Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Ekosistem Pendidikan yang Rapuh

Amin Basiri • Selasa, 27 Januari 2026 | 18:27 WIB
Hamdan Rhama Dani
Hamdan Rhama Dani

Oleh: Hamdan Rhama Dani *

Kasus memilukan terjadi di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada Oktober 2025.

Dua siswa SMP ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di lingkungan sekolah. Hasil penyelidikan menyatakan tidak ditemukan indikasi perundungan dalam peristiwa tersebut.

Temuan ini sekaligus menampar asumsi publik bahwa meningkatnya angka bunuh diri di kalangan pelajar selalu berakar pada bullying.

Tragedi Sawahlunto justru membuka tabir persoalan yang jauh lebih kompleks dan mendasar, yakni rapuhnya ekosistem pendidikan yang seharusnya menopang ketahanan mental siswa.

Selama ini, perbincangan publik cenderung menyederhanakan masalah menjadi ada atau tidaknya perundungan.

Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah runtuhnya jejaring pendukung psikososial anak.

Ekosistem pendidikan tidak berdiri sendiri. Ia dibangun oleh keluarga, sekolah, guru, kurikulum, dan lingkungan sosial yang saling terhubung membentuk jaring pengaman (safety net).

Ketika jaring itu berlubang, anak kehilangan tempat berlabuh, memulihkan diri, bahkan sekadar merasa dimanusiakan.

Salah satu akar persoalan terletak pada kekeliruan memandang kedewasaan anak.

Pendidikan di Indonesia masih kuat dipengaruhi paradigma Barat yang menetapkan usia 18 tahun sebagai batas kedewasaan.

Dalam perspektif Islam, kedewasaan dimulai sejak balig, ketika seseorang telah memikul tanggung jawab moral dan spiritual.

Namun dalam praktik pendidikan kita, anak yang telah balig justru kerap diperlakukan sebagai individu yang dianggap belum mampu memahami arah hidupnya sendiri.

Mereka diseret untuk terus mengikuti teori yang belum tentu relevan dengan masa depan, dipaksa duduk mendengarkan ceramah panjang tanpa ruang dialog, tanpa kesempatan menyampaikan keresahan maupun gagasan.

Siswa lebih sering diposisikan sebagai objek pembelajaran, bukan subjek yang memiliki akal, emosi, dan kapasitas untuk bertumbuh.

Ketika suara siswa tidak diberi tempat, mereka perlahan kehilangan identitas dan jalur komunikasi yang seharusnya menjadi bagian penting dari kesehatan mental.

Persoalan ini kian diperparah oleh mutu pendidikan nasional yang masih tertinggal. Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) menempatkan Indonesia di peringkat 72 dari 77 negara.

Angka ini menjadi indikator bahwa sistem pendidikan kita tengah berjalan di jalur yang keliru. Ironisnya, respons yang muncul hampir selalu sama: mengganti kurikulum.

Setiap pergantian kebijakan, kurikulum seolah dijadikan obat mujarab.

Padahal kurikulum hanyalah peta. Peta tidak akan bermakna jika penggunanya buta arah, jika lingkungan keluarga rapuh, jika masyarakat abai, dan jika guru kehilangan peran sebagai penuntun nilai dan kemanusiaan.

Di luar sekolah, banyak anak memikul beban yang tak terlihat.

Tekanan ekonomi keluarga, perceraian orang tua, hingga rumah tangga yang penuh konflik menjadi badai batin yang jarang tersampaikan.

Dalam diam, mereka bertanya: bagaimana masa depan saya jika kondisi ekonomi keluarga tidak mendukung? Mengapa orang tua saya berpisah? Apakah saya masih dicintai?

Sayangnya, persoalan domestik ini sering disembunyikan dengan dalih agar anak tidak terbebani.

Padahal, yang dibutuhkan bukan menyembunyikan kenyataan, melainkan memperkuat jejaring pendukung, menyediakan ruang dialog, mengajarkan pengelolaan emosi, serta mempersiapkan anak menghadapi realitas hidup dengan kedewasaan bertahap.

Sudah saatnya kita meninggalkan paradigma pendidikan yang tidak relevan, baik yang diadopsi mentah dari Barat maupun yang lahir dari sistem kita sendiri yang terjebak pada pencarian kurikulum ideal tanpa membenahi mentalitas pendidikan.

Orang tua, guru, masyarakat, dan institusi pendidikan harus membangun kolaborasi yang lebih erat.

Pendidikan bukan semata soal nilai ujian, melainkan tentang ketahanan mental dan kematangan berpikir.

Anak perlu diajak berdialog, diberi ruang bertanya, menyampaikan pendapat, dan membangun logika hidupnya sendiri.

Bagi mereka yang memikul beban ekonomi keluarga, dukungan moral harus diperkuat agar pikiran tidak terus terseret dalam kecemasan jangka pendek.

Tragedi Sawahlunto adalah alarm keras bahwa sistem pendidikan kita sedang rapuh.

Tanpa penguatan jejaring sosial, emosional, dan intelektual, kasus serupa berpotensi terus berulang.

Pendidikan akan kehilangan makna jika hanya menjadi ruang belajar tanpa jalinan kemanusiaan.

Kita membutuhkan ekosistem pendidikan yang memandang anak sebagai manusia utuhbukan sekadar murid yang harus patuh, melainkan jiwa yang harus dirawat. (*/han)

*Santri Aktif Semar Ragang Pamekasan sekaligus Ketua Osis MA Nurul Islam

Editor : Amin Basiri