RadarMadura.id - Pasar ponsel lipat global diproyeksikan memasuki fase pemulihan pada 2026 dengan model bergaya buku seperti Samsung Galaxy Z Fold 7 menjadi kontributor utama.
Firma riset Counterpoint Research memperkirakan perangkat model ini akan menyumbang sekitar 65 persen dari total pengiriman foldable sepanjang tahun tersebut.
Momentum ini dipandang sebagai titik balik setelah 2025 dianggap sebagai masa transisi dengan permintaan premium yang masih selektif.
Bagi pasar Indonesia, kabar ini relevan karena segmen premium terus tumbuh, terutama di kota besar seperti Surabaya dan Jakarta yang menjadi barometer tren gadget nasional.
Ponsel lipat kini tak lagi sekadar gaya, tetapi mulai dilihat sebagai alat kerja yang praktis untuk multitasking harian.
Pasar Foldable Masuki Fase Ekspansi Lebih Sehat
Menurut laporan terbaru Counterpoint, 2025 menjadi tahun penyesuaian bagi vendor global.
Produsen menata ulang stok, merapikan strategi produksi, dan berhitung lebih cermat karena konsumen premium masih menahan belanja.
Memasuki 2026, fokus industri berubah dari sekadar desain unik ke nilai fungsional.
Ponsel lipat kini diposisikan sebagai perangkat produktivitas dengan dukungan spesifikasi kelas atas dan konfigurasi memori besar.
Hal ini mendorong harga jual rata rata tetap tinggi namun dinilai sepadan dengan fitur yang ditawarkan.
Berdasarkan pantauan kami, tren ini juga terasa di Indonesia.
Konsumen yang membeli perangkat di atas Rp20 juta biasanya mempertimbangkan daya tahan engsel, kualitas layar, dan performa untuk kerja mobile, bukan sekadar tampilan futuristik.
Galaxy Z Fold 7 Jadi Motor Penggerak
Model bergaya buku seperti Galaxy Z Fold 7 diprediksi menjadi penyumbang terbesar pasar foldable 2026.
Persentasenya disebut naik dari sekitar 52 persen pada 2025 menjadi 65 persen pada 2026.
Kenaikan ini tak lepas dari persepsi konsumen yang mulai melihat perangkat model buku sebagai pengganti tablet mini.
Layar luas memudahkan membuka dua hingga tiga aplikasi sekaligus, membaca dokumen panjang, hingga mengedit presentasi langsung dari ponsel.
Hal ini menjadi kabar baik bagi pengguna yang mencari perangkat kerja fleksibel tanpa harus membawa laptop setiap saat.
Untuk pelaku UMKM atau profesional muda di Indonesia yang sering berpindah lokasi meeting, format ini terasa lebih masuk akal dibanding model lipat vertikal.
Model Flip Mulai Melambat
Sementara itu, model clamshell seperti Samsung Galaxy Z Flip 7 diproyeksikan tumbuh lebih lambat.
Perangkat ini tetap diminati karena ringkas dan stylish, tetapi dinilai lebih sebagai pelengkap gaya hidup.
Dalam beberapa tahun terakhir, model flip memang populer di kalangan pengguna muda.
Namun untuk produktivitas berat, layar yang lebih kecil saat dibuka membuatnya kurang optimal dibanding model buku.
Di Indonesia yang pasar kerjanya makin dinamis, faktor fungsi kini tampak lebih dominan daripada sekadar desain unik.
Apple Siap Masuk Arena
Di semester dua 2026, Apple Inc. disebut akan merilis ponsel lipat pertamanya yang sementara dijuluki iPhone Fold.
Bocoran desain memperlihatkan format lipatan horizontal dengan rasio layar mendekati 1 banding 1,414 yang ideal untuk multitasking.
Jika benar hadir, perangkat ini diyakini akan memperluas pasar foldable secara signifikan.
Namun performanya tetap bergantung pada harga, strategi positioning, serta waktu peluncuran di tiap negara termasuk Indonesia.
Berdasarkan pengalaman kami mengikuti pola rilis Apple sebelumnya, harga akan menjadi faktor krusial.
Bila terlalu tinggi, pasar Indonesia kemungkinan tetap didominasi Samsung yang sudah lebih dulu matang di segmen ini.
Proyeksi Pangsa Pasar Foldable 2026
| Model Foldable | Proyeksi Kontribusi 2026 | Tren Pertumbuhan |
|---|---|---|
| Model Buku seperti Galaxy Z Fold 7 | Sekitar 65 persen | Naik signifikan |
| Model Flip seperti Galaxy Z Flip 7 | Di bawah 35 persen | Cenderung menurun |
| Pendatang Baru seperti iPhone Fold | Belum pasti | Potensi dorong pasar |
Tahun 2026 diperkirakan menjadi momen penting bagi kebangkitan pasar ponsel lipat global dengan Galaxy Z Fold 7 sebagai penggerak utama dan Apple bersiap meramaikan kompetisi.
Pergeseran fokus ke produktivitas membuat segmen ini semakin relevan untuk kebutuhan kerja modern di Indonesia.
Menurut Anda, apakah ponsel lipat sudah layak menjadi perangkat utama sehari hari, atau masih sebatas pelengkap gaya? (fadila)