Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Larangan Teknologi dari AS Disebut Jadi Pemicu Kebangkitan Huawei dan Industri Semikonduktor China yang Semakin Mandiri

Syarifatus Sabah • Selasa, 9 Juni 2026 | 12:24 WIB
Huawei menilai pembatasan ekspor chip dari AS
Huawei menilai pembatasan ekspor chip dari AS

 

RadarMadura.id - Keputusan pemerintah Amerika Serikat membatasi akses teknologi terhadap perusahaan China ternyata memunculkan respons yang tidak terduga dari Huawei.

 Perusahaan teknologi raksasa asal China itu justru menyampaikan apresiasi terhadap kebijakan Washington yang selama ini dianggap menekan industri teknologi Negeri Tirai Bambu.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah ketatnya perang teknologi global yang berlangsung sejak 2019.

Huawei menilai pembatasan ekspor chip dari AS malah mempercepat lahirnya inovasi baru di sektor semikonduktor China.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah AS terus memperketat aturan ekspor teknologi strategis ke China.

Pembatasan itu mencakup chip canggih, perangkat lunak desain semikonduktor, hingga mesin produksi chip dari perusahaan-perusahaan Barat.

Kebijakan tersebut awalnya diperkirakan akan melemahkan daya saing Huawei di pasar global. 

Namun situasi justru berkembang di luar dugaan dan mendorong China mempercepat kemandirian teknologi.

Huawei melihat tekanan dari AS sebagai tantangan besar yang memaksa industri domestik bergerak lebih cepat.

Menurut perusahaan tersebut, ketergantungan terhadap teknologi asing kini mulai berkurang karena banyak perusahaan lokal meningkatkan investasi riset dan pengembangan.

 Langkah itu dinilai menjadi fondasi penting bagi masa depan industri semikonduktor China.

Dalam pandangan banyak pengamat, strategi tekanan ekonomi AS justru memberi efek kebangkitan teknologi yang sebelumnya berjalan lebih lambat.

Baca Juga: Bupati Pamekasan Wacanakan Pendidikan Terpadu, Integrasikan Pendidikan Umum dan Agama

Pernyataan menarik datang dari Liang yang mewakili Huawei dalam menanggapi kebijakan tersebut.

 Ia mengatakan pembatasan ekspor dari AS telah memicu perubahan besar dalam pola pengembangan teknologi di China.

“Pembatasan ekspor dari AS memaksa industri China berinvestasi lebih besar dalam inovasi dan pengembangan teknologi inti,” kata Liang sebagaimana dikutip dari Tom’s Hardware, Sabtu (6/6/2026). 

Pernyataan itu menunjukkan Huawei kini lebih fokus membangun kemampuan teknologi secara mandiri.

Di sisi lain, industri semikonduktor China memang menunjukkan perkembangan cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah perusahaan lokal mulai mampu memproduksi chip dengan teknologi yang lebih kompetitif dibanding sebelumnya. Pemerintah China juga terus menggelontorkan dukungan dana besar demi memperkuat rantai pasok teknologi nasional. 

Kondisi tersebut membuat persaingan industri chip global semakin panas.

Banyak analis menilai perang dagang dan teknologi antara AS dan China kini telah memasuki fase baru.

Jika sebelumnya China dianggap sangat bergantung pada teknologi Barat, kini negara tersebut mulai membangun ekosistem mandiri secara agresif. 

Huawei menjadi salah satu simbol bagaimana tekanan eksternal dapat berubah menjadi dorongan inovasi besar. 

Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bahwa pembatasan teknologi tidak selalu menghasilkan dampak sesuai harapan pihak pemberi sanksi.

Meski demikian, tantangan yang dihadapi industri chip China masih cukup besar.

Pengembangan teknologi semikonduktor membutuhkan investasi sangat mahal serta waktu yang panjang.

 Selain itu, perusahaan-perusahaan China masih menghadapi hambatan dalam mendapatkan teknologi manufaktur paling mutakhir.

Namun Huawei optimistis kemampuan industri domestik akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Baca Juga: Bantuan Benih Tembakau Belum Disalurkan, DKPP Sumenep Berdalih Tunggu SK Bupati

Bagi Huawei, momentum ini bukan hanya soal bertahan dari tekanan geopolitik, tetapi juga kesempatan membangun fondasi teknologi yang lebih kuat.

 Perusahaan tersebut kini terus memperluas investasi di bidang kecerdasan buatan, chip, dan sistem operasi mandiri.

 Strategi itu diyakini menjadi langkah penting untuk menghadapi persaingan global yang semakin ketat.

Huawei juga ingin menunjukkan bahwa inovasi tetap bisa tumbuh meski berada di bawah tekanan besar.

Ke depan, hubungan teknologi antara AS dan China diperkirakan masih akan dipenuhi persaingan sengit.

 Namun pernyataan Huawei menandakan bahwa tekanan internasional tidak selalu menghasilkan pelemahan industri.

Sebaliknya, kondisi tersebut justru bisa menjadi pemicu lahirnya inovasi baru yang lebih agresif.

Dunia kini menanti sejauh mana China mampu mengejar dominasi teknologi global dalam beberapa tahun mendatang.(Syarifah) 

Editor : Amin Basiri
#industri semikonduktor #larangan chip AS #teknologi China #amerika serikat #huawei