RadarMadura.id - Kabar kurang sedap datang bagi pengguna ponsel Xiaomi. Menjelang tahap akhir distribusi HyperOS 3 secara global, muncul sinyal kuat bahwa pembaruan sistem berbasis Android 15 ini berpotensi tidak lagi dilanjutkan untuk sejumlah model populer.
Informasi ini mencuat pada awal 2026, ketika mayoritas perangkat lain justru sudah mencicipi versi stabil.
Bagi pengguna di Indonesia, termasuk Madura dan wilayah dengan iklim tropis, kepastian update sistem bukan sekadar fitur baru, tetapi juga menyangkut stabilitas, keamanan, dan umur pakai ponsel untuk kebutuhan harian.
Distribusi HyperOS 3 Mulai Melambat
Sejak akhir 2025, Xiaomi agresif menggulirkan HyperOS 3 ke lini flagship hingga kelas menengah.
Berdasarkan pantauan kami dari komunitas pengguna, sekitar 90 persen perangkat yang masuk daftar eligible sudah menerima pembaruan, setidaknya dalam versi beta.
Namun, memasuki awal 2026, laju pengembangan dilaporkan melambat drastis untuk beberapa model tertentu.
Tidak adanya pembaruan beta lanjutan selama berbulan bulan kerap menjadi pertanda awal bahwa dukungan software sedang dievaluasi ulang.
Baca Juga: HP Stylish dengan Baterai Jumbo, Honor Power 2 Cocok untuk Kerja, Hiburan, dan Aktivitas Harian
Sejumlah Model Masuk Zona Tidak Pasti
Beberapa ponsel yang disebut berpotensi batal menerima HyperOS 3 antara lain
| Merek | Model |
|---|---|
| Xiaomi | Xiaomi 13 Lite |
| Xiaomi | Xiaomi 13T |
| POCO | POCO F5 |
| POCO | POCO F5 Pro |
| Redmi | Redmi Note 12T Pro |
Model model tersebut dilaporkan mandek di tahap pengujian internal atau alpha. Untuk pasar global, beberapa di antaranya merupakan versi rebranding dari pasar Tiongkok, seperti POCO F5 yang dikenal sebagai Redmi Note 12 Turbo.
Hal ini menjadi kabar yang cukup mengecewakan, terutama bagi pengguna kelas menengah yang biasanya berharap siklus update lebih panjang.
Apa Sebenarnya Keunggulan HyperOS 3
HyperOS 3 bukan sekadar pembaruan tampilan. Sistem ini membawa optimalisasi performa berbasis kecerdasan buatan yang menyesuaikan kebiasaan pengguna.
Navigasi terasa lebih halus, animasi lebih ringan, dan konsumsi daya diklaim lebih efisien untuk penggunaan harian.
Fitur Super Island menjadi sorotan utama dengan konsep area interaktif untuk notifikasi dan aktivitas berjalan.
Selain itu, teknologi HyperConnect membuat integrasi antar perangkat Xiaomi semakin mulus, mulai dari ponsel, tablet, wearable, hingga perangkat rumah pintar.
Bagi pengguna di daerah, fitur ini terasa relevan untuk multitasking ringan, pemakaian outdoor, hingga menjaga performa ponsel tetap stabil di suhu panas.
Xiaomi Masih Bungkam
Hingga kini, Xiaomi belum memberikan konfirmasi resmi soal pembatalan update HyperOS 3 untuk model tertentu.
Namun, berdasarkan pola rilis sebelumnya, absennya update beta dalam jangka panjang sering kali berujung pada penghentian dukungan.
Pengguna disarankan rutin memantau status perangkat melalui halaman pelacakan pengembangan HyperOS atau aplikasi pendukung di Play Store untuk pembaruan sistem aplikasi.
Dengan distribusi HyperOS 3 yang hampir rampung, nasib sejumlah ponsel populer kini menjadi tanda tanya besar.
Jika benar update ini dibatalkan, pengguna mau tak mau harus bertahan dengan versi sistem lama lebih lama dari yang diharapkan.
Menurut Anda, apakah Xiaomi perlu lebih transparan soal kebijakan update agar pengguna tidak merasa ditinggalkan? (fadila)
Editor : Fadila An Naila