Oleh: M. Syahirul Ezzy
Catatan ini saya tulis bukan untuk menyalahkan dan menyinggung pihak mana pun.
Saya pribadi hanya berusaha untuk merekam beberapa hal yang saya lihat dan rasakan selama tinggal di pesantren yang sudah cukup tua ini.
Jika ada manfaat yang bisa diambil, semoga dapat menjadi renungan bersama; jika tidak, biarlah ia tetap menjadi salah satu catatan kecil dari seorang santri yang sedang belajar memahami serta berusaha lebih peka terhadap lingkungannya.
***
Sebagai salah seorang santri yang sedang mengemban pendidikan di Annuqayah, saya tergerak untuk menulis catatan ini.
Tiga tahun lebih saya hidup di Annuqayah, sebuah pesantren yang selalu digadang-gadang sebagai pesantren ramah lingkungan.
Secara implisit, klaim ini selalu disebutkan oleh banyak akademisi dalam berbagai literatur akademik.
Mulai dari Royyan Julian (2022) dalam bukunya Madura Niskala, M. Faizi (2020) dalam Merusak Bumi dari Meja Makan, hingga berbagai jurnal serta laporan penelitian.
Tidak dapat dipungkiri, Annuqayah memang memiliki sejarah panjang dalam kepeloporan lingkungan.
Pada 1981, pesantren ini meraih penghargaan Kalpataru atas kontribusinya dalam pelestarian lingkungan hidup. Setelah itu, pada 2008, K. Moh. Khatibul Umam membentuk komunitas Pemulung Sampah Gaul (PSG) di SMA 3 Annuqayah, beliau juga pernah menjadi finalis Grassroots Rising Environmental Education Network (GREEN) Prize Award 2021.
Maret 2023, Lubangsa mendirikan UPT Jatian, sebuah laboratorium pengelolaan sampah yang dikelola oleh para santri.
Dalam waktu relatif singkat, UPT Jatian telah berkembang menjadi rujukan studi ekologi bagi banyak institusi lain.
April 2024, Surat Keputusan (SK) Kementerian Agama tentang penggabungan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) dan Institiut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah menjadi Universitas Annuqayah (UA) terbit.
Kampus ini kemudian mendeklarasikan dirinya sebagai ”Kampus Tata Krama, Berwawasan Lingkungan".
Namum kemudian muncul pertanyaan: dengan berbagai prestasi tersebut, apakah Annuqayah benar-benar layak disebut sebagai pesantren ramah lingkungan? Atau hanya menjadi slogan yang direduksi sebatas pada label saja?
Rabu, 29 Oktober 2025 M, satu hari setelah pelaksanaan Wisuda XXVII Universitas Annuqayah, area sekitar auditorium Asy-Syarqawi penuh sesak dengan sampah sisa acara hingga merembet ke jalan dan selokan sekitar, yang sebelumnya memang tidak pernah benar-benar bersih.
Entah itu memang benar-benar sampah yang dihasilkan oleh acara atau sampah yang dibawa oleh para wali.
Jika sampah tersebut dihasilkan oleh acara, maka saya pikir pelabelan lingkungan memang perlu dipertanyakan kembali.
Namun, bila sampah tersebut dibawa oleh para wali, maka mahasiswa-mahasiswa sepertinya belum punya peran signifikan, bahkan pada keluarga sendiri untuk menimimalisasi sampah.
Pada akhirnya, label lingkungan hanya melekat pada konsep saja, sebab belum termanifestasi pada jiwa para mahasiswanya.
Beberapa hari terakhir saat berjalan menuju kampus, saya melihat beberapa mahasiswa dan dosen di jalan.
Terdengar dari percakapannya, mereka sepertinya akan melakukan penanaman pohon di beberapa titik kampus.
Hingga tulisan ini dibuat, beberapa titik tersebut sudah terlihat berlubang dan sudah ada yang berisi pohon.
Tentu saja saya tidak menafikan bahwa kegiatan ini bagus sekali.
Namun, dalam pandangan saya ada yang lebih penting untuk dilakukan dan sepertinya tidak nampak pada kacamata mereka, atau memang pura-pura tidak melihat.
Ya, apalagi kalau bukan sampah. Di sekitar titik tesebut justru banyak sampah, terutama plastik yang sepertinya memang tidak ada yang peduli.
Penanaman pohon memang penting, tetapi membersihkannya dari sampah adalah sesuatu yang perlu dilakukan terlebih dahulu.
