebagai spesifikasi Monjaro.

Starray EM-i sendiri menggunakan mesin bensin 1,5 liter yang dipadukan dengan motor listrik dan tersedia dengan baterai LFP 18,4 kWh serta 29,8 kWh. Versi baterai terbesar mampu menempuh hingga 84 mil atau sekitar 135 kilometer dalam mode listrik berdasarkan standar WLTP.

Sistem tersebut menghasilkan tenaga gabungan 193 kW atau sekitar 262 PS, dengan akselerasi 0-62 mph dalam 8 detik. Geely juga membekali Starray dengan kemampuan pengisian cepat DC dan pengisian AC melalui wallbox.

Monjaro EM-i diperkirakan menggunakan keluarga teknologi hybrid yang sama, tetapi dengan konfigurasi yang disesuaikan untuk SUV lebih besar dan sistem e-AWD. Sejumlah laporan menyebut model ini dibangun menggunakan arsitektur GEA Evo dan menjadi salah satu model global Geely yang menawarkan penggerak empat roda elektrik.

Dalam penggunaan sehari-hari, kehadiran sistem PHEV memiliki keuntungan sekaligus konsekuensi. Bagi pemilik yang rutin melakukan perjalanan pendek dan mempunyai akses pengisian listrik di rumah, baterai dapat dimanfaatkan untuk mengurangi penggunaan mesin bensin.

Sebaliknya, jika mobil jarang diisi ulang, keuntungan PHEV dapat berkurang. Bobot baterai tetap harus dibawa sepanjang perjalanan, sementara mesin bensin masih bekerja ketika kapasitas baterai rendah atau ketika mobil membutuhkan tenaga lebih besar.

Hal tersebut menjadi semakin relevan untuk konsumen Indonesia. Kondisi lalu lintas perkotaan yang padat memang dapat menguntungkan kendaraan elektrifikasi karena motor listrik mampu bekerja efisien pada kecepatan rendah dan kondisi stop-and-go. Namun, manfaat maksimal baru terasa apabila pola pemakaian dan fasilitas pengisian sesuai dengan karakter kendaraan.

Dari sisi ukuran, Monjaro juga tidak bisa diperlakukan seperti SUV kompak. Panjang hampir 4,8 meter akan memberikan ruang kabin dan proporsi kendaraan yang lebih besar, tetapi konsekuensinya adalah kebutuhan ruang parkir yang lebih luas serta manuver yang tidak sesederhana SUV berukuran lebih kecil.

Di Eropa, tantangan Monjaro tidak ringan. Geely akan berhadapan dengan model seperti Omoda 9, Jaecoo 8, MG HS, BYD Seal U dan Leapmotor C10 yang sama-sama mengincar konsumen SUV elektrifikasi dengan kombinasi harga, teknologi dan kelengkapan fitur.

Persaingan tersebut menunjukkan bahwa keunggulan teknologi saja tidak cukup. Konsumen Eropa juga akan mempertimbangkan efisiensi riil, kenyamanan, kualitas perangkat lunak, keamanan, garansi, jaringan bengkel, ketersediaan suku cadang hingga nilai jual kembali.

Geely sebenarnya sudah mulai membangun fondasi untuk menghadapi persoalan tersebut. Merek ini telah memperluas jaringan ke sejumlah negara Eropa dan pada 2026 menawarkan Starray EM-i serta model listrik E5/EX5 di beberapa pasar. Geely menyebut jaringan Eropa terus diperluas sebagai bagian dari strategi lokalisasi layanan.

Untuk Inggris, Starray EM-i bahkan telah mendapatkan paket garansi delapan tahun atau 125.000 mil. Ini menjadi salah satu aspek penting bagi merek China yang masih membangun kepercayaan konsumen di pasar otomotif yang telah lama dikuasai merek Jepang, Korea dan Eropa.

Bagi calon konsumen, keberadaan garansi panjang tentu menjadi nilai tambah. Namun, garansi tidak otomatis menghilangkan kebutuhan untuk memeriksa jaringan servis dan ketersediaan komponen di lokasi tempat kendaraan digunakan.

Jika suatu saat Monjaro EM-i masuk Indonesia, pertimbangan tersebut justru akan semakin penting. Konsumen sebaiknya tidak hanya melihat kapasitas baterai, jumlah layar atau besarnya tenaga, tetapi juga memastikan bagaimana layanan purna jualnya bekerja setelah masa kepemilikan berjalan beberapa tahun.

Dari perspektif harga, posisi sekitar 40.000 euro akan membuat Monjaro bermain di area yang cukup kompetitif. Mobil tersebut harus menawarkan ruang, kenyamanan, efisiensi dan teknologi yang benar-benar terasa dalam pemakaian untuk membenarkan selisih harga dengan Starray.

Baca Juga: Korban Dugaan Pencabulan Bertambah, Sejumlah Siswi Mulai Speak Up, Polisi Periksa sebagai Saksi

Pada akhirnya, daya tarik terbesar Monjaro EM-i bukan sekadar label PHEV. Model ini menjadi indikasi bahwa Geely mulai mendorong teknologi hybrid ke kelas SUV yang lebih besar dan menjadikannya bagian penting dari strategi ekspansi global.

Untuk konsumen, keputusan membeli nantinya sebaiknya tidak berhenti pada klaim jarak tempuh listrik atau tenaga mesin. Pola perjalanan harian, ketersediaan fasilitas pengisian, biaya perawatan, jaringan bengkel, garansi baterai dan nilai jual kembali tetap menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah SUV PHEV benar-benar ekonomis untuk dimiliki.

Monjaro EM-i sendiri baru memulai perjalanan globalnya. Mesir menjadi pintu pembuka pada akhir Agustus 2026, sementara ekspansi ke Eropa dan Inggris akan menjadi ujian berikutnya bagi Geely untuk membuktikan apakah SUV PHEV berukuran besar tersebut mampu bersaing bukan hanya lewat spesifikasi, tetapi juga melalui pengalaman kepemilikan dalam jangka panjang. (fadila)

Editor : Fadila An Naila
geely Geely Monjaro EM-i SUV PHEV SUV China mobil hybrid