Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Andai Kartini Kembali Hidup di Masa Kini

Amin Basiri • Sabtu, 25 April 2026 | 18:54 WIB
Umarul Faruk, M.Psi
Umarul Faruk, M.Psi

 

Oleh: Umarul Faruk, M.Psi. (Dosen UIN Madura)

SEMPAT terbayangkan saat pagi di halaman kampus. Tepat di tengah keramaian mahasiswa yang berjalan sambil menatap layar handphone, ada yang sibuk dengan media sosial, ada juga yang sibuk mencari referensi untuk persiapan presentasi, tiba-tiba hadir sosok perempuan dengan memakai kebaya sederhana dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

Ia memerhatikan semua yang ada di sekitarnya, gedung-gedung tinggi, orang-orang yang sibuk dengan handphone-nya, dan ruang belajar yang kini sudah dipenuhi dengan media teknologi. Sosok itu adalah Raden Ajeng Kartini. Coba kita bayangkan tentangnya.

Panggung Sosial di Era Digital

Dalam konteks psikologi, diakui dan dihargai merupakan bentuk kebutuhan setiap manusia yang dikenal sebagai social validation.

Di era digital saat ini, hal tersebut sudah menemukan panggungnya. 

Banyak orang berkompetisi menjadi terbaik versi dirinya, baik melalui penampilan, gaya, dan aktivitas yang sekiranya menarik perhatian. Bahkan, mahasiswa pun juga tidak luput dari fenomena seperti ini. 

Penampilan menjadi bahasa pertama yang berbicara sebelum keilmuan sempat menjelaskan siapa diri mereka.

Andai Kartini hidup hari ini, kemungkinan ia tersenyum melihat keadaan saat ini. Betapa luasnya akses pendidikan.

Perempuan tidak lagi dibatasi untuk belajar, banyak perempuan yang sudah mengenyam pendidikan hingga tingkat universitas yang dulu hanya bisa diimpikan. 

Namun, di balik kekaguman itu, ada kemungkinan ia akan bertanya, apakah kesempatan yang sudah sangat luas ini benar-benar dimanfaatkan?

Gaya hidup dan Motivasi Belajar

Sudah terbiasa mata kita melihat style para pelajar termasuk mahasiswa yang modis dan penuh percaya diri, namun yang perlu dipertanyakan di era saat ini apakah minat belajarnya juga seimbang dengan style-nya?

Hal ini menjadi evaluasi bagi kita semua, guru, orang tua, berkaitan dengan hal tersebut tugas kita adalah bagaimana memberikan saran pada mereka agar menyeimbangkan gaya dan minat belajarnya.

Fenomena ini bukan sekadar soal kemampuan akademik, tetapi juga menunjukkan bagaimana prioritas mulai bergeser.

tidak ada yang salah dengan style yang mengikuti tren. Bahkan, penampilan yang baik dan sesuai dengan aturan akan meningkatkan rasa percaya diri.

Namun, yang menjadi persoalan ketika gaya menjadi tujuan, bukan lagi sebagai bagian dari motivasi belajar.

Maka, lembaga yang seharusnya menjadi ruang untuk tumbuh secara intelektual, perlahan akan berubah menjadi ruang eksistensi sosial.

Andai Kartini duduk di dalam kelas hari ini, mungkin ia tidak langsung mengkritik. Namun mencoba mengamati, mendengar, dan kemudian bertanya dengan pertanyaan sederhana: apakah kalian belajar untuk memahami materi, atau hanya belajar agar terlihat mampu saja?

Makna Emansipasi di tengah Kemudahan

Banyak pertanyaan tentang makna emansipasi, pertanyaan itu terasa sangat ringan, namun menyentuh pada inti dari pendidikan itu sendiri.

Perjuangan Kartini agar perempuan memiliki kesempatan belajar, bukan sekadar tampil di ruang publik. Ia berharap perempuan yang berpikir bukan hanya perempuan yang terlihat.

Melihat kondisi hari ini, kita hidup dalam kemudahan yang tidak pernah ia rasakan. Segala sesuatu sudah berada dalam genggaman tangan, tinggal goyangkan jari semua akan terbuka luas termasuk pendidikan, dan kebebasan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, di tengah kemudahan itu, ada banyak tantangan baru yang perlu dihadapi; bagaimana agar tetap memprioritaskan kualitas diri di tengah dorongan untuk tampil.

Dalam penjelasan psikologi modern menyebut kondisi ini sebagai kelebihan informasi dan krisis fokus.

Banyak sekali para pelajar atau mahasiswa yang sangat mudah terdistraksi, sulit mendalami satu hal secara utuh, dan cenderung berpindah dari satu ke yang lainnya dengan cepat.

Dalam hal ini kita sering kali melihat bahwa belajar menjadi aktivitas yang sering kalah menarik dibandingkan dengan hal yang memberikan kepuasan instan.

Andai Kartini benari-benar kembali hari ini, mungkin ia juga akan tergoda dengan hal tersebut, namun, melihat pada semangat Kartini di masa lalu, besar kemungkinan ia akan memilih untuk tetap belajar, membaca, dan menulis, bahkan kemungkinan besar ia akan menggunakan teknologi, namun tetap tidak akan kehilangan arah.

Pada akhirnya, bukan soal apakah Kartini hidup di masa kini. Yang terpenting adalah bagaimana kita memaknai kebebasan yang telah diperjuangkan. Apakah kita menggunakannya untuk berkembang atau hanya untuk terlihat saja?

Pertanyaan ini dirasa layak untuk kita renungkan bersama. Karena di balik setiap style yang ditampilkan oleh pelajar atau mahasiswa, terdapat kesempatan besar untuk menjadi lebih berilmu.

Dan mungkin, jika Kartini benar-benar berdiri di tengah kita hari ini, ia tidak akan menilai dari penampilan saja, tetapi dari cara bagaimana kita berpikir. Wallahu ta’ala A’lam. (*)

Editor : Amin Basiri
#pendidikan #kartini