Oleh: Moh. Ainorrosi, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Annuqayah
Perbedaan pendapat adalah denyut nadi kehidupan intelektual. Tanpa kritik, ilmu mandek; tanpa etika, kritik berubah menjadi kontestasi kuasa yang steril dari kebenaran.
Maka, ketika sebuah opini melahirkan tanggapan, yang seharusnya lahir bukanlah jurang polarisasi, melainkan jembatan pendewasaan cara berpikir.
Opini dan sanggahan bukanlah dua kubu yang bertikai, melainkan dua sisi mata uang yang sama-sama vital dalam tradisi keilmuan selama keduanya berpijak pada tiga pilar, yaitu argumentasi yang jernih, data yang terverifikasi, dan adab yang menjaga martabat diskursus.
Belakangan ini, publik disuguhi dua tulisan yang menarik: opini berjudul “Bukan Sekadar Mengisi Perut: Makan Bergizi Gratis adalah Investasi Mutlak Generasi Qur’ani” dan satu tulisan tanggapan kritis terhadapnya.
Keduanya hadir dari nalar kepedulian yang sama terhadap masa depan generasi bangsa. Penulis pertama hendak menegaskan urgensi gizi sebagai fondasi praksis pembangunan manusia.
Penulis kedua mengingatkan bahwa generasi Qur’ani tidaklah cukup dibentuk oleh asupan nutrisi semata, melainkan juga oleh ekosistem pendidikan, keteladanan keluarga, lingkungan sosial, pembinaan akhlak, dan internalisasi nilai-nilai keagamaan.
Jika dibaca tanpa kacamata kuat, sesungguhnya kedua gagasan itu tidak berada dalam dikotomi yang saling meniadakan. Mereka berbicara tentang variabel yang berbeda dalam kerangka tujuan yang sama, yakni melahirkan generasi yang sehat fisik, cerdas nalar, dan luhur budi.
Gizi adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditawar. Pendidikan dan pembinaan karakter adalah proses penyempurna yang tak kalah fundamental.
Mempertentangkan keduanya hanya akan mempersempit ruang dialog yang seharusnya diperluas untuk saling memperkaya bukan dipersempit untuk saling menjatuhkan.
Yang patut menjadi perhatian kritis bukanlah isi kedua tulisan semata, melainkan bagaimana argumentasi itu dikonstruksi dan disampaikan.
Dalam tulisan tanggapan, terdapat sejumlah kritik yang layak diapresiasi, terutama ketika ia mengingatkan bahwa penggunaan kata “mutlak” dalam ranah ilmiah memerlukan takrif yang cermat agar tidak jatuh pada kesan doktriner yang anti kritik. Kritik semacam ini adalah oksigen bagi proses akademik yang sehat.
Namun, sebuah kritik juga memiliki tanggung jawab epistemologis. Ia tidak cukup hanya menunjukkan kelemahan logika lawan tetapi ia harus mampu menghadirkan tesis tandingan yang setimpal kekuatan pembuktiannya.
Kritik yang dipenuhi dengan pertanyaan retoris tanpa ditopang data empiris atau kajian komparatif berisiko mengalihkan fokus publik dari pencarian kebenaran substantif ke permainan opini.
Disinilah pentingnya menjaga keseimbangan antara daya tarik retorika dan integritas pembuktian. Diskursus publik yang sehat tidak dibangun oleh siapa yang pandai bertanya, tetapi oleh siapa yang mampu menjawab dengan fakta.
Kritik terhadap sebuah tulisan tentu tidak berhenti pada ketepatan pemilihan diksi ataupun konsistensi logika penulis.
Hal yang tidak kalah penting adalah menempatkan pembahasan pada substansi persoalan yang sedang dibicarakan.
Dalam konteks Program Makan Bergizi Gratis, misalnya, ruang diskusi akan menjadi lebih kaya apabila disertai analisis mengenai implementasi kebijakan, capaian yang telah diraih, tantangan yang dihadapi, serta data empiris yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, kritik tidak hanya menguji kekuatan retorika sebuah tulisan, tetapi juga menguji sejauh mana gagasan tersebut selaras dengan realitas di lapangan.
Hal lain yang tak kalah penting adalah pesan yang ditangkap oleh pembaca. Sebuah tulisan sanggahan yang ideal membantu pembaca melihat persoalan secara lebih utuh sebagai cermin, bukan sebagai pisau.
Namun, jika narasi yang dibangun lebih dominan menyoroti kelemahan satu pihak tanpa memberi pengakuan pada bagian-bagian yang benar, maka pembaca dapat terdorong untuk masuk ke dalam kubifikasi pro dan kontra.
Padahal, tujuan utama sebuah sanggahan bukanlah merekrut pendukung, melainkan membangkitkan nalar kritis. Ia seharusnya menjadi undangan untuk berpikir, bukan panggilan untuk berpihak.
Budaya literasi yang sehat tidak tumbuh dari kemenangan satu pihak atas pihak lain. Ia tumbuh dari keberanian intelektual untuk mengakui bahwa lawan diskusi pun dapat memiliki kebenaran parsial.
Mengakui kebenaran lawan bukanlah tanda kekalahan, melainkan penanda kedewasaan berpikir. Sebaliknya, mencari-cari kesalahan tanpa memberi petunjuk bagian mana ruang yang sisinya benar justru akan menggerus objektivitas dan kredibilitas tulisan itu sendiri.
Dalam tradisi akademik, kritik yang baik setidaknya memenuhi tiga syarat. Pertama, mengkritik gagasan, bukan pribadi.
Kedua, menyertakan data, referensi, atau fakta yang terverifikasi. Ketiga, menawarkan alternatif solusi, bukan sekadar daftar kekurangan. Dengan demikian, kritik menjelma sebagai alat penyempurnaan, bukan senjata perdebatan.
Di sisi lain, penulis opini pun perlu menyadari bahwa penggunaan istilah yang terlalu absolut seperti kata “mutlak”.
Hal tersebut membuka peluang interpretasi yang berlebihan. Pemilihan diksi yang proporsional dan kontekstual akan membuat gagasan lebih mudah diterima dan tidak menimbulkan salah paham yang tidak perlu.
Ketelitian berbahasa adalah bagian dari tanggung jawab etis penulis terhadap pembacanya, karena kata yang salah pilih dapat mengaburkan maksud suatu tulisan.
Pada akhirnya, baik opini maupun sanggahan hendaknya dimaknai sebagai ikhtiar kolektif dalam pencarian kebenaran.
Keduanya bukan arena adu kekuatan retorika, melainkan ruang untuk saling melengkapi dan mengoreksi dengan baik. Sebab, ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari suara yang paling keras, melainkan dari argumentasi yang paling jujur.
Kritik yang baik tidak membuat orang merasa dikalahkan, tetapi mengajak semua pihak menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan.
Sudah saatnya budaya menulis kita bertransformasi: dari sekadar bertanya “siapa yang benar” menuju “apa yang paling benar”. Dari kebiasaan membangun kubu menuju kebiasaan membangun pemahaman.
Dari obsesi memenangkan opini menuju komitmen menghadirkan solusi. Karena pada hakikatnya, tulisan yang paling bernilai bukanlah yang berhasil memperbanyak pembaca yang setuju, melainkan yang mampu memperluas cakrawala berpikir pembacanya tanpa kehilangan arah, tanpa meninggalkan objektivitas, dan tanpa merenggut penghormatan kepada sesama pencari kebenaran. (*/han)
Editor : Amin Basiri