Oleh : Nur Ummi Fatayati, M.Psi
Ketika bulan Rabiul Awal tiba, masyarakat di Madura menyambutnya dengan berbagai acara perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw.
Dari jalanan sempit hingga halaman rumah yang luas, suasana terlihat lebih ramai dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.
Rasanya, setiap pintu-pintu rumah masyarakat selalu terbuka untuk menggelar gema sholawatan.
Setiap pagi dan malam, terdengar lantunan sholawat menggema di antara rumah, mushalla dan masjid.
Masyarakat berbondong-bondong menghadiri maulid dari satu majelis ke majelis lainnya.
Hari ini di kampung sebelah, besok di kampung yang lain. Di Madura, semarak menyambut bulan kelahiran Nabi Saw ini, terasa mengalahkan suasana Lebaran.
Di Madura, Maulid Nabi Saw terlihat tidak semata-mata sebagai sebuah perayaan keagamaan. Ia menjelma menjadi peristiwa sosial yang begitu besar.
Menghidupkan kampung, mempertemukan manusia, menggerakkan dapur-dapur rumah tangga, bahkan menghadirkan semacam "ritual kebersamaan" yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, di balik meriahnya hidangan, ramainya undangan, dan semaraknya sholwat, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan: Apa yang sebenarnya kita rayakan?
Secara psikologis, manusia memang membutuhkan momentum untuk berkumpul dan merasakan kebersamaan. Sebuah perayaan memberikan ruang bagi seseorang untuk mengalami emosi positif secara kolektif.
Ketika seseorang berada dalam sebuah kerumunan yang memiliki keyakinan dan tujuan yang sama, muncul perasaan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dalam psikologi sosial, pengalaman semacam ini dapat memperkuat identitas kelompok sekaligus menciptakan rasa memiliki, kata Abraham Maslow ini adalah bagian dari need of belongingness yaitu kebutuhan ke-3 dari hierarki kebutuhan manusia setelah kebutuhan biologis dan rasa aman terpenuhi.
Maulid menghadirkan pengalaman tersebut. Ketika masyarakat duduk bersama, membaca sholawat, mendengarkan kisah Nabi, dan menikmati makanan yang disediakan tuan rumah, sebenarnya terjadi proses psikologis yang sangat manusiawi: kita sedang membangun kembali hubungan dengan sesama.
Hal ini menjadi semakin menarik ketika melihatnya dalam konteks budaya Madura.
Masyarakat Madura dikenal memiliki ikatan sosial yang kuat. Nilai kebersamaan, penghormatan kepada tokoh agama, serta tradisi saling membantu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Dalam konteks ini, Maulid tidak hanya menjadi hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan horizontal antarmanusia.
Orang datang bukan hanya untuk mendengarkan ceramah. Mereka datang untuk bertemu tetangga, kerabat, guru, kiai, dan sahabat.
Mereka membawa sesuatu, berbagi makanan, saling menyapa, dan memperbarui hubungan yang mungkin mulai renggang karena kesibukan sehari-hari.
Dalam budaya Madura, berbagi makanan dalam momentum keagamaan juga memiliki makna sosial yang dalam. Hidangan yang tersaji bukan sekadar persoalan "apa yang dimakan", melainkan simbol penghormatan dan kemurahan hati. Tuan rumah seolah mengatakan kepada tamunya: Anda penting bagi saya, karena itu saya ingin berbagi dengan Anda. Di sinilah Maulid memiliki kekuatan budaya sekaligus psikologis.
Namun, kemeriahan juga menyimpan sisi lain yang perlu direnungkan. Ketika tradisi semakin berkembang, ada kemungkinan perhatian kita bergeser dari makna menuju penampilan.
Perayaan yang semestinya menjadi momentum mengingat keteladanan Nabi bisa berubah menjadi perlombaan tentang siapa yang paling mewah, paling banyak hidangannya, atau paling ramai acaranya.
Tekanan sosial pun dapat muncul. Seseorang mungkin merasa harus mengadakan Maulid karena takut dianggap kurang mampu, kurang peduli, atau tidak mengikuti kebiasaan masyarakat.
Dalam kondisi tertentu, tradisi yang seharusnya memberikan kebahagiaan justru dapat menjadi sumber beban psikologis.
Padahal, Nabi Muhammad SAW tidak hadir dalam sejarah sebagai simbol kemewahan.
Beliau dikenang karena akhlaknya: kejujurannya, kasih sayangnya, kesederhanaannya, kepeduliannya kepada yang lemah, dan kemampuannya membangun persaudaraan.
Maka, mungkin yang perlu kita rayakan bukan sekadar "kelahiran seorang Nabi", tetapi nilai-nilai kenabian yang masih kita perjuangkan dalam kehidupan hari ini.
Jika Maulid membuat kita lebih mudah memaafkan, maka kita sedang merayakan Nabi. Jika Maulid membuat kita lebih peduli kepada tetangga yang kekurangan, maka kita sedang merayakan Nabi.
Jika Maulid membuat anak-anak mengenal selawat sekaligus belajar tentang kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab, maka kita sedang merayakan Nabi.
Dan jika kemeriahan Maulid membuat kita semakin dekat dengan masyarakat, bukan semakin sibuk mempertontonkan diri, maka tradisi tersebut telah menemukan kembali ruhnya.
Pada akhirnya, budaya dan agama tidak harus dipertentangkan. Tradisi Maulid di Madura justru menunjukkan bagaimana agama dapat hidup melalui kebudayaan.
Yang perlu dijaga adalah agar budaya tidak kehilangan nilai, dan agama tidak kehilangan ruh kemanusiaannya.
Mungkin tahun ini kita tetap memasak hidangan yang banyak, tetap menghias tempat acara, tetap mengundang kerabat, dan tetap melantunkan sholawat dengan penuh suka cita.
Tetapi sesekali, di tengah riuhnya acara, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
Setelah Maulid ini selesai, apa yang berubah dari diri kita?
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah perayaan bukanlah seberapa meriah ia berlangsung, tetapi seberapa jauh keteladanan yang kita rayakan mampu hidup dalam perilaku kita sehari-hari. (*)
Editor : Amin Bashiri