Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mobil Listrik Makin Ramai di 2026, Tapi Mobil Bekas Justru Tetap Jadi Raja Pilihan Orang Indonesia

Fadila An Naila • Selasa, 5 Mei 2026 | 21:48 WIB
Deretan mobil bekas murah
Deretan mobil bekas murah

RadarMadura.id - Memasuki pertengahan 2026, pasar otomotif Indonesia menunjukkan fenomena yang cukup unik. Pertumbuhan kendaraan listrik atau EV yang semakin agresif.

Namun di sisi lain, transaksi mobil bekas justru tetap mendominasi pasar otomotif nasional.

Data dari OLXmobbi menunjukkan bahwa mobil bekas masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia di berbagai segmen harga.

Berdasarkan pantauan kami, kondisi ini menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan listrik belum sepenuhnya mengubah pola pikir konsumen Indonesia.

Baca Juga: Adu Fitur Hedon NMAX Turbo dan Honda PCX 160, Satu Agresif Satunya Super Nyaman Buat Perjalanan Jauh

Mobil Listrik Semakin Murah, Tapi Mobil Bekas Masih Lebih Masuk Akal

Harga mobil listrik di 2026 memang mulai turun dibanding beberapa tahun lalu.

Insentif pemerintah dan produksi baterai lokal membuat harga EV semakin kompetitif.

Beberapa model bahkan mulai masuk ke rentang harga yang lebih terjangkau.

Meski begitu, mayoritas daya beli masyarakat Indonesia masih terkonsentrasi di kisaran Rp150 juta hingga Rp250 juta.

Di rentang harga tersebut, banyak konsumen lebih memilih mobil bensin bekas dengan spesifikasi lebih tinggi.

Mobil bekas di kelas itu biasanya menawarkan dimensi lebih besar, fitur lebih lengkap, dan kenyamanan yang sudah teruji.

Sementara banyak EV entry level masih memiliki keterbatasan pada ukuran maupun fitur.

Menurut pengamatan kami, konsumen Indonesia masih sangat mempertimbangkan nilai praktis dibanding sekadar tren teknologi terbaru.

Infrastruktur EV Belum Sepenuhnya Meyakinkan

GAIKINDO juga mencatat pertumbuhan infrastruktur SPKLU yang cukup signifikan sepanjang 2026.

Namun pertumbuhan tersebut masih lebih banyak terkonsentrasi di kota besar.

Untuk pengguna di daerah penyangga maupun luar kota, mobil bensin masih dianggap lebih fleksibel.

Stasiun pengisian bahan bakar tersedia hampir di semua wilayah Indonesia.

Sementara SPKLU masih belum merata terutama untuk perjalanan lintas provinsi.

Hal inilah yang membuat banyak konsumen masih merasa lebih aman menggunakan mobil berbahan bakar konvensional.

Faktor peace of mind atau rasa tenang saat berkendara jarak jauh masih menjadi keunggulan utama mobil ICE dan mobil bekas.

Konsumen Masih Mengamati Harga Jual Kembali EV

Salah satu faktor paling penting dalam pasar otomotif Indonesia adalah resale value atau harga jual kembali.

Konsumen Indonesia dikenal sangat sensitif terhadap depresiasi kendaraan.

Mobil bensin bekas selama ini memiliki pola harga yang lebih stabil dan mudah diprediksi.

Sebaliknya, pasar kendaraan listrik masih dianggap belum sepenuhnya matang.

Banyak calon pembeli masih menunggu kepastian bagaimana harga EV setelah digunakan selama tiga hingga lima tahun.

Kekhawatiran terbesar biasanya terkait biaya penggantian baterai dan penurunan performa jangka panjang.

Menurut pengamatan kami, ketidakpastian ini membuat sebagian besar konsumen memilih bermain aman lewat mobil bekas konvensional.

Mobil Bekas Kini Semakin Berkualitas

Naiknya popularitas mobil bekas juga dipengaruhi perubahan besar pada kualitas layanan platform jual beli modern.

OLXmobbi misalnya menghadirkan standar inspeksi kendaraan yang jauh lebih ketat dibanding beberapa tahun lalu.

Konsumen kini bisa mendapatkan mobil bekas dengan sertifikasi inspeksi lengkap.

Beberapa unit bahkan dilengkapi garansi mesin dan transmisi.

Hal tersebut membuat kekhawatiran membeli mobil bekas perlahan mulai berkurang.

Perbedaan pengalaman antara membeli mobil baru dan mobil bekas kini semakin tipis.

Konsumen merasa mendapatkan value for money yang jauh lebih besar lewat mobil bekas berkualitas.

EV Tetap Tumbuh, Tapi Mobil Bekas Belum Tergoyahkan

Meski mobil bekas masih mendominasi, pertumbuhan kendaraan listrik tetap menunjukkan tren positif di Indonesia.

Brand seperti BYD, Wuling, hingga Hyundai terus memperluas pasar EV nasional.

Kesadaran masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan juga mulai meningkat.

Namun realitas ekonomi menunjukkan bahwa keterjangkauan dan fleksibilitas masih menjadi faktor utama pembelian kendaraan di Indonesia.

Baca Juga: Wuling Macaron 2026 Langsung Ludes di IIMS, Ternyata Bukan Cuma karena Harga Murahnya

Perbandingan Faktor Utama EV dan Mobil Bekas 2026

Faktor Kendaraan Listrik Mobil Bekas ICE
Harga Awal Semakin turun Lebih terjangkau
Infrastruktur Belum merata Sangat luas
Biaya Operasional Lebih hemat Standar
Harga Jual Kembali Masih dipantau Relatif stabil
Pilihan Model Terbatas Sangat banyak
Value for Money Tinggi untuk jangka panjang Tinggi untuk pembelian awal

Tahun 2026 menjadi masa transisi penting bagi industri otomotif Indonesia.

Mobil listrik memang terus berkembang dan mulai mendapat tempat di pasar nasional.

Namun mobil bekas tetap membuktikan diri sebagai tulang punggung mobilitas masyarakat Indonesia karena faktor harga, fleksibilitas, dan rasa aman dalam penggunaan jangka panjang.

Menurut Anda, jika memiliki dana sekitar Rp200 jutaan saat ini, lebih menarik membeli EV baru atau mobil bensin bekas dengan spesifikasi lebih tinggi? (fadila)

Editor : Fadila An Naila
#mobil bekas Indonesia #OLXmobbi #tren otomotif 2026 #Mobil listrik 2026