Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Manasik Haji Santri IBS PKMKK: Laboratorium Peradaban Spiritual dan Transformasi Kesadaran Ibadah

Amin Basiri • Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:25 WIB
Achmad Muhlis
Achmad Muhlis

Oleh:Achmad Muhlis (Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam/Direktur Utama IBS PKMKK)

DI tengah arus modernitas yang sering menjadikan pendidikan agama hanya berhenti pada hafalan konsep dan rutinitas formalitas ibadah, Islamic Boarding School  Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) kembali menunjukkan bahwa pendidikan Islam sejatinya bukan hanya proses transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan kesadaran spiritual, sosial, dan psikologis manusia secara utuh.

Hal itu tampak dalam pelaksanaan praktik manasik haji dan umrah yang dilaksanakan pada tanggal 24–26 Mei 2026 di kompleks IBS PKMKK dengan melibatkan seluruh santri MTs dan MA Kyai Mudrikah Kembang Kuning yang berjumlah 326 peserta.

Kegiatan ini bukan sekadar simulasi ritual keagamaan biasa, melainkan sebuah proses pendidikan transformatif yang dirancang melalui tahapan pembelajaran yang sistematis dan mendalam.

Tahap pertama dimulai dengan pembelajaran elemen keterampilan proses manasik haji, dilanjutkan tahap kedua berupa assessment keterampilan proses pada materi manasik haji dan umrah, kemudian disempurnakan dengan tahap ketiga berupa simulasi pelaksanaan ibadah haji dan umrah secara langsung.

Keseluruhan proses tersebut dibimbing oleh para pembimbing yang tidak hanya memiliki kapasitas akademik, tetapi juga kompetensi profesional sebagai pembimbing haji dan umrah bersertifikat, di antaranya Prof. Dr. H. Achmad Muhlis, M.A., Dr. H. Mohammad Holis, M.Si., Dr. Heni Listiana, M.Pd., Hj. Wiqayah Hilmi, S.S., Hj. Nurul Umayah, Abd Qadir Maliki, M.Ag., Ahmad Humaidi, M.Pd., dan Samsul Arifin, S.Kom.

Praktik manasik haji dalam dunia pendidikan Islam sesungguhnya bukan sekadar latihan teknis memahami rukun dan wajib haji, tetapi merupakan proses internalisasi nilai-nilai ketundukan, pengorbanan, disiplin spiritual, solidaritas kemanusiaan, dan kesadaran eksistensial manusia di hadapan Tuhan.

Dalam ibadah haji, manusia tidak hanya diajarkan bergerak secara fisik dari satu titik ke titik lain, tetapi juga diajarkan bergerak secara batin dari egoisme menuju kepasrahan, dari individualisme menuju kesadaran kolektif, dan dari identitas sosial menuju kesetaraan spiritual.

IBS PKMKK tampaknya memahami bahwa pembelajaran manasik tidak cukup dilakukan hanya melalui ceramah teoritis di ruang kelas.

Manasik harus dihadirkan sebagai pengalaman sosial dan pengalaman psikologis yang hidup. Ketika santri mempraktikkan thawaf, sa’i, wukuf, dan lempar jumrah dalam simulasi yang terstruktur, sesungguhnya mereka sedang dilatih membangun spiritual imagination, yaitu kemampuan membayangkan dan merasakan makna ibadah secara lebih mendalam.

Dalam perspektif psikologi pendidikan, pengalaman langsung seperti ini jauh lebih efektif membentuk kesadaran religius dibanding pembelajaran verbal semata.

Tahapan pertama berupa pembelajaran elemen keterampilan proses manasik menunjukkan bahwa pendidikan agama di IBS PKMKK dibangun dengan pendekatan pedagogi modern yang menempatkan peserta didik bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi sebagai subjek aktif pembelajaran.

Santri tidak hanya diminta mengetahui tata cara ibadah, tetapi juga memahami logika, urutan, dan makna dari setiap proses ibadah tersebut.

Dalam pendekatan sosiologi pendidikan, model pembelajaran seperti ini sangat penting karena membentuk kesadaran reflektif, bukan sekadar kepatuhan ritualistik.

Pada tahap kedua, pelaksanaan assessment keterampilan proses menunjukkan bahwa pendidikan ibadah di IBS PKMKK tidak berhenti pada romantisme spiritual semata, tetapi juga dibangun melalui budaya evaluasi akademik yang serius.

Hal ini sangat penting dalam dunia pendidikan Islam modern. Sebab salah satu problem pendidikan agama selama ini adalah minimnya evaluasi berbasis kompetensi praktik dan kesadaran nilai.

Akibatnya, banyak peserta didik memahami agama secara tekstual, tetapi tidak mampu mengimplementasikan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan nyata.

Melalui assessment tersebut, para santri dilatih untuk memahami bahwa ibadah memerlukan kedisiplinan, ketelitian, tanggung jawab, dan kesiapan mental.

Dalam perspektif psikologi sosial, proses evaluasi seperti ini membentuk self regulation, yaitu kemampuan individu mengontrol perilaku dan kesadarannya sendiri dalam menjalankan tanggung jawab spiritual.

Pendidikan agama yang berhasil bukan hanya melahirkan manusia yang tahu tentang ibadah, tetapi manusia yang mampu mendisiplinkan dirinya melalui ibadah.

Tahap ketiga berupa simulasi pelaksanaan ibadah haji dan umrah menjadi puncak dari keseluruhan proses pendidikan tersebut.

Dalam simulasi itu, para santri tidak hanya bergerak mengikuti instruksi, tetapi mengalami pengalaman kolektif yang sangat kuat secara emosional dan sosial.

Ketika ratusan santri mengenakan pakaian yang seragam, bergerak bersama, membaca talbiyah, dan menjalankan rangkaian ibadah secara kolektif, sesungguhnya mereka sedang mengalami proses pembentukan identitas sosial keagamaan.

Ritual kolektif seperti ini menurut Durhem memiliki fungsi membangun solidaritas sosial dan kesadaran kolektif (collective consciousness).

Manusia merasa menjadi bagian dari komunitas spiritual yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Inilah salah satu makna terdalam ibadah haji: manusia belajar bahwa di hadapan Allah semua status sosial melebur menjadi kesetaraan kemanusiaan.

Simulasi manasik juga memiliki dampak besar terhadap perkembangan emosi spiritual santri. Usia remaja merupakan fase pencarian identitas yang sangat kuat.

Jika pada fase ini mereka diperkenalkan pada pengalaman spiritual yang mendalam dan bermakna, maka nilai-nilai religius akan lebih mudah tertanam menjadi bagian dari struktur kepribadian mereka.

Karena itu, praktik manasik bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi investasi psikologis jangka panjang dalam membangun karakter santri.

Menariknya dalam kegiatan ini adalah keterlibatan para pembimbing yang memiliki kombinasi antara kapasitas akademik dan sertifikasi profesional pembimbing haji dan umrah.

Hal ini menunjukkan bahwa IBS PKMKK sedang membangun model pendidikan Islam integratif yang menghubungkan antara ilmu, praktik profesional, dan pengalaman spiritual.

Dalam dunia pendidikan modern, integrasi seperti ini sangat penting karena peserta didik membutuhkan figur yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman praksis dan keteladanan nyata.

Kehadiran Prof. Dr. H. Achmad Muhlis, M.A. dan para pembimbing lainnya menunjukkan bahwa pendidikan spiritual di IBS PKMKK tidak dipandang sebagai kegiatan tambahan, tetapi sebagai bagian inti dari proses pembentukan peradaban santri.

Dalam perspektif sosiologi Islam, pesantren memang tidak hanya bertugas mencetak manusia cerdas secara akademik, tetapi juga membangun manusia yang memiliki orientasi hidup spiritual, tanggung jawab sosial, dan kesadaran moral.

Praktik manasik ini sesungguhnya merupakan bentuk pendidikan peradaban. Sebab haji bukan hanya ritual individual, tetapi simbol perjalanan manusia menuju kesadaran universal tentang persaudaraan, kesetaraan, dan ketundukan kepada Tuhan.

Ketika nilai-nilai itu ditanamkan sejak dini kepada para santri, maka yang sedang dibangun bukan hanya kemampuan menjalankan ibadah, tetapi karakter kepemimpinan spiritual yang kelak akan memengaruhi kehidupan sosial mereka di masa depan.

IBS PKMKK tampaknya memahami bahwa masa depan pendidikan Islam tidak cukup hanya melahirkan generasi yang pintar berbicara tentang agama, tetapi generasi yang mampu merasakan agama sebagai energi transformasi diri dan transformasi sosial.

Dan praktik manasik ini menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana pendidikan agama dapat dihadirkan secara hidup, reflektif, dan menyentuh dimensi terdalam kemanusiaan.

Kegiatan manasik haji dan umrah ini bukan sekadar agenda pendidikan formal, melainkan laboratorium spiritual yang mempertemukan ilmu, pengalaman, emosi, disiplin, dan kesadaran sosial dalam satu proses pendidikan yang utuh.

Di tempat itulah para santri tidak hanya belajar menjadi calon jamaah haji, tetapi belajar menjadi manusia yang memahami perjalanan hidupnya sebagai perjalanan menuju Tuhan. (*/han)

Editor : Amin Basiri
#ibs pmkk #Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning