RadarMadura.id - Penjualan mobil listrik BYD Atto 1 menunjukkan tren positif di awal 2026 dengan kenaikan dari 3.361 unit pada Januari menjadi 3.700 unit di Februari.
Di saat yang sama, segmen mobil murah ramah lingkungan atau LCGC justru mengalami penurunan signifikan hingga lebih dari 21 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Fenomena ini menandai mulai berubahnya preferensi konsumen di Indonesia, dari mobil murah konvensional ke kendaraan listrik yang menawarkan teknologi lebih modern dengan selisih harga yang tidak terlalu jauh.
Mobil listrik mulai jadi pilihan realistis masyarakat
Pertumbuhan penjualan BYD Atto 1 mencapai sekitar 10 persen hanya dalam satu bulan.
Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa mobil listrik mulai diterima lebih luas oleh masyarakat.
Berdasarkan pantauan kami, salah satu faktor utama adalah harga yang semakin kompetitif di kisaran Rp 200 jutaan.
Dengan harga tersebut, konsumen kini mendapatkan teknologi yang lebih canggih dibanding mobil bensin entry level.
Hal ini menjadi kabar baik bagi pengguna yang mencari kendaraan hemat operasional di tengah harga bahan bakar yang fluktuatif.
LCGC masih unggul tapi mulai kehilangan momentum
Secara total, LCGC memang masih mencatat angka penjualan lebih tinggi dibanding mobil listrik.
Honda Brio Satya misalnya masih memimpin dengan total distribusi 6.526 unit sepanjang Januari hingga Februari 2026.
Namun jika dilihat secara bulanan, tren penjualannya justru menurun dari 3.430 unit menjadi 3.096 unit.
Penurunan ini juga terjadi pada model lain seperti Calya, Ayla, dan Agya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dominasi LCGC sebagai mobil pertama masyarakat mulai mendapat tekanan dari alternatif baru.
Penurunan signifikan dibanding tahun sebelumnya
Data wholesales menunjukkan bahwa penjualan LCGC pada dua bulan pertama 2026 hanya mencapai 22.106 unit.
Angka ini turun jauh dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 28.147 unit.
Selisih lebih dari 6.000 unit ini mencerminkan penurunan sekitar 21,46 persen yang cukup besar untuk segmen entry level.
Tren ini memperlihatkan bahwa daya tarik LCGC mulai berkurang di tengah perubahan kebutuhan konsumen.
Berdasarkan analisis pasar, konsumen kini lebih mempertimbangkan nilai teknologi dan efisiensi jangka panjang dibanding sekadar harga awal.
Faktor harga dan teknologi jadi penentu utama
Perubahan ini tidak lepas dari semakin terjangkaunya mobil listrik di Indonesia.
Dengan kisaran harga yang tidak jauh berbeda, konsumen mulai melihat mobil listrik sebagai pilihan yang lebih futuristik dan efisien.
Ketua Gaikindo juga menyoroti bahwa masyarakat kini memiliki lebih banyak opsi dalam menentukan kendaraan.
Jika selisih harga tipis namun teknologi lebih unggul, maka peralihan menjadi hal yang wajar.
Dalam konteks Indonesia, hal ini relevan terutama di kota besar yang mulai mendukung ekosistem kendaraan listrik.
Perbandingan data penjualan awal 2026
| Model | Penjualan Januari Februari 2026 |
|---|---|
| BYD Atto 1 | 3.361 naik jadi 3.700 unit |
| Honda Brio Satya | 6.526 unit total |
| Toyota Calya | 3.036 unit |
| Daihatsu Ayla | 3.030 unit |
| Toyota Agya | 1.180 unit |
| Segmen | Total Penjualan |
|---|---|
| LCGC 2025 Jan Feb | 28.147 unit |
| LCGC 2026 Jan Feb | 22.106 unit |
Baca Juga: Gampang Banget! Begini Cara Cek Nama Penerima Bansos Maret 2026 Pakai HP, Saldo Langsung Cair
Tren awal 2026 menunjukkan perubahan arah pasar otomotif Indonesia yang mulai condong ke kendaraan listrik.
Meski LCGC masih bertahan, tekanan dari mobil listrik murah semakin terasa dan berpotensi mengubah peta persaingan ke depan.
Menurut kamu, apakah mobil listrik sudah layak menggantikan LCGC sebagai mobil pertama di Indonesia. (fadila)
Editor : Fadila An Naila