RadarMadura.id - Pasar mobil bekas Indonesia diprediksi mengalami perubahan besar sepanjang 2026.
Jika sebelumnya mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle menjadi pusat perhatian, kini konsumen justru mulai melirik mobil hybrid bekas sebagai pilihan yang lebih realistis.
Berdasarkan berbagai analisis pasar otomotif, penjualan mobil hybrid bekas diperkirakan akan jauh lebih tinggi dibanding mobil listrik murni.
Faktor harga jual kembali, kepraktisan penggunaan, hingga kekhawatiran soal baterai menjadi alasan utama perubahan tren tersebut.
Hal ini menjadi kabar baik bagi pengguna yang ingin beralih ke kendaraan hemat bahan bakar tanpa harus menghadapi risiko besar di pasar mobil bekas.
Baca Juga: Review Jujur Toyota Innova Zenix Facelift 2026: Benarkah Konsumsi BBM-nya Tembus 30km/Liter?
Nilai Jual Kembali Mobil Hybrid Dinilai Lebih Aman
Salah satu alasan terbesar mobil hybrid lebih diminati adalah nilai depresiasi yang lebih stabil.
Mobil hybrid dinilai memiliki pola penyusutan harga yang mirip dengan mobil bensin konvensional.
Rata rata penurunan harga hybrid berada di kisaran 10 hingga 15 persen per tahun.
Sementara itu mobil listrik bekas disebut mengalami penurunan nilai jauh lebih drastis.
Dalam lima tahun pertama, sebagian EV bisa kehilangan nilai hingga 35 sampai 60 persen.
Sebaliknya mobil hybrid non plug in hanya mengalami penurunan sekitar 40 persen dalam periode yang sama.
Berdasarkan pantauan kami, konsumen Indonesia masih sangat mempertimbangkan resale value sebelum membeli kendaraan.
Karena itu model seperti Toyota Yaris Cross Hybrid dan Innova Zenix Hybrid diprediksi tetap kuat di pasar mobil bekas.
Konsumen Masih Khawatir dengan Kondisi Baterai EV Bekas
Faktor berikutnya adalah kekhawatiran soal kesehatan baterai mobil listrik bekas.
Baterai menjadi komponen paling mahal pada EV modern.
Biaya penggantian baterai bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah tergantung kapasitas dan jenis kendaraan.
Pembeli mobil bekas khawatir kondisi State of Health atau SOH baterai sudah menurun drastis.
Situasi ini berbeda dengan mobil hybrid.
Pada mobil hybrid, kendaraan tetap bisa berjalan menggunakan mesin bensin meskipun sistem elektrifikasi mengalami gangguan tertentu.
Rasa aman seperti ini membuat banyak konsumen lebih percaya diri membeli hybrid bekas dibanding EV bekas.
Hybrid Dinilai Lebih Praktis untuk Kondisi Indonesia
Mobil hybrid juga dianggap lebih cocok dengan kondisi infrastruktur Indonesia saat ini.
Pengguna tidak perlu melakukan pengisian daya eksternal seperti mobil listrik murni.
Pengisian bahan bakar tetap bisa dilakukan di SPBU biasa tanpa bergantung pada SPKLU.
Hal ini penting terutama bagi pengguna yang sering bepergian jarak jauh atau tinggal di daerah dengan infrastruktur charging terbatas.
Banyak pengguna juga mengaku belum nyaman dengan antrean pengisian daya di beberapa SPKLU kota besar.
Karena itu hybrid dianggap menjadi jalan tengah antara efisiensi bahan bakar dan kemudahan penggunaan harian.
Harga Mobil Hybrid Bekas Lebih Masuk Akal
Pada 2026 sejumlah insentif mobil listrik baru dikabarkan mulai berkurang.
Situasi tersebut membuat harga EV baru maupun bekas diprediksi ikut terdongkrak.
Di sisi lain harga mobil hybrid bekas dinilai lebih stabil dan terjangkau untuk konsumen massal.
Penurunan harga yang tidak terlalu ekstrem membuat hybrid terasa lebih aman sebagai aset kendaraan jangka panjang.
Bagi keluarga muda atau pekerja perkotaan, pilihan ini dianggap lebih realistis dibanding membeli EV dengan risiko depresiasi tinggi.
Teknologi Hybrid Dianggap Lebih Matang
Teknologi hybrid kini dianggap lebih matang untuk kondisi jalan dan pola berkendara di Indonesia.
Sistem hybrid sangat efektif digunakan dalam kemacetan stop and go seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung.
Efisiensi bahan bakar bahkan bisa meningkat hingga 30 sampai 40 persen dibanding mobil bensin biasa.
Selain itu bengkel umum juga mulai lebih familiar menangani sistem hybrid dibanding EV.
Biaya servis dan perawatan pun dinilai lebih mudah diprediksi.
Perbandingan Mobil Hybrid Bekas dan EV Bekas di 2026
| Faktor | Mobil Hybrid Bekas | Mobil EV Bekas |
|---|---|---|
| Depresiasi Harga | Lebih stabil | Lebih tinggi |
| Kekhawatiran Baterai | Relatif rendah | Tinggi |
| Infrastruktur | Tidak tergantung SPKLU | Bergantung SPKLU |
| Perawatan | Bengkel lebih banyak | Masih terbatas |
| Kepraktisan Harian | Sangat praktis | Tergantung charging |
| Nilai Jual Kembali | Lebih aman | Fluktuatif |
Baca Juga: Yamaha NMAX Gen 4 Dirilis: Teknologi Transmisi Tanpa Sabuk yang Mengubah Standar Skutik
Melihat tren saat ini, mobil hybrid bekas tampaknya akan menjadi pilihan paling realistis bagi banyak konsumen Indonesia pada 2026.
Efisiensi bahan bakar, harga jual kembali yang stabil, dan kemudahan penggunaan menjadi kombinasi yang sulit disaingi mobil listrik murni.
Sementara EV masih menghadapi tantangan baterai dan infrastruktur, hybrid justru dianggap lebih siap untuk kebutuhan harian masyarakat Indonesia.
Menurut Anda apakah mobil hybrid memang lebih cocok dibanding EV untuk kondisi jalan dan infrastruktur Indonesia saat ini? (fadila)