Menghilangkan bau badan dengan parfum bisa-bisa saja, tapi bukankah lebih baik mandi terlebih dahulu baru memakai wewangian?
Kita kemudian dapat beralih pada pesantren daerah di Annuqayah, Latee semisal.
Berdasarkan data bulan Oktober dari Divisi Pengelolaan Sampah PP Annuqayah Latee menunjukkan bahwa Latee Putra menghasilkan kurang lebih 8,8 metrik ton sampah dalam periode waku satu bulan, sedangkan Latee Putri menghasilkan lebih dari 9 metrik ton sampah, dengan rata-rata mencapai lebih dari 290 kg setiap harinya.
Data ini diperoleh hanya dari daerah Latee saja, belum lagi dari daerah-daerah lainnya. Bayangkan saja betapa banyak sampah yang dihasilkan hanya dari satu pondok pesantren saja.
Dari data tersebut, sebenarnya ada hal yang cukup menarik. Jika kita cermati, di Latee Putra, rayon atau kompleks yang menghasilkan sampah dengan angka paling tinggi—mencapai 1,6 metrik ton sampah pada bulan Oktoberternyata adalah rayon KH Ahmad Basyir AS (KBS).
Ironis sekali bahwa ternyata rayon ini justru pernah dinobatkan sebagai kompleks paling bersih oleh KH Moh. Naqib Hasan pada 2019.
Meskipun rayon KBS pernah mendapatkan predikat bersih, data aktual justru menunjukkan bahwa KBS kini menjadi penyumbang sampah terbesar.
Entah apakah ini karena santri rayon KBS memang rajin sekali bersih-bersih, atau justru karena belum ada kesadaran yang fundamental untuk menimalisasi sampah?
Solusi terakhir
Memikirkan solusi ini sebenarnya adalah hal yang terlalu abstrak. Masalahnya, tidak ada solusi yang benar-benar konkret ketika berbicara mengenai pengelolaan sampah.
Sering kali solusi yang ditawarkan hanyalah berupa daur ulang dan pemanfaatan kembali.
Pemecahan melalui model ini sebetulnya hanya bersifat parsial dan tidak memecahkan akar permasalahan.
Artinya, sebagus dan sebaik apa pun pengelolaan yang dilakukan, sampah tidak akan kunjung berakhir jika sejak awal volume yang dihasilkan memang begitu besar, dan kita justru hanya akan berputar-putar di lingkaran setan yang sama.
Apalagi, selama ini, program lingkungan lebih banyak berada pada tataran struktural, seperti penanaman pohon, kegiatan seremonial, atau peringatan hari-hari bertema ekologi.
Sementara itu, dalam kehidupan sehari-hari kita masih menggunakan plastik sekali pakai.
Selama pola ini tidak berubah, selama itu pula kita akan sibuk mengelola sampah tanpa pernah melihat hasil akhir yang cukup berarti.
Upaya-upaya tersebut pada akhirnya mungkin hanyalah sebagai pekerjaan yang sia-sia.
Solusi yang lebih fundamental barangkali perlu diarahkan pada perubahan budaya, meskipun solusi ini, sekali lagi, masih terasa cukup abstrak.
Membangun budaya kesadaran ekologis memang tidak mudah dan mungkin membutuhkan waktu, kebiasaan, serta konsistensi yang tidak sedikit.
Namun sejauh ini, itulah langkah yang tampaknya paling masuk akal, kecuali jika kita memang ingin terus berada pada satu masalah yang sama.
Jika perubahan itu belum terlihat sekarang, mungkin karena memang prosesnya yang sangat panjang.
Pada akhirnya, wacana Annuqayah sebagai pesantren ramah lingkungan tidak seharusnya hanya sebatas meromantisasi sejarah atau membanggakan prestasi masa lalu.
Penghargaan, program, dan slogan hanya akan bermakna jika diwujudkan dalam perilaku sehari-hari warga pesantren.
Jika realitas di lapangan masih dipenuhi tumpukan sampah, dan ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar, maka label ”ramah lingkungan” hanyalah ungkapan yang dangkal.
Oleh karena itu, yang perlu kita renungkan bukanlah seberapa jauh kita dikenal sebagai pesantren yang peduli lingkungan, tapi seberapa jauh kita dapat bersungguh-sungguh merestrukturisasi tradisi, kesadaran, dan way of life kita. (*/han)
Editor : Amin Basiri