Hati-Hati!!! Mobile Banking Rentan diretas, Serangan Siber Makin Menggila
Hasan Bashri• Selasa, 23 Juli 2024 | 20:12 WIB
Ilustrasi Mobile M-banking
RadarMadura.id — Mobile banking atau M-Banking, yang seharusnya mempermudah transaksi keuangan, kini menjadi sasaran utama bagi para penipu di ranah digital.
Serangan siber yang semakin agresif telah menghantui masyarakat, menurut laporan terbaru dari firma keamanan siber Kaspersky.
Menurut data yang dirilis, serangan trojan terhadap pengguna mobile banking di platform Android mencapai puncaknya pada tahun lalu, mencatatkan angka sebesar 32%.
Serangan terbesar dilakukan oleh malware Bian.H, yang tersebar luas dengan persentase 22%.
Namun, bukan hanya trojan yang meresahkan pengguna. Modus serangan phishing juga menunjukkan peningkatan signifikan, mencapai 30,68% pada individu dan 27,32% pada korporat.
Dalam skema phishing, para penjahat menggunakan berbagai trik untuk mengelabui korban, termasuk menyamar sebagai toko elektronik yang terkenal, dengan Amazon dan Apple sebagai sasaran utama yang mencatat serangan mencapai 34% dan 18,66% secara berturut-turut.
Tak hanya itu, aset kripto juga tidak luput dari perhatian para penipu, dengan serangan mencapai 16%. Pengguna PayPal juga menjadi target yang signifikan, dengan serangan yang melonjak hingga 54,73%.
Igor Golovin, seorang pakar keamanan dari Kaspersky, mengungkapkan bahwa motif utama di balik serangan ini adalah keuangan.
Para penyerang terus mengembangkan teknik mereka seiring dengan munculnya malware yang semakin canggih dan agresif dalam menyerang perangkat mobile.
"Dalam menghadapi ancaman ini, Kaspersky merekomendasikan pengguna untuk hanya mengunduh aplikasi dari toko aplikasi resmi seperti Play Store atau App Store.
Selain itu, perbarui sistem operasi perangkat secepatnya setelah pembaruan tersedia, dan periksa izin yang diminta aplikasi sebelum memberikannya secara langsung," jelas Golovin.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga turut berperan dalam menanggulangi maraknya penipuan di sektor keuangan.
Melalui edukasi keuangan massif dan penguatan infrastruktur literasi keuangan, OJK berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan risiko dan cara menghindari penipuan finansial.
OJK juga mencatat empat modus penipuan yang paling banyak terjadi, mulai dari phishing melalui pesan WhatsApp hingga penawaran produk palsu yang mengatasnamakan lembaga keuangan resmi.
Upaya ini diharapkan dapat mengurangi angka kasus penipuan finansial yang merugikan masyarakat.
Dengan semakin kompleksnya ancaman di dunia digital, langkah pencegahan yang tepat dan pengetahuan yang cukup menjadi kunci untuk melindungi diri dari serangan siber yang mengintai setiap pengguna mobile banking. (hasan